ONE DAY ONE SHIRAH Eps 11 - 15
MATERI 10. JILID 1
KETURUNAN NABI ISMAIL
Sahabat fillahku, tak lama kemudian,
Ismail menikah. Namun, belum berapa lama, rasa gembira itu berubah duka karena
Bunda Hajar wafat. Ismail amat kehilangan ibunya. Betapa tidak, ia ditinggal
oleh orang yang sangat ia sayangi dan menyayanginya. Mendengar istrinya wafat,
Nabi Ibrahim yang telah berusia lanjut datang ke Mekah.
Ketika tiba di rumah Ismail, Nabi
Ibrahim diterima oleh menantunya.
"Bagaimana kehidupan
kalian?" tanya Nabi Ibrahim.
"Hidup kami susah dan terlalu
sederhana. Bahkan, sekarang pun saya tidak dapat menyuguhkan apa-apa kepada
Bapak," keluh istri Ismail.
Nabi Ibrahim termenung. Ia pun
berdiri dan pamit.
"Sampaikan kedatanganku kepada
Ismail. Katakan juga kepadanya bahwa aku ingin agar ia mengganti gerbang rumah
ini."
Ketika Ismail pulang, istrinya
menyampaikan pesan ini.
"Itu ayahku," kata Ismail,
"pesan itu memerintahkan agar saya menceraikanmu karena kamu tidak
berlapang dada menjalani hidup kita yang sederhana."
Setelah melaksanakan pesan ayahnya,
Ismail menikahi wanita yang lain. Suatu saat, Nabi Ibrahim datang berkunjung.
Beliau diterima oleh menantunya yang baru.
"Bagaimanakah kehidupanmu
bersama Ismail?" tanya Nabi Ibrahim.
"Alhamdulillah Ismail adalah
suami yang penyayang, rajin bekerja, dan selalu membimbing saya di jalan Allah.
Kami hidup berbahagia."
Nabi Ibrahim tersenyum,
"Sampaikan kedatanganku kepada Ismail. Katakan juga kepadanya bahwa aku
menyukai gerbang rumahnya."
Ketika Ismail datang, istrinya
menyampaikan pesan Nabi Ibrahim.
"Alhamdulillah, ayahku
menyukaimu karena engkau istri yang shalihah, " senyum Ismail.
Ismail pun diangkat menjadi seorang
nabi. Putra-putra beliaulah yang menjadi nenek moyang Nabi Muhammad SAW.
Catatan tambahan
Tempat Ibadah Tertua
Melalui surat Ali Imran ayat 96-97,
Allah menerangkan bahwa sesungguhnya rumah ibadah tertua di dunia ini adalah
yang ada di Mekah, yaitu Ka'bah. Rumah ibadah ini diberkahi Allah dan menjadi
petunjuk bagi manusia di seluruh dunia. Begitu tuanya umur Ka'bah sampai tak
seorang pun tahu telah berapa lama Ka'bah berada di muka bumi ini. Ka'bah telah
ada sebelum Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail diperintahkan membangunnya
kembali.
Kisah ini diambil dari Buku Muhammad
Teladanku penerbit : Sygma
MATERI 11. JILID 1
NENEK MOYANG NABI MUHAMMAD SAW
Salah seorang nenek moyang Nabi
Muhammad bernama Hasyim bin Abdul Manaf. Ia adalah pemuka masyarakat dan orang
yang berkecukupan. Masyarakat Mekah mematuhi dan menghormatinya.
"Wahai penduduk Mekah, aku
membagi perjalanan kalian menurut musim. Jika musim dingin tiba, pergilah
berdagang ke Yaman yang hangat. Jika musim panas, giliran kalian pergi ke Syam
yang sejuk!" demikian keputusan Hasyim.
Hasyim tambah disayangi penduduk
Mekah karena pada suatu musim kemarau yang mencekam, ia pernah membawa
persediaan makanan dari tempat yang jauh. Padahal, saat itu makanan amat sulit
didapat.
"Terima kasih, wahai Hasyim!
Engkau menolong kami dengan pemberian makanan ini!" seru penduduk Mekah.
Di bawah kepemimpinan Hasyim, Mekah
berkembang menjadi pusat perdagangan yang makmur. Pasar-pasar didirikan sebagai
tempat berniaga kafilah-kafilah dagang yang datang dan pergi silih berganti ,
baik pada musim panas maupun pada musim dingin. Demikian pandainya penduduk
Mekah berdagang, sampai-sampai tidak ada pihak lain yang mampu menyaingi
mereka.
Akan tetapi, di samping kemajuan yang
besar itu, masyarakat Arab juga mengalami kemunduran luar biasa. Itulah
sebabnya mereka dijuluki masyarakat jahiliah alias masyarakat yang diliputi
kebodohan. Itulah juga sebabnya sampai Allah mengutus rasul terakhir-Nya di
tempat ini.
Catatan tambahan
Pembagian Urusan
Beberapa jabatan pemerintahan di
Mekah di antaranya: _Hijabah_ : Pemegang kunci Ka'bah, _Siqayah_ : Penyedia air
dan makanan buat para peziarah, _Rifadah_ : Mengatur pembagian dana dari orang
kaya untuk fakir miskin, _Qiyadah_ : Mengatur urusan peperangan.
MATERI 12 JILID 1
PERCAYA TAKHAYUL
Oh, tidak ! Burung itu terbang ke
kiri! Aku pasti akan tertimpa sial! umpat seseorang orang itu kebetulan melihat
seekor burung yang terbang diatas kepalanya berbelok ke arah kiri. Sepanjang
hari itu, dia jadi murung karena yakin bahwa dia bernasib sial walaupun belum
tahu kesialan macam apa yang akan menimpanya.
Orang orang Arab pada masa jahiliyah amat percaya pada takhayul. Contohnya, mereka percaya jika burung yang mereka lihat terbang ke kiri, nasib sial akan menimpa mereka. Sebaliknya jika burung kebetulan terbang ke kanan, nasib baik akan datang. Kepercayaan semacam ini disebut At Tathayyur.
Selain itu, mereka percaya bahwa jika
seseorang mati,rohnya akan menjadi burung. Mereka juga percaya bahwa di dalam
perut manusia ada ular. Ular inilah yang menggigit di dalam perut sehingga
orang merasa lapar.
"Lihat cincin tembagaku ini,
" kata seorang kepada temannya dengan bangga, "Cincin ini adalah
pemberian seorang dukun kepadaku. Tidak sia sia aku memberinya uang banyak agar
membuatkan cincin ini. Jangan coba-coba menantangku berkelahi sekarang. Berkat
cincin ini, aku merasa jauh lebih kuat!
Masih banyak kebodohan serupa yang
mereka perlihatkan. Mereka juga amat taat menyembah berhala-berhala berbentuk
patung. Jika mereka meminta pertolongan kepada berhala, tidak segan-segan
mereka mengorbankan binatang ternak dan mengolesakan darahnya di tubuh berhala.
Bahkan mereka terkadang mereka sampai hati mengorbankan anak- anaknya sendiri
demi mengharap keridhaan berhala.
Selain melakukan kebodohan-kebodohan
itu, mereka masih melakukan banyak sekali hal hal yang merusak.
Catatan tambahan
Awal Mula Penyembahan Berhala
Awal mula penyembahan berhala di
Mekkah ketika seorang bernama Amar bin Luhay membawa berhala besar bernama
Hubal yang dibelinya dari daerah Syam. Di Mekkah, berhala Hubal ditaruh di
Ka'bah dan disuruhnya orang orang datang menyembahnya. Menjelang menaklukan
Mekkah oleh Nabi Muhammad saw. Ka'bah dipenuhi oleh tiga ratus enam puluh
berhala yang terbuat dari batu, kayu, perak, bahkan emas.
MATERI 13 JILID 1
GEMAR MABUK DAN BERJUDI
Bangsa Arab pada masa itu sangat gemar meminum arak. Hampir
semua orang adalah peminum kecuali beberapa saja yang tidak.
"Bawa kemari minumnya! Kita minum sambil berjudi" kata
seseorang kepada teman temannya.
Para pelayan datang membawakan baki dan botol-botol minuman.
Orang orang datang berkumpul sambil tertawa.
"Hei, panggil para penari" perintah tuan rumah.
Para penari datang disambut tepukan dan sorak sorai. Ketika
minuman mulai membuat mereka mabuk, seseorang kembali berseru, "Bawakan
alat alat judi kemari!"
Orang pun membawakan alat-alat judi berupa bilah-bilah kayu dan
sebuah kantung kulit. Beberapa ekor unta dipotong, yang kalah berjudi harus
membayar unta-unta tersebut. Selain berjudi dengan memotong unta, mereka juga
berjudi dengan bermacam macam cara.
Demikianlah minum sambil berjudi adalah kebiasaan yang amat
digemari oleh bangsa Arab saat itu. Bahkan, setelah Nabi Muhammad SAW
mengajarkan Islam,masih banyak pemeluk baru agama Islam yang masih suka meminum
arak sampai turunlah perintah Allah yang berangsur-angsur mengharamkan orang
meminum minuman keras.
Catatan
tambahan
Barm
Judi
memotong unta adalah judi yang paling digemari orang Arab Jahiliyah.
Bilah-bilah kayu dikocok dalam kantung dan dibagikan. Orang yang mendapat undi
kosong dinyatakan kalah dan harus membayar unta yang dipotong. Daging unta
kemudian dibagikan kepada fakir miskin. Orang yang tidak suka berjudi semacam
ini dipandang sebagai seorang kikir, yang biasa disebut barm.
Kisah ini diambil dari Buku Muhammad
Teladanku penerbit : Sygma
MATERI 14 JILID 1
PERAMPOK KEJAM DAN TIDAK SOPAN
Mencuri dan merampok saat itu adalah hal yang biasa. Hanya
sebagian kecil saja orang yang tidak pernah melakukannya. Perampok pun bukan
cuma mengincar harta dan benda, tetapi juga orang yang dirampok. Perampok biasa
menjadikan orang orang yang telah dirampok nya menjadi tawanan dan budak
belian.
Saat itu perilaku bangsa Arab amat kejam, sampai melewati batas
perikemanusiaan. Anak anak perempuannya sendiri mereka bunuh. Ada yang dikubur
hidup hidup ke dalam tanah, ada pula yang ditaruh dalam tong dan diluncurkan
dari tempat yang tinggi. Mereka malu jika mempunyai anak perempuan.
Mereka juga suka menyiksa binatang. Jika seseorang mati,
keluarganya mengikat unta diatas kuburan dan tidak memberikan makan serta minum
sampai si unta mati. Mereka beranggapan unta itu kelak akan menjadi tunggangan
si mati.
Musuh yang tertangkap diperlakukan sangat kejam. Mereka biasa
mengikat musuh pada seekor kuda dan membiarkan kuda tersebut berlari sehingga
orang yang diikat itu mati terseret-seret. Telinga atau hidung musuh yang kalah
dijadikan kalung, serta tengkorak nya dijadikan tempat minum arak.
Orang jahiliyah juga tidak mengenal sopan santun, Mereka biasa
berkeliling Ka'bah tanpa memakai pakaian.
Begitulah kebiasaan Orang Orang Arab saat itu. Mereka adalah
bangsa yang maju perdagangannya, pandai membuat perkakas, membuat obat, ahli
astronomi, serta mahir bersyair. Namun mereka juga mempunyai kebiasaan buruk.
Catatan tambahan
Memakan Bangkai Binatang
Dalam urusan makan dan minum pun tidak ada yang dilarang. Segala
macam binatang boleh dimakan. Binatang yang sudah mati pun disayat dagingnya,
dibakar, dan dimakan. Mereka juga suka meminum darah, binatang, dan makanan
darah yang dibekukan.
MATERI 15 JILID 1
MUTHALIB
Suatu hari, Hasyim pergi berdagang menuju Syam. Ketika melewati
Yatsrib, yang kemudian disebut dengan Madinah, Hasyim melihat seorang wanita
baik-baik dan terpandang.
"Siapakah wanita itu?" tanya Hasyim kepada orang-orang
Yatsrib.
"Dia adalah Salma binti Amr."
"Suaminya telah tiada. Kini dia seorang janda."
Mendengar itu, Hasyim melamar Salma dan Salma pun menerimanya.
Mereka lalu menikah. Hasyim tinggal di Yatsrib beberapa lama. Ketika Salma
mengandung, Hasyim melanjutkan perniagaannya. Namun, itulah kali terakhir Salma
melihat suaminya karena Hasyim tidak pernah kembali lagi. Ia meninggal dunia di
Palestina.
Salma melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Syaibah. Sementara itu, sepeninggal Hasyim, kedudukannya sebagai pemuka masyarakat Mekah dipegang oleh adik Hasyim yang bernama Al Muthalib.
Al Muthalib juga seorang laki-laki terpandang yang dicintai penduduk Mekkah. Orang-orang Quraisy menjulukinya dengan sebutan Al Fayyadh yang berarti Sang Dermawan. Suatu hari, dia mendengar bahwa Syaibah, keponakannya yang tinggal di Yatsrib, sedang tumbuh remaja.
"Aku harus menemuinya," pikir Al Muthalib, "dia adalah anak anak kakakku. Dulu ayahnya adalah pemuka Mekah, maka dia harus pulang untuk melanjutkan kekuasaan ayahnya menggantikan ayahnya aku."
Ketika Al Muthalib bertemu Syaibah di Yatsrib, dia tersentak,
"Anak ini benar-benar mirip Hasyim."
"Mari Nak, ikut Paman ke Mekah, " peluk Al Muthalib.
"Tetapi, jika ibu tidak mengizinkan pergi, aku akan tetap
tinggal di sini," jawab Syaibah.
Catatan Tambahan
Syaibah
Nama Syaibah diberikan karena ada rambut putih
(uban) di kepalanya sejak dia kecil. Selain Syaibah, Hasyim telah memiliki
empat putra dan lima putri yang tinggal di Mekkah.
Komentar
Posting Komentar