ONE DAY ONE SHIRAH Materi 41 - 50
MATERI 41 JILID 2
AMINAH WAFAT
Dalam perjalanan itu, Aminah membawa
Ummu Aiman, budak perempuan peninggalan Abdullah. Sesampainya di Yatsrib,
mereka disambut oleh saudara-saudara Aminah. Kepada Muhammad diperlihatkan
rumah tempat ayahnya meninggal dulu serta tempat ia dikuburkan. Itu adalah saat
pertama Muhammad benar-benar merasa dirinya sebagai anak yatim. Apalagi ia
mendengar ibunya bercerita panjang lebar tentang sang ayah tercinta yang
setelah beberapa waktu tinggal bersama-sama, kemudian meninggal dunia di
tengah-tengah pamannya dari pihak ibu.
Adik-adik tersayang, sesudah hijrah,
pernah juga Rasulullah SAW menceritakan kepada sahabat-sahabatnya tentang kisah
perjalanan masa kecil beliau ke Yatsrib yang saat itu telah berubah nama
menjadi Madinah. Beliau amat terkenang dengan perjalanan bersama ibunya itu,
kisah perjalanan penuh cinta pada Madinah, kisah penuh duka pada orang yang
ditinggalkan keluarganya.
Sesudah cukup sebulan tinggal di
Madinah, mereka pun bersiap pulang. Mereka berjalan dengan menggunakan dua ekor
unta yang mereka bawa dari Mekah. Akan tetapi, di tengah perjalanan, di sebuah
tempat bernama Abwa, Bunda Aminah menderita sakit hingga kemudian meninggal di
tempat itu.
"Ibu! Ibu!" panggil
Muhammad kepada ibunya yang kini membujur kaku.
Dalam pelukan Ummu Aiman, dengan air
mata meleleh, Muhammad menyaksikan tubuh ibunya dikuburkan di tempat itu.
Begitulah Adik-Adik tersayang, pada
usia enam tahun. Nabi Muhammad SAW telah menjadi anak yatim piatu. Siapakah
yang kemudian mengasuh beliau?
Catatan Tambahan
Abwa
Abwa adalah sebuah dusun yang terletak di antara Madinah dengan Juhfa. Jaraknya 23 mil (37 km) dari Madinah
Abwa
Abwa adalah sebuah dusun yang terletak di antara Madinah dengan Juhfa. Jaraknya 23 mil (37 km) dari Madinah
MATERI 42 JILID 2
ABDUL MUTHALIB WAFAT
ABDUL MUTHALIB WAFAT
Muhammad dibawa pulang oleh Ummu
Aiman. Ia pulang sambil menagis dengan hati pilu karena kini sebatang kara.
Muhammad makin merasa kehilangan. Ia menjalani takdir sebagai seorang anak
yatim piatu. Terasa olehnya hidup yang makin sunyi dan makin sedih.
Baru beberapa hari yang lalu, ia
mendengar dari ibunya keluhan duka kehilangan ayahanda semasa ia dalam
kandungan. Kini, ia melihat sendiri di hadapannya, ibunya pergi untuk tidak
kembali lagi, seperti ayahnya dulu. Tubuh Muhammad yang masih kecil itu kini
memikul beban hidup yang berat, yaitu sebagai yatim-piatu.
Ketika tiba di Mekah, Abdul Muthalib
menyambut kedatangan cucunya itu dengan rasa iba yang dalam. Kecintaan Abdul
Muthalib pun semakin bertambah kepada Muhammad.
Rasa duka Muhammad mungkin agak
ringan apabila kakeknya, Abdul Muthalib, dapat hidup lebih lama lagi. Namun,
Allah SWT sudah menentukan lain. Pada usia 80 tahun, sang kakek pun meninggal
dunia. Saat itu, Muhammad berusia delapan tahun. Ia mengiringi jenazah kakeknya
ke kubur sambil menangis.
Kenangan sedih sebagai anak
yatim-piatu membekas begitu dalam pada diri Rasulullah, sehingga di dalam Al
Quran pun disebutkan ketika Allah mengingatkan Rasulullah SAW akan nikmat yang
dianugerahkan kepada beliau di tengah kesedihan itu,
"Bukankah engkau dalam keadaan
yatim-piatu, lalu diadakan-Nya orang yang akan melindungimu? Dan menemukan kau
saat kau kehilangan pedoman, lalu ditunjukkan-Nya jalan itu?" ( Q.S. Ad
Dhuha, 93: 6-7)
Catatan Tambahan
Keluarga Umayyah
Kematian Abdul Muthalib merupakan pukulan yang berat bagi keluarga Hasyim. Tak ada anak-anak Abdul Muthalib yang memiliki keteguhan hati, kewibawaan, pandangan tajam, terhormat, dan berpengaruh di kalangan Arab seperti dirinya. Keluarga Umayyah lalu tampil ke depan mengambil tampuk pimpinan yang memang sejak dulu mereka inginkan tanpa menghiraukan ancaman yang datang dari keluarga Hasyim.
Keluarga Umayyah
Kematian Abdul Muthalib merupakan pukulan yang berat bagi keluarga Hasyim. Tak ada anak-anak Abdul Muthalib yang memiliki keteguhan hati, kewibawaan, pandangan tajam, terhormat, dan berpengaruh di kalangan Arab seperti dirinya. Keluarga Umayyah lalu tampil ke depan mengambil tampuk pimpinan yang memang sejak dulu mereka inginkan tanpa menghiraukan ancaman yang datang dari keluarga Hasyim.
MATERI 43 JILID 2
DIASUH ABU THALIB
Sebelum wafat, Abdul Muthalib
menunjuk salah seorang anak nya untuk mengasuh Muhammad. Ia tidak menunjuk
Abbas yang kaya, namun agak kikir. Ia juga tidak menunjuk Harist, putranya yang
tertua karena Harist adalah orang yang tidak mampu. Abdul Muthalib menunjuk Abu
Thalib untuk mengasuh Muhammad karena sekalipun miskin, Abu Thalib memiliki
perasaan yang halus dan paling terhormat di kalangan Quraisy.
Abu Thalib juga amat menyayangi
kemenakannya itu. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti, dan
baik hati sangat menyenangkab Abu Thalib. Ia bahkan lebih mendahulukan
kepentingan Muhammad dibandingkan anak-anaknya sendiri.
Begitu pun sebaliknya, Muhammad amat
mencintai pamannya. Ia tahu pamannya memiliki banyak anak kecil dan hidup dalam
kemiskinan. Namun demikian, pamannya tidak pernah berhutang kepada orang lain.
Abu Thalib lebih suka bekerja keras memeras keringat keringat untuk mengganjal
perut keluarganya. Karena itulah, tanpa ragu, Muhammad ikut bekerja seperti
anak-anak Abu Thalib yang lain. Ia ikut membantu pekerjaan keluarga,
menggembalakan kambing, dan mencari rumput.
Abu Thalib merasa bahwa Muhammad
kelak akan menjadi orang yang bersih hatinya dan dijauhkan dari dosa. Ia yakin,
jika mengajak Muhammad berdoa, Tuhan akan mengabulkan permohonannya. Seperti
yang dilakukannya ketika orang-orang Quraisy berseru " Wahai Abu Thalib,
lembah sedang kekeringan dan kemiskinan melanda. Marilah berdoa meminta
hujan".
Maka, Abu Thalib keluar bersama
Muhammad. Ia menempelkan punggung Muhammad ke dinding Ka'bah dan berdoa.
Kemudian, mendung pun datang dari segala penjuru, lalu menurunkan hujan yang
sangat deras hingga tanah di lembah-lembah dan ladanga menjadi gembur.
Catatan Tambahan
Ali bin Abu Thalib
Ali bin Abu Thalib adalah salah seorang anak Abu Thalib yang diasuh oleh Rasulullah setelah beliau menikah dengan Khadijah. Ali bin Abu Thalib kelak menjadi salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang utama. Ali bin Abu Thalib juga menjadi menantu beliau dengan menikahi Fatimah, putri beliau.
Ali bin Abu Thalib
Ali bin Abu Thalib adalah salah seorang anak Abu Thalib yang diasuh oleh Rasulullah setelah beliau menikah dengan Khadijah. Ali bin Abu Thalib kelak menjadi salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang utama. Ali bin Abu Thalib juga menjadi menantu beliau dengan menikahi Fatimah, putri beliau.
MATERI 44 JILID 2
HENDAK DITINGGAL PAMAN
HENDAK DITINGGAL PAMAN
Adik-adik tersayang, hati Muhammad
kecil merasa pengap dengan kehidupan di Mekah. Setiap hari, dilihatnya
anak-anak fakir miskin seusianya bekerja bersama-sama dengan bertelanjang tanpa
rasa malu.
Muhammad juga melihat setiap malam
pintu rumah orang-orang kaya tertutup rapat. Di dalam, mereka berpesta pora,
menyaksikan para penari, dan bermabuk-mabukan sampai pagi sambil dijaga oleh
para budak. Padahal, di tempat lain, ia melihat orang-orang berjuang mencari
rezeki antara hidup dan mati.
Muhammad sering sekali melintas di
depan gubuk-gubuk reyot dan rumah-rumah kumuh. Pintu-pintu mereka juga tertutup
rapat, tetapi di dalamnya tinggal orang-orang yang hidup menderita. Orang-orang
itu jika besok atau lisa terpaksa menggadaikan anak gadis, istri atau
ibunya untuk dikumpulkan menjadi budak para saudagar demi melepaskan diri dari
lilitan hutang.
Di depan gubuk-gubuk itu, Muhammad
melihat para pemuda berkumpul. Pikiran mereka dipenuhi impian tentang datangnya
mukjizat yang akan mampu membebaskan Mekah dari kebiadaban. Para pemuda itu
berkumpul mengelilingi seorang laki-laki yang bercerita tentang legenda-legenda
indah orang-orang terdahuu yang berjuang melawan raja yang sewenang-wenang.
Suatu saat, pada usia 12 tahun, Abu
Thalib berniat pergi berdagang ke Syam untuk mencari nafkah.
"Ajaklah aku, Paman!" pinta Muhammad
"Tetapi, perjalanan padang pasir begitu sulit dan jauh! Aku tidak tega mengajak anak sekecilmu menempuh kesulitan sedemikian berat!".
"Ajaklah aku, Paman!" pinta Muhammad
"Tetapi, perjalanan padang pasir begitu sulit dan jauh! Aku tidak tega mengajak anak sekecilmu menempuh kesulitan sedemikian berat!".
Saat itu, hanya Abu Thalib tempat
Muhammad berlindung. Ia merasa amat kesepian jika harus menghadapi kehidupan
Mekah seorang diri, tanpa ada paman disampingnya.
" Kepada siapakah Paman akan
meninggalkan aku seorang diri apabila Paman pergi nanti?" tanya Muhammad
begitu menghiba.
Abu Thalib sangat terharu, "Demi Allah, aku pasti membawanya pergi. Ia tidak boleh berpisah denganku dan aku tidak boleh berpisah dengannya selama-lamanya."
Abu Thalib sangat terharu, "Demi Allah, aku pasti membawanya pergi. Ia tidak boleh berpisah denganku dan aku tidak boleh berpisah dengannya selama-lamanya."
Akhirnya, Muhammad pun diizinkan
pergi menempuh perjalanan musim panas yang begitu jauh.
Catatan Tambahan
Lihb Si Peramal
Orang-orang Quraisy sering mendatangi Lihb dengan membawa anak-anaknya untuk diramal. Suatu hari, Lihb melihat Muhammad. " Kemarilah, hai anak muda!" serunya. Namun, Abu Thalib segera menyembunyikan Muhammad dan membawanya pergi hingga Lihb berteriak-teriak, "Celakalah kalian, bawa ke sini anak muda yang aku lihat tadi! Demi Allah, anak ini akan menjadi orang besar pada kemudian hari!"
Lihb Si Peramal
Orang-orang Quraisy sering mendatangi Lihb dengan membawa anak-anaknya untuk diramal. Suatu hari, Lihb melihat Muhammad. " Kemarilah, hai anak muda!" serunya. Namun, Abu Thalib segera menyembunyikan Muhammad dan membawanya pergi hingga Lihb berteriak-teriak, "Celakalah kalian, bawa ke sini anak muda yang aku lihat tadi! Demi Allah, anak ini akan menjadi orang besar pada kemudian hari!"
MATERI 45 JILID 2
JAMUAN BUHAIRA
JAMUAN BUHAIRA
Sahabat fillahku, berangkat lah
rombongan kafilah Quraisy menuju ke Syam. Ketika tiba di Busra, mereka melewati
rumah ibadah seorang pendeta Nasrani bernama Buhaira. Ia adalah pendeta yang
pandai. Di rumah ibadahnya, selalu ada pendeta dan umat Nasrani yang
mendapatkan ilmu dari Buhaira.
Biasanya, Buhaira tidak pernah
menggubris rombongan Quraisy yang setiap tahun lewat di tempat itu. Namun, kali
ini ada yang berubah pada diri Buhaira. Ketika rombongan Quraisy, termasuk Abu
Thalib dan Muhammad, singgah di dekat rumah ibadahnya, Buhaira memerintahkan
para pembantunya membuat masakan yang banyak.
Buhaira berbuat begitu karena dari
jendela rumah ibadahnya, ia melihat hal yang aneh pada rombongan Quraisy. Ada
awan kecil yang bergerak pelan mengikuti ke mana pun kafilah pergi. Ada sesuatu
atau seorang di dalam kafilah yang dilindungi awan itu dari terik matahari.
Buhaira bergegas mendatangi kafilah
yang tengah beristirahat di bawah pepohonan rindang dan berkata "Hai
orang-orang Quraisy, sungguh aku telah membuat makanan untuk kalian. Aku ingin
kalian semua, anak kecil, orang dewasa, budak, dan orang merdeka, ikut
hadir"
Salah seorang Quraisy bertanya,
"Demi Allah, hai Buhaira, alangkah istimewanya apa yang engkau perbuat
kepada kami hari ini. Padahal, kami sering melewati tempat mu ini. Apa yang
sebwnarnya terjadi padamu?"
"Engkau benar," jawab
Buhaira, " dulu aku memang seperti yang engkau katakan. Namun, kalian,
semuanya, adalah tamuku kali ini dan aku ingin menjamu kalian. Aku telah
membuat makanan dan kalian semuanya harus ikut makan."
Dengan senang hati, rombongan Quraisy
pun masuk ke rumah Buhaira untuk memenuhi undangannya. Hanya saja, Muhammad
tidak ikut karena ia masih kecil. Ia ditugaskan menjaga perbekalan kafilah.
Catatan Tambahan
Negeri Syam
Abu Thalib berangkat tahun 582 Masehi ke negeri Syam. Syam saat itu adalah sebuah negeri yang wilayahnya sekarang meliputi Syria, Yordania, dan Palestina. Syam berada di bawah pemerintahan Romawi Timur.
Negeri Syam
Abu Thalib berangkat tahun 582 Masehi ke negeri Syam. Syam saat itu adalah sebuah negeri yang wilayahnya sekarang meliputi Syria, Yordania, dan Palestina. Syam berada di bawah pemerintahan Romawi Timur.
MATERI 46 JILID 2
PERCAKAPAN BUHAIRA
PERCAKAPAN BUHAIRA
Namun, segera saja Buhaira merasakan
ada sesuatu yang kurang dari rombongan Quraisy itu. Maka, ia kembali mengulangi
permintaannya, "Hai Orang-orang Quraisy, jangan sampai ada yang tidak makan
makananku ini."
Salah seorang Quraisy berkata,
"Hai Buhaira, tidak ada seorang pun yang layak datang kepadamu tertinggal,
kecuali anak muda yang paling kecil di antara kami. Ia berada di tempat
perbekalan rombongan."
Buhaira menggeleng-geleng
kepala,"Kalian jangan seperti itu. Panggil dia untuk makan bersama
kalian!."
Orang-orang Quraisy merasa malu.
Salah seorang dari mereka bahkan berkata, "Demi Lata dan Uzza, adalah aib
dari kami kalau putra Abdullah bin Abdul Muthalib tidak ikut makan bersama
kami."
Setelah Muhammad dipanggil, Buhaira
memeluknya dan mendudukkannya bersama rombongan Quraisy yang lain. Sambil
menyaksikan tamu-tamunya makan, sebenarnya mata Buhaira tertuju kepada Muhammad
dengan seksana. Dari hasil pengamatannya itulah, Buhaira mengambil kesimpulan
dalam hati, "Anak ini mempunyai sifat-sifat kenabian."
Jamuan selesai. Sambil mengucapkan
terimakasih, rombongan Quraisy pun membubarkan diri menuju tempat
perkemahan mereka untuk beristirahat.
Namun, Buhaira tidak membiarkan Muhammad pergi. Diajaknya anak itu untuk duduk dan bicara.
Namun, Buhaira tidak membiarkan Muhammad pergi. Diajaknya anak itu untuk duduk dan bicara.
"Hai anak muda," panggil
Buhaira, "dengan menyebut nama Lata dan Uzza, aku akan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan kepadamu dan engkau harus menjawabnya."
Wajah Muhammad tampak berubah dan ia
menjawab, "Jangan bertanya tentang apa pun kepadaku sambil menyebut nama
Lata dan Uzza. Demi Allah, tidak ada yang sangat aku benci melainkan
keduanya."
Buhaira tersenyum dan
mengulangi permintaannya, "Baiklah, kalau begitu aku akan bertanya
kepadamu dengan menyebut nama Allah dan engkau harus menjawab
pertanyaanku."
Wajah Muhammad berubah cerah dan ia
mengangguk, "Tanyakan kepadaku apa saja yang ingin engkau tanyakan. "
Catatan Tambahan
Kota Bushra
Jalur yang dilewati kafilah Abu Thalib adalah jalan kafilah Barat yang menyusuri Laut Merah, Madyan, Wadi Al Qurra, Hijir, dan Kota Bushra. Kota Bushra atau Bostra telah lama didirikan Romawi sebagai ibu kota wilayah Hauran, untuk menahan serbuan Badui pedalaman. Duli sini, Romawi memusatkan pasukan dan mengumpulkan pajak dari kafilah. Bagi kafilah sendiri, Bostra adalah pusat perdagangan paling ramai sebelum tiba di Syria yang terlatak lebih ke Utara.
Kota Bushra
Jalur yang dilewati kafilah Abu Thalib adalah jalan kafilah Barat yang menyusuri Laut Merah, Madyan, Wadi Al Qurra, Hijir, dan Kota Bushra. Kota Bushra atau Bostra telah lama didirikan Romawi sebagai ibu kota wilayah Hauran, untuk menahan serbuan Badui pedalaman. Duli sini, Romawi memusatkan pasukan dan mengumpulkan pajak dari kafilah. Bagi kafilah sendiri, Bostra adalah pusat perdagangan paling ramai sebelum tiba di Syria yang terlatak lebih ke Utara.
MATERI 47 JILID 2
SARAN BUHAIRA KEPADA ABU THALIB
SARAN BUHAIRA KEPADA ABU THALIB
Sahabat Fillahku, Buhaira pun
menanyakan banyak sekali hal kepada Muhammad, tentang tidur Muhammad,
tentang postur tubuh Muhammad, dan banyak lagi hal lainnya.
Muhammad menjawab semua itu dan semua jawaban itu sesuai benar dengan perkiraan Buhaira. Kemudian, Buhaira melihat punggung Muhammad dan mendapati tanda kenabian diantara kedua bahu Muhammad. Tanda kenabian itu seperti bekas orang berbekam.
Setelah itu, Buhaira mendekati Abu Thalib dan bertanya kepada nya, ''apakah anak muda ini anakmu? ''
''Iya, dia anakku." Jawab Abu
Thalib
Buhaira menggeleng. " Tidak, dia bukan anakmu. Anak muda ini tidak pantas mempunyai ayah yang masih hidup"
Abu Thalib agak tercengang, lalu dia pun mengangguk. " Kau benar. Dia bukan anakku, dia anak saudaraku "
Buhaira mengangguk-angguk puas lalu bertanya lagi. "Apa yang dikerjakan ayahnya?"
"Ayahnya telah meninggal dunia
ketika dia masih berada dalam kandungan ibunya "
"Engkau benar" kata Buhaira
menghela nafas dalam-dalam. Kemudian, sambil berbisik, dia menyampaikan sebuah
saran dengan sangat sungguh -sungguh. "Sekarang, dengar saranku baik baik.
Bawa anak saudara mu ini ke negeri asalmu sekarang juga! Jaga dia dari
orang-orang Yahudi! Demi Allah, jika mereka melihat padanya seperti apa yang
aku lihat, mereka pasti akan membunuhnya. sesungguhnya, akan terjadi sesuatu
yang besar pada diri anak saudara mu ini. Karena itu, segera bawa pulang dia ke
negeri asalmu! "
Abu Thalib tampak ketakutan dengan
peringatan itu. Dia yakin bahwa apa yang dikatakan Buhaira itu benar. Maka dari
itu, segera setelah urusan bisnisny selesai, Abu Thalib segera membawa Muhammad
pulang. Sesulit apa pun beban hidupnya, Abu Thalib tidak pernah lagi pergi
berdagang ketempat jauh demi melindungi keponakannya itu.
MATERI 48 JILID 2
PERLINDUNGAN ALLAH
PERLINDUNGAN ALLAH
Sahabat fillahku, untung Abu Thalib segera
melaksanakan apa yg disarankan oleh Buhaira karena peringatan itu memang
beralasan. Segera setelah Abu Thalib membawa Muhammad pulang, datanglah 3 orang
ahli kitab bernama Zurair, Daris, dan Tammam. Ketiganya menyandang senjata di
pinggang. Mereka bertanya kepada Buhaira apakah ia juga melihat seorang anak
dengan ciri ciri seperti ini dan itu.
Buhaira tahu bahwa mereka mencari
Muhammad. Rupanya, ketiga orang ini juga telah mendengar tentang Muhammad.
Buhaira memandang senjata2 yang mereka bawa dengan perasaan ngeri. Buhaira
mengerti mereka mencari Muhammad dengan maksud membunuhnya. Maka, Buhaira
berusaha memberikan perlindungan. Tidak henti-hentinya buhaira menasihati
ketiganya akan adanya kekuasaan Allah. Diingatkannya bahwa bagaimanapun usaha
mereka, mereka tidak akan mampu mendekati Muhammad untuk membunuhnya. Akhirnya,
ketiganya pun melihat kebenaran dalam perkataan Buhaira. Batallah niat mereka
untuk mengejar dan membunuh Muhammad dan berlalulah mereka dari hadapan
Buhaira.
Allah menjaga Muhammad dari kejahatan
dan kotoran-kotoran jahiliyah. Allah membimbing Muhammad tumbuh menjadi orang
yang paling ksatria, paling baik akhlaknya, paling mulia asal usulnya, paling
baik pergaulannya, paling agung sikap santunnya, paling murni kejujurannya,
paling jauh dari keburukan dan akhlak yang mengotori kaum lelaki sehingga semua
orang menjulukinya "Al Amin" karena Allah mengumpulkan pada Muhammad
segala hal yang baik.
Kelak setelah menjadi Rasul, Muhammad
bercerita tentang perlindungan Allah kepadanya sejak masa kecil dari segala
bentuk kejahiliyahan. Rasulullah bersabda , "Pada masa kecilku, aku
bersama anak-anak kecil Quraisy mengangkut batu untuk satu permainan yang biasa
dilakukan anak2. Semua dari kami melepas baju kami di atas pundak (sebagai
ganjalan) untuk memikul batu.
"Aku maju dan mundur bersama
mereka. Namun, tiba-tiba seseorang yang belum pernah aku lihat sebelumnya
menamparku dengan tamparan yang amat menyakitkan. Ia berkata, 'Kenakan
pakaianmu!' Kemudian, aku mengambil pakaianku dan memakainya. Setelah itu, aku
memikul batu di atas pundakku dengan tetap mengenakan pakaian dan tidak seperti
teman temanku."
Catatan tambahan
Membantu Paman
Muhammad juga pernah menjadi gembala sewaan, bukan sekedar mencari uang saku, tetapi untuk membantu Abu Thalib yang hidup dalam kemiskinan.
Membantu Paman
Muhammad juga pernah menjadi gembala sewaan, bukan sekedar mencari uang saku, tetapi untuk membantu Abu Thalib yang hidup dalam kemiskinan.
MATERI 49 JILID 2
PERANG FIJAR
PERANG FIJAR
Sahabat Fillahku, sebagai seorang
remaja yang tumbuh di lingkungan Jazirah Arab. Muhammad juga mengalami
perang. Perang itu disebut Perang Fijar. Saat peperangan dimulai, Umur Muhammad
memasuki lima belas tahun.
Perang itu sendiri disebabkan sebuah
pembunuhan. Barradz bin Qois dari Bani Kinanah membunuh Urwa Ar-Rahhal bin Utba
dari Bani Hawazin hanya karena Barradz jengkel ketika Urwa dipilih untuk
memimpin kafilah dagang Nu'man bin Mundhir yang kaya. Diam diam , Barradz
mengikuti kafilah Urwa dari belakang dan membunuh Urwa.
Padahal ketika itu adalah bulan suci,
bulan yang tidak diperkenankan bagi siapa pun untuk menumpahkan darah.
Karena Quraisy pelindung
Barradz, Bani Hawazin mengumumkan perang terhadap Quraisy untuk membalas
kematian Urwa. Perang pun pecah pada bulan suci. Selama empat tahun
berturut-turut, kedua belah pihak saling menyerang.
Dalam pertempuran itu, awalnya
Muhammad bertugas memunguti anak panah lawan yang berjatuhan dan memberikannya
kepada paman-pamannya. Namun, pada tahun-tahun berikutnya, dia juga menembakan
panah ke arah lawan untuk melindungi paman-pamannya. Setelah menjadi
Rosullullah, Muhammad pernah bercerita tentang Perang Fijar itu. " Aku
mengikutinya bersama paman-pamanku, juga ikut melempar panah dalam perang itu
sebab aku tidak suka kalau aku tidak ikut melaksanakannya juga."
Perang pun berakhir dengan perdamaian
ala pedalaman : pihak yang menderita lebih sedikit korban manusianya harus
membayar ganti rugi kepada pihak lainnya sejumlah selisih kelebihan korban.
Dalam hal ini, pihak Quraisy yang lebih sedikit menderita korban harus membayar
kelebihan korban sebanyak dua puluh orang Hawazin.
Catatan Tambahan
Barradz bin Qois
Barradz bin Qois, penyebab Perang Fijar, adalah seorang pemabuk. Karena merusak citra sukunya, dia diusir dan mendapat naungan suku lain. Namun disini, dia juga mabuk berat dan membuat onar dan diusir lagi. Akhirnya, Harb bin Muawiyah, ayah Abu Sofyan, menampungnya walaupun hampir saja Barradz bin Qois diusir lagi karena terus berbuat onar, karena perlindungan dari Harb dari Quraisy inilah , Bani Hawazin menyerang Quraisy ketika Barradz bin Qois membunuh Urwa bin Utba.
Barradz bin Qois
Barradz bin Qois, penyebab Perang Fijar, adalah seorang pemabuk. Karena merusak citra sukunya, dia diusir dan mendapat naungan suku lain. Namun disini, dia juga mabuk berat dan membuat onar dan diusir lagi. Akhirnya, Harb bin Muawiyah, ayah Abu Sofyan, menampungnya walaupun hampir saja Barradz bin Qois diusir lagi karena terus berbuat onar, karena perlindungan dari Harb dari Quraisy inilah , Bani Hawazin menyerang Quraisy ketika Barradz bin Qois membunuh Urwa bin Utba.
MATERI 50 JILID 2
HILFUL FUDHUL
HILFUL FUDHUL
Sahabat Fillahku, selain mengikuti
peperangan, Muhammad yang masih remaja juga mengikuti sebuah perjanjian yang
amat baik. Perjanjian itu kelak dikenal dengan nama Hilful Fudhul.
Perjanjian ini bertujuan untuk
melindungi hak hak para pedagang asing yang sering kali terzhalimi. Pencetus
perjanjian ini adalah protes seorang pedagang asing dari Yaman. Saat itu, Ash
bin Wa'il, seorang saudagar Mekah, tidak mau membayar utang kepada si pedagang.
Pedagang itu lalu menggubah syair dan membacakannya di depan umum.
Syair ini amat menggugah perasaan
para pemuka Quraisy. Mereka khawatir apabila dibiarkan terus, para pedagang
Asing tidak mau lagi memasuki Mekah. Apalagi Perang Fijar mengakibatkan mulai
terjadinya perpecahan di pihak Quraisy. Sepeninggal Abdul Munthalib , orang
-orang Quraisy dari keluarga yang lain sudah mulai berani mencoba menantang
kekuasaan pemerintahan Quraisy. Maka dari itu, atas usulan Zubair bin Abdul
Munthalib, seorang paman Muhammad, orang -orang Quraisy dari keluarga Hasyim,
Zuhra, Taim berkumpul.Mereka bersepakat dan berjanji atas nama Tuhan Maha
Pembalas bahwa Tuhan akan berada di pihak yang terzalimi sampai orang itu
tertolong.
Pertemuan ini sendiri berlangsung di
rumah Abdullah bin jud'an At Taimi yang megah. Perjanjian Hilful Fudhul ini
menjamin perlindungan terhadap hak hak orang lemah. Muhammad ikut menyaksikan
perjanjian dan amat menyukainya. Setelah kelak diutus menjadi seorang
Rosullullah, Muhammad bersabda: " Aku tidak suka mengganti perjanjian yang
kuhadiri di rumah Ibn Jud'an itu dengan jenis unta yang baik. Kalau sekarang
aku diajak, pasti akan kutolak"
Demikianlah, sahabat fillah,
beberapa kejadian penting yang pernah diikuti Rosullullah pada masa remajanya.
Namun, selain kejadian-kejadian itu, apa pekerjaan utama Rosullullah ketika
remaja ?
Catatan Tambahan
Besarnya Diyat
Diyat adalah pembayaran ganti rugi. Untuk kematian/wajah cacat total ganti ruginya sebanyak 100 ekor unta. Satu kaki/tangan/mata jadi buta diganti dg 50 ekor unta. Jika wajah cacat total, nilai gantinya 100 unta. Luka sampai menembus otak, 33 ekor unta. Cacat kelopak mata, 25 ekor unta. Satu jari hilang/tulang retak, 15 ekor unta.Luka sampai tulang kelihatan, 10 ekor unta. Satu gigi copot, 5 ekor unta. Demikian seterusnya dalam ketetapan yang rinci.
Besarnya Diyat
Diyat adalah pembayaran ganti rugi. Untuk kematian/wajah cacat total ganti ruginya sebanyak 100 ekor unta. Satu kaki/tangan/mata jadi buta diganti dg 50 ekor unta. Jika wajah cacat total, nilai gantinya 100 unta. Luka sampai menembus otak, 33 ekor unta. Cacat kelopak mata, 25 ekor unta. Satu jari hilang/tulang retak, 15 ekor unta.Luka sampai tulang kelihatan, 10 ekor unta. Satu gigi copot, 5 ekor unta. Demikian seterusnya dalam ketetapan yang rinci.
Komentar
Posting Komentar