ONE DAY ONE SHIRAH Eps 26 - 30
MATERI 26 JILID 1
GADIS YANG MEMINANG
Sahabat fillahku, setelah penebusan Abdullah, Abdul Muthalib
menggandeng tangan putranya menuju rumah Wahb bin Abdul Manaf. Wahb mempunyai
seorang putri bernama Aminah. Abdul Muthalib sudah sepakat dengan Wahb untuk
menikahkan putra putri mereka.
Namun, di tengah jalan, seorang gadis cantik menegur Abdullah,
"Engkau akan pergi ke mana, wahai Abdullah?"
"Aku akan pergi bersama ayahku."
Tanpa memedulikan Abdul Muthalib, gadis itu berkata,
"Kulihat engkau memang dituntun ayahmu, tak ubahnya seperti seekor unta
yang akan disembelih. Demi engkau, aku akan menerimamu jika engkau mau menikahi
diriku sekarang juga. "
Abdullah terperangah. Ia menatap gadis itu dengan gugup.
"Siapakah gadis ini? Pikir Abdullah, "dilihat dari
pakaiannya yang dipenuhi perhiasan mahal, ia pasti seorang gadis bangsawan.
Matanya yang hitam memancarkan sinar yang teduh seperti yang biasa dimiliki
gadis gadis berperangai lemah lembut dan penuh kasih sayang. Apa yang harus
kukatakan kepadanya?"
Ketika Abdullah menoleh kepada ayahnya, dilihatnya Abdul
Muthalib memberi isyarat agar Abdullah terus melangkah dan tidak menggubris
sang gadis .
"Aku bersama ayahku. Aku tak kuasa menolak kehendaknya dan
berpisah dengannya."
Abdullah kembali berjalan bersama ayahnya. Hatinya dipenuhi rasa
iba dan simpati kepada gadis yang ditinggalkannya. Hari itu juga, Abdul
Muthalib datang ke rumah Wahb bin Abdul Manaf. Mereka sepakat menjodohkan
Abdullah dengan Aminah.
Keesokan harinya, Abdullah bertemu lagi dengan gadis yang
kemarin. Abdullah menyapanya, "Mengapa engkau tidak menyapaku seperti
kemarin?"
Gadis itu menjawab dengan ketus, "Sinar berseri-seri yang
kemarin kulihat pada wajahmu sudah tidak ada lagi. Karena itu, sekarang aku
sudah tidak membutuhkanmu!"
Catatan tambahan
Sinar Kenabian
Sinar berseri-seri yang dilihat sang gadis pada wajah Abdullah menurut sebagian ahli sejarah adalah sinar kenabian yang akan diturunkan Abdullah kepada putranya. Ketika Abdullah dijodohkan dengan Aminah, gadis itu tidak dapat lagi berharap akan memiliki putra yang kelak menjadi nabi.
Sinar Kenabian
Sinar berseri-seri yang dilihat sang gadis pada wajah Abdullah menurut sebagian ahli sejarah adalah sinar kenabian yang akan diturunkan Abdullah kepada putranya. Ketika Abdullah dijodohkan dengan Aminah, gadis itu tidak dapat lagi berharap akan memiliki putra yang kelak menjadi nabi.
MATERI 28 JILID 1
KEMATIAN ABDULLAH
Bersama kafilah dagang, Abdullah tiba di Gaza. Kemudian, dalam
perjalanan pulang, ia singgah di Yatsrib. Di sana, ia tinggal bersama saudara
-saudara ibunya. Namun, ketika kawan-kawannya dari Mekah hendak mengajaknya
pulang, Abdullah jatuh sakit.
"Rasanya, aku takkan kuat menempuh perjalan pulang,"
kata Abdullah kepada kawan-kawannya. "Kalian berangkatlah dan sampaikan
pesan kepada ayahku bahwa aku jatuh sakit."
Kawan-kawannya mengangguk, "Akan kami sampaikan pesanmu.
Baik-baiklah engkau di sini."
Kafilah Mekah pun beranjak pulang. Ketika tiba di rumah, mereka
menyampaikan pesan Abdullah kepada Abdul Muthalib.
"Harits!" panggil Abdul Muthalib kepada putra
sulungnya. "Pergilah ke Yatsrib. Lihatlah keadaan adikmu. Jika sudah
sembuh, jemputlah ia pulang."
Harits pun segera berangkat. Ketika tiba di rumah paman-pamannya
di Yatsrib, yang ditemuinya adalah wajah-wajah duka.
"Abdullah telah meninggal," kata mereka kepadanya,
"mari, kami antar engkau ke pusaranya."
Harits pun menyampaikan berita sedih itu ke Mekah. Melelehlah
air mata di pipi Abdul Muthalib. Namun, kesedihan yang paling berat dirasakan
oleh Aminah. Apalagi di saat itu ia tengah menantikan kelahiran bayinya.
"Selamat jalan, Kanda," isak Aminah, "hilanglah
seluruh kebahagiaan hidupku bersamamu. Kini, tinggallah aku yang hidup untuk
membesarkan bayi kita."
Sahabat fillahku, tak lama lagi, bayi Aminah akan lahir. Bayi
yang kelak ditakdirkan Allah menjadi orang besar yang mengubah jalannya sejarah
dunia.
Catatan tambahan
Peninggalan Abdullah
Saat meninggal, peninggalan Abdullah berupa lima ekor unta, sekelompok ternak kambing, dan seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman yang kelak menjadi pengasuh Rasulullah. Nama aslinya adalah Barakah. Ia berasal dari Habasyah.
Peninggalan Abdullah
Saat meninggal, peninggalan Abdullah berupa lima ekor unta, sekelompok ternak kambing, dan seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman yang kelak menjadi pengasuh Rasulullah. Nama aslinya adalah Barakah. Ia berasal dari Habasyah.
MATERI 27 JILID 1
PERNIKAHAN ABDULLAH DENGAN AMINAH
Sahabat fillahku, Allah sudah menentukan bahwa jodoh yang paling
tepat untuk Abdullah adalah Aminah binti Wahb. Aminah adalah gadis yang paling
baik keturunan dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy.
Musim semi tahun 570 Masehi pun tiba. Batang-batang gandum
di Yaman tumbuh menjulang tinggi. Dedaunan kurma di kota Tha'if kembali
bersemi. Sementara itu, padang-padang rumput dipenuhi harum bunga-bunga yang
tumbuh di kebun-kebun.
Bagi penduduk Mekah, musim semi adalah tanda kebebasan dan
dimulainya lagi perdagangan musim panas ke Syria. Abdullah pun berniat pergi
musim ini.
"Kanda, sebenarnya hatiku sangat berat melepas kepergianmu.
Entah mengapa hatiku diliputi kekhawatiran dan kegelisahan. Aku bahkan berharap
dapat menemukan suatu alasan untuk menahan kepergianmu," keluh Aminah
kepada suaminya.
Abdullah tersenyum menentramkan, "Hatiku pun terasa
tertinggal di sini, Dinda. Aku tahu begitu besar rasa sayangmu kepadaku
sehingga engkau berharap dapat terus berada di sisiku."
"Bukan cuma itu, damai rasanya berada di sampingmu,
Kanda."
Abdullah mengangguk, "Tetapi Dinda, kini di dalam perutmu
ada bayi kita. Kau tahu aku adalah pemuda tak berada. Saat ini, kita hanya
mempunyai lima ekor kambing perah. Selain itu, tak ada lagi kekayaan yang dapat
menghidupi kita berdua selain sedikit kurma dan daging kering. Karena itu,
inilah saatnya bagiku untuk pergi berniaga dan menambah penghasilan kita."
Aminah terpaksa mengangguk menerima kenyataan itu. Ia memandang
kepergian Abdullah dengan sendu, seolah itu adalah detik-detik terakhir ia
dapat melihat wajah suaminya.
Catatan tambahan
Hamzah bin Abdul Muthalib
Pada hari pernikahan Abdullah dengan Aminah, Abdul Muthalib pun menikahi sepupunya yang bernama Hala. Dari perkawinan ini, lahirlah Hamzah, paman Rasulullah yang seusia dengan beliau.
Hamzah bin Abdul Muthalib
Pada hari pernikahan Abdullah dengan Aminah, Abdul Muthalib pun menikahi sepupunya yang bernama Hala. Dari perkawinan ini, lahirlah Hamzah, paman Rasulullah yang seusia dengan beliau.
MATERI 29 JILID 1
KELAHIRAN MUHAMMAD SAW
Sahabat fillahku, pada hari Senin pagi tanggal 12 Rabiul Awwal
pada tahun yang sama dengan penyerbuan Abrahah (tahun gajah), Aminah melahirkan
seorang bayi laki-laki. Saat itu bertepatan dengan bulan Agustus tahun 570
Masehi. Sebagian pendapat mengatakan bahwa Aminah melahirkan pada tanggal 20
atau 21 April tahun 571 Masehi.
Aminah mengutus seseorang sambil berkata, "Pergilah kepada
Abdul Muthalib dan katakan, 'Sesungguhnya telah lahir bayi untukmu. Oleh karena
itu, datang dan lihatlah"
Abdul Muthalib bergegas datang. Ketika mengambil bayi itu dari
pelukan Aminah, dadanya bergemuruh dipenuhi rasa sayang.
"Kehadiranmu mengingatkan aku kepada ayahmu. Sungguh, di
hatiku kini dirimu hadir sebagai pengganti Abdullah."
Dengan penuh rasa syukur, orang tua itu menggendong cucunya
berthawaf, mengelilingi Ka'bah. Kali ini tidak kepada berhala, tetapi kepada
Allah. Abdul Muthalib berdoa dan bersyukur.
"Aku memberimu nama Muhammad," kata Abdul Muthalib.
Muhammad berarti 'terpuji', sebuah nama yang tidak umum di
kalangan masyarakat Arab, tetapi cukup dikenal.
Kemudian, ia memerintahkan orang untuk menyembelih unta dan
mengundang makan masyarakat Quraisy.
"Siapa nama putra Abdullah, cucumu itu?" tanya
seseorang kepada Abdul Muthalib.
"Muhammad."
"Mengapa tidak engkau beri nama dengan nama nenek moyang
kita?"
"Kuinginkan ia menjadi orang yang terpuji, bagi Tuhan di
langit dan bagi makhluk-Nya di bumi," jawab Abdul Muthalib.
Catatan tambahan
Cahaya Aminah
Ketika Aminah mengandung Nabi Muhammad, ia melihat seberkas sinar keluar dari perutnya dan dengan sinar tersebut ia melihat istana-istana Busra di Syam.
Ketika Aminah mengandung Nabi Muhammad, ia melihat seberkas sinar keluar dari perutnya dan dengan sinar tersebut ia melihat istana-istana Busra di Syam.
MATERI 30 JILID I
YANG MENYUSUKAN
Saat itu di kalangan bangsawan Arab sudah berlaku tradisi yang
baik, yakni mereka mencari wanita-wanita desa yang bisa menyusui anak-anaknya.
Anak-anak disusukan di pedalaman agar terhindar dari penyakit
memiliki tubuh yang kuat dan agar dapat belajar bahasa Arab yang murni di
daerah pedesaan.
Tidak lama kemudian ke Mekkah datanglah serombongan wanita dari
kabilah bani sa'ad mencari bayi untuk disusui. Di antara mereka ada seorang ibu
bernama Halimah binti Abu Dzu'aib.
"Suamiku,"Panggil Halimah "tahun ini sungguh
tahun kering tak ada tersisa sedikit pun hasil panen di kampung halaman kita.
Lihat unta tua kita tidak lagi menghasilkan susu sehingga anak-anak menangis
pada malam hari karena lapar."
"Semoga kita mendapat bayi seorang bangsawan kaya yang
dapat memberi kita upah yang layak untuk menanggulangi kesengsaraan ini,"
jawab sang suami.
Namun harapan mereka tak terkabul, hampir semua bayi bangsawan
saya telah diambil oleh teman-teman serombongan mereka. Hanya ada satu bayi
dalam gendongan ibunya yang mereka temui.
"Namanya Muhammad" kata Aminah kepada pasangan
tersebut "ia anak yatim tinggal aku dan kakeknya yang merawatnya."
Halimah dan suaminya, Al-Harits bin Abdul Uzza saling berpandangan.
Mereka enggan menerima anak yatim karena tidak ada Ayah yang
dapat memberi mereka upah yang layak. Pasangan tersebut menggeleng dan pergi
mencari bayi lain Aminah memandangi bayi dalam dekapannya dengan sendu. Setiap
wanita Bani Saad yang ditawarkan menyusui Muhammad menolaknya karena ia anak
yatim.
Catatan Tambahan
Tsuwaibah
Tsuwaibah
Sebelum kedatangan para wanita Bani sa'ad, Muhammad disusui
tsuwaibah budak perempuan Abu Lahab. Hanya beberapa hari Muhammad disusui oleh
Tsuwaibah. Namun sepanjang hidupnya beliau memperlakukan dengan baik sekali.
Komentar
Posting Komentar