ONE DAY ONE SHIRAH Eps 15 - 20
MATERI 16 JILID 1
ABDUL MUTHALIB
"Tidak. Aku tidak akan membiarkannya pergi" jawab
Salma. "Dia buah hatiku satu-satunya. Wajahnya lah yang senantiasa
meningkatkan aku akan wajah ayahnya".
"Aku juga menyayangi Hasyim", jawab Al Muthalib,
"bukan cuma aku, tetapi penduduk kota Mekah juga menyayanginya. mereka
pasti akan senang sekali menyambut kedatangan putra Hasyim. Begitu melihat
wajah anak ini, rasa sayangku timbul kepadanya. Seolah-olah aku melihat
Hasyim hidup kembali dan berdiri di hadapanku. Izinkan aku membawanya pergi.
Sesungguhnya Mekah adalah kerajaan ayahnya dan Mekah adalah tanah suci yang di
cintai oleh seluruh bangsa Arab. Tidakkah pantas putramu pergi ke sana dan
melanjutkan pemerintahan ayahnya?".
Salma memandang Syaibah dengan mata berkaca-kaca. Hatinya ingin
agar putra satu-satunya itu tetap tinggal di sisinya. Namun, ia tahu masa depan
Syaibah bukan di Yatsrib, melainkan di Mekkah. Akhirnya, ia pun mengangguk,
"Baiklah, kuizinkan ia pergi."
Dengan amat gembira, Al Muthalib mengajak keponakannya itu
pulang. Syaibah duduk membonceng unta di belakang pamannya. Ketika mereka tiba
di Mekkah, orang-orang menyangka bahwa anak yang duduk di belakang Al Muthalib
adalah budaknya.
"Abdul Muthalib (Budak Al Muthalib)! Abdul Muthalib!"
panggil mereka kepada Syaibah.
"Celaka kalian! Dia bukan budakku, dia anak saudaraku,
Hasyim!"
Namun, orang-orang telanjur menyebutnya demikian sehingga
akhirnya nama Syaibah pun terlupakan. Setelah itu, dia dikenal dengan nama
Abdul Muthalib. Dia kelak menjadi kakek Nabi Muhammad saw.
Setelah tumbuh dewasa, Abdul Muthalib pun menjadi seorang pemuka
Mekah sebagaimana Hasyim, bapaknya.
Pada zaman pemerintahannya, Abdul Muthalib melakukan sebuah
perbuatan yang akan dikenang orang sepanjang zaman. Perbuatan apakah itu?
Catatan tambahan
Harta Abdul Muthalib
Setelah Hasyim meninggal, hartanya dikuasai oleh Naufal, adiknya yang terkecil. Ketika dewasa, Abdul Muthalib hendak meminta harta ayahnya, tetapi Naufal menolak. Abdul Muthalib pun meminta bantuan kerabat ibunya yang tinggal di Yatsrib. Orang-orang Yatsrib mengirimkan 80 pasukan berkuda. Naufal pun ketakutan dan menyerahkan 80 pasukan berkuda. Naufal pun ketakutan dan menyerahkan harta Hasyim kepada Abdul Muthalib.
Harta Abdul Muthalib
Setelah Hasyim meninggal, hartanya dikuasai oleh Naufal, adiknya yang terkecil. Ketika dewasa, Abdul Muthalib hendak meminta harta ayahnya, tetapi Naufal menolak. Abdul Muthalib pun meminta bantuan kerabat ibunya yang tinggal di Yatsrib. Orang-orang Yatsrib mengirimkan 80 pasukan berkuda. Naufal pun ketakutan dan menyerahkan 80 pasukan berkuda. Naufal pun ketakutan dan menyerahkan harta Hasyim kepada Abdul Muthalib.
MATERI 17 JILID 1
MENGGALI SUMUR ZAM-ZAM
Saat itu, Sumur Zamzam telah terkubur dan dilupakan orang selama
ratusan tahun. Namun, Abdul Muthalib tidak pernah lupa pada sejarah Mekah bahwa
dulu pernah ada mata air yang menghidupi Mekah, mata air yang memancar keluar
oleh kaki Ismail.
"Aku harus menemukannya!" pikir Abdul Muthalib.
"Aku harus menemukan kembali Sumur Zamzam yang telah dilupakan orang!
Apalagi aku bertugas menyediakan air dan makanan bagi penduduk Mekah."
Pikiran seperti itu tidak pernah hilang dari benaknya, "Aku
harus menemukannya! Aku harus menemukannya!"
Setelah itu, Abdul Muthalib mengambil tembilang dan memanggil
putra satu-satunya, "Harits, temani ayah mencari dan menggali kembali
Sumur Zamzam!"
Harits mengangguk. Kemudian, mereka mulai mencari di mana dulu
letak Mata Air Zamzam berada. Setelah beberapa kali mencoba menggali di
beberapa tempat, Sumur Zamzam tidak juga ditemukan.
"Ayah, mungkin Sumur Zamzam memang telah hilang," kata
Harits.
"Tidak, Nak! Ayah yakin Sumur itu masih ada! Kita harus
menemukannya! Orang-orang Mekah akan hidup lebih baik jika Sumur Zamzam ada di
tengah kita!"
Dengan gigih keduanya pun terus mencari. Orang-orang Quraisy,
penduduk asli Mekah, melihat perbuatan mereka dengan heran.
"Mengapa engkau masih terus menggali, Abdul Muthalib?
Bukankah dulu nenek moyang kita, Mudzaz bin Amr pernah menggalinya, tapi tidak
berhasil?"
Abdul Muthalib menaruh tembilangnya dan duduk. Ya, ratusan tahun
yang lalu Mudzaz bin Amr mertua Nabi Ismail as pernah mencoba menggali Zamzam
tapi tidak berhasil. Padahal, saat itu Mudzaz telah mempersembahkan sesaji
berupa pedang dan pelana berpangkal emas agar Sumur Zamzam ditemukan.
Catatan tambahan
Sumber Air Mekah
Abdul Muthalib adalah pengurus air dan makanan bagi tamu-tamu yang datang ke Mekah. Setelah ratusan tahun Sumur Zamzam tertimbun, air harus didatangkan dari beberapa sumur yang terpencar-pencar di sekitar Mekah..
Sumber Air Mekah
Abdul Muthalib adalah pengurus air dan makanan bagi tamu-tamu yang datang ke Mekah. Setelah ratusan tahun Sumur Zamzam tertimbun, air harus didatangkan dari beberapa sumur yang terpencar-pencar di sekitar Mekah..
MATERI 18 JILID 1
BERNADZAR
Abdul Muthalib bernazar,"Kalau saja aku mempunyai 10 anak
laki-laki, kemudian setelah semuanya dewasa, aku tidak memperoleh anak lagi seperti
ketika sedang menggali Sumur Zamzam, maka salah seorang diantara 10 anak itu
akan kusembelih di Ka'bah sebagai kurban untuk Tuhan."
Ternyata takdir memang menentukan demikian. Abdul Muthalib
akhirnya mendapat 10 orang anak laki-laki. Setelah semua anak berangkat dewasa,
ia tidak memperoleh anak. Dipanggilnya kesepuluh orang anak itu, termasuk si
bungsu Abdullah yang amat disayangi dan dicintainya.
"Aku pernah bernazar untuk menyembelih salah seorang di
antara kalian jika Tuhan memberiku 10 orang anak laki-laki."
Kesepuluh anaknya terdiam. Mereka memahami persoalan itu. Mereka
juga melihat kebingungan yang luar biasa di mata ayah mereka yang berkaca-kaca.
"Namun, aku tidak bisa menentukan siapa di antara kalian
yang harus kusembelih. Oleh karena, aku berniat memanggil juru qidh untuk
menentukannya."
Di hadapan patung dewa tertinggi Ka'bah, juru qidh meminta
setiap anak menulis namanya masing-masing di atas qidh. Kemudian, ia mengocok
anak panah tersebut di hadapan berhala Hubal. Nama anak yang keluar adalah
Abdullah.
Melihat itu, serentak orang orang Quraisy datang dan melarangnya
melakukan perbuatan itu.
"Batalkan keinginanmu, Abdul Muthalib! Mohon ampunlah
kepada Hubal supaya kamu bisa membatalkan nazarmu!"
Sanggupkah Abdul Muthalib menyembelih anak kesayangannya,
apalagi tidak ada orang yang menyetujui niatnya itu?
Catatan tambahan
Nazar
Nazar adalah niat seseorang untuk melakukan sesuatu amal ibadah
jika keinginannya tercapai. Misalnya, seorang anak bernazar akan melakukan shaum
jika ia lulus dengan baik. Setelah keinginannya terkabul, ia pun harus
melakukan shaum. Karena nazar ditujukan kepada Allah, nazar tidak berlaku dalam
perbuatan dosa.
MATERI 19 JILID 1
MENEMUKAN ZAM-ZAM
Malam harinya, dengan tubuh lelah, Abdul Muthalib tertidur.
Tiba-tiba, dalam tidur, dia bermimpi mendengar suara yang bergema
berulang-ulang, "Temukan Sumur Zamzam itu, wahai Abdul Muthalib! Temukan
Sumur Zamzam! Temukan!"
Abdul Muthalib terbangun dengan keyakinan dan semangat baru.
Esoknya, dia mengajak Harits menggali dan menggali lebih giat. Rasa heran
orang-orang Quraisy yang melihatnya berubah menjadi tawa.
"Kasihan Abdul Muthalib, mungkin dia sudah kehilangan akal
sehatnya!" kata mereka satu sama lain.
Suatu saat, ketika mereka sedang menggali di antara berhala Isaf
dan Na'ila, air membersit.
"Air! Harits! Lihat, ada air! " seru Abdul Muthalib
saking kagetnya.
"Ayo kita gali terus, Ayah! Ayo gali terus!"
"Ayo kita gali terus, Ayah! Ayo gali terus!"
Ketika mereka menggali lebih dalam, tampaklah pedang-pedang dan
pelana emas yang pernah ditaruh oleh Mudzaz bin Amr dahulu. Melihat penemuan
itu, orang-orang Quraisy datang berbondong-bondong.
"Abdul Muthalib, mari kita berbagi air dan harta emas
itu!" pinta mereka.
"Tidak! Tetapi, marilah kita mengadu nasib diantara aku dan
kamu sekalian dengan permainan _qidh_ (anak panah). Dua anak panah buat Ka'bah,
dua buat aku, dan dua buat kamu. Kalau anak panah itu keluar, dia mendapat
bagian. Kalau tidak, dia tidak mendapat apa-apa."
Usul ini disetujui. Juru qidh mengundinya di tengah-tengah
berhala di depan Ka'bah. Ternyata, anak panah Quraisy tidak ada yang keluar.
Pemenangnya adalah Abdul Muthalib dan Ka'bah. Karenanya, dapat lah Abdul
Muthalib meneruskan tugasnya mengurus air dan keperluan para tamu Mekah setelah
Sumur Zamzam memancar kembali.
Mengingat beratnya tugas itu. Abdul Muthalib sangat ingin agar
dia mempunyai banyak anak laki-laki yang dapat membantunya.
Catatan tambahan
Pedang dan Pelana Emas
Abdul Muthalib memasang pedang-pedang itu di pintu Ka'bah,
sedangkan pelana-pelana emas ditaruh di dalam rumah suci itu sebagai perhiasan.
MATERI 20 JILID 1
TEBUSAN SERATUS UNTA
Dengan membajakan hati, Abdul Muthalib menuntun Abdullah
menuju sebuah tempat di dekat sumur Zamzam yang terletak di antara dua berhala
Isaf dan Na'ila. Dia tempat itulah biasanya orang orang Mekah melakukan
pengurbanan hewan untuk dewa dewa mereka. Namun, masyarakat semakin keras
menghalangi Abdul Muthalib melakukan niatnya. Akhirnya, kekerasan hatinya pun
luluh.
"Baiklah, tetapi apa yang harus kulakukan agar berhala
tetap berkenan kepadaku?"
"Kalau penebusannya dapat dilakukan dengan harta kita, kita
tebuslah," kata Mughirah bin Abdullah dari suku Makhzum.
Setelah diadakan perundingan, mereka sepakat menemui seorang
dukun di Yatsrib.
"Berapa tebusan kalian?" tanya dukun wanita itu.
"Sepuluh ekor unta."
"Kembalilah ke negeri kalian. Sediakan tebusan 10 ekor
unta. Kemudian undi antara unta dan anak itu. Jika yang keluar nama anakmu,
tambahlah jumlah untanya, kemudian undi lagi sampai nama unta yang
keluar."
Mereka pulang dengan lega dan segera mengundi dengan anak panah.
Ternyata yang keluar adalah nama Abdullah. Mereka menambahkan tebusan unta dan
mengundi lagi. Ternyata, lagi lagi nama Abdullah yang keluar. Demikianlah,
Abdul Muthalib menambah dan menambah terus jumlah unta. Ketika jumlah unta
sudah mencapai 100 ekor, barulah nama unta yang keluar.
"Dewa sudah berkenan," seru orang orang.
"Tidak, "bantah Abdul Muthalib. "Harus dilakukan
sampai 3 kali."
Akhirnya, setelah 3 kali dikocok, yang keluar adalah nama unta.
100 ekor unta itu pun disembelih dan dibiarkan begitu saja tanpa disentuh
manusia dan hewan karena mereka beranggapan bahwa unta itu untuk dewa.
Catatan Tambahan
Keturunan Dua Orang yang Disembelih
Diriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda , "Aku
adalah anak dua orang yang disembelih." Yang dimaksud oleh beliau adalah
Nabi Ismail nenek moyangnya, dan Abdullah ayahnya.
Komentar
Posting Komentar