ONE DAY ONE SIROH Materi 71 - 80
MATERI 71
JILID 3
PARA PECINTA
KEBENARAN
Sahabat fillahku, selain para penyembah
berhala, orang Nasrani, dan orang Yahudi, masih ada satu kelompok yang lain.
Mereka adalah penganut ajaran Nabi Ibrahim. Jumlah mereka sangat sedikit. Hati
mereka sangat gelisah menyaksikan orang menyembah batu.
"Kalian harus mempunyai
agama," kata mereka kepada para penyembah berhala, "sebab kalian
belum mempunyai Tuhan."
Namun, orang orang tidak menggubris
nasihat itu dan menganggapnya sebagai angin lalu. Satu di antara penganut
ajaran Nabi Ibrahim yang gigih adalah Zaid bin Amir. Ia adalah paman Umar bin
Khattab.
"Tidak seorangpun di antara kalian
yang menganut agama Ibrahim selain saya," demikian kata Zaid kepada
keluarganya. "Kalian menyembah batu yang tidak bisa berbuat apa apa.
Sungguh, kalian telah berada dalam kesesatan!"
Zaid bin Amir mengatakan hal itu
berkali-kali sehingga orang orang pun marah kepadanya. Bahkan, keluarganya
sendiri menjadi geram dan gelisah. Mereka pun beramai-ramai mengusir Zaid dari
Mekah. Zaid terusir dari negerinya sendiri. Ia terlunta-lunta mencari
kebenaran. Dalam perjalanan menuju Syam, ia pun terbunuh di tangan para
perampok.
Kita tahu, bahwa Muhammad sangat
membenci berhala. Beliau lebih dekat kepada ajaran Nabi Ibrahim ini. Namun,hal
tersebut tidaklah cukup memuaskan hatinya. Bagaimana cara menyembah Allah?
Bagaimana Allah menuntun manusia agar keluar dari kesesatan seperti sekarang
ini?
Catatan
Tambahan
Kaum Hanif
Para ahli sejarah menamakan para
pengikut ajaran Nabi Ibrahim ini sebagai kaum hanif. Abu Dzar Al Ghiffari,
Ubaidillah bin Jahsy, serta beberapa orang lain termasuk golongan ini. Mereka
amat membenci berhala dan pantang meminum minuman keras.
MATERI 72
JILID 3
GUA HIRA
Berhala berhala yang bernama Hubal, Lata
dan Uzza itu tidak pernah menciptakan seekor lalat sekali pun, bagaimana
mungkin mereka akan mendatangkan kebaikan bagi manusia?" demikian pikir
Muhammad. "Siapakah yang berada di balik semua ini? Siapa yang berada di
balik luasnya langit dan tebaran bintang? Siapa yang berada di balik padang
pasir yang panas terbakar kilauan matahari? Siapa pencipta langit yang
jernih dan indah, langit yang bermandi cahaya bulan dan bintang yang begitu
lembut, begitu sejuk? Siapa pembuat ombak yang berdebur dan penggali laut yang
begitu dalam? Siapa yang berada di balik semua keindahan ini?"
Demikianlah Muhammad tidak mencari
kebenaran dalam kisah kisah lama atau tulisan para pendeta. Ia mencari
kebenaran lewat alam. Ia mengasingkan dirinya dari keramaian dan pergi ke Gua
Hira.
"Betapa sia sianya hidup manusia,
waktu terus berlalu, sementara jiwa jiwa rusak karena dikuasai khayal tentang
berhala berhala yang mampu melakukan ini dan itu. Betapa sia sianya hidup
manusia karena tertipu dengan segala macam kemewahan yang tiada berguna.
Beliau mengasingkan diri seperti itu
beberapa hari setiap bukan dan sepanjang bulan Ramadhan. Semakin lama, jiwanya
semakin matang dan semakin terisi penuh. Sampai suatu ketika, saat usia
Muhammad menginjak 40 tahun, datanglah seseorang yang bukan dari dunia ini
menemui beliau di Gua Hira. Muhammad yang pemberani dan tenang itu amat
terkejut melihatnya. Tahukah kalian siapa yang datang itu?
MATERI 73
JILID 3
DIANGKAT
MENJADI UTUSAN ALLAH
Makhluk yang datang itu adalah Malaikat
Jibril. Ia datang membangunkan Muhammad yang sedang tidur karena kelelahan.
Jibril membawa sehelai lembaran dan berkata kepada Muhammad, "Iqra
(Bacalah)!"
Dengan hati yang masih rasa terkejut,
Muhammad menjawab, "Saya tidak dapat membaca."
Kemudian Malaikat Jibril mendekap
sehingga Muhammad merasa lemas. Jibril melepaskan dekapannya, lalu berkata
lagi, "Bacalah!"
Kejadian itu berulang sampai tiga kali.
Kemudian, setelah Muhammad berkata, "Apa yang harus saya baca?"
barulah Jibril membacakan Surat Al 'Alaq ayat pertama hingga ayat kelima:
"Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajarkan (manusia)
melalui perantaraan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak
diketahuinya."
Setelah mengucapkan bacaan itu, Malaikat
Jibril pun pergi meninggalkan Muhammad dengan hati yang terhujam firman Allah
tadi.
Muhammad mendadak tersentak sadar.
Beliau terbangun dari ketakutan sambil bertanya-tanya dalam hati,
"Gerangan siapa yang kulihat tadi? Apakah aku telah diganggu jin?"
Beliau menoleh ke kiri dan ke kanan,
tetapi tidak ada siapapun. Muhammad diam sebentar dengan tubuh gemetar. Beliau
lalu lari ke luar gua, menyusuri celah-celah gunung sambil mengulang pertanyaan
dalam hati, "Siapa gerangan yang tadi menyuruhku membaca?"
Mendadak, Muhammad mendengar namanya
dipanggil. Panggilan tersebut terasa dahsyat sekali. Beliau memandang ke
cakrawala dan melihat malaikat dalam bentuk manusia. Muhammad tertegun
ketakutan dan terpaku di tempatnya. Ia memalingkan wajah, tetapi di seluruh
cakrawala, ke mana pun beliau memandang rupa malaikat yang indah itu tidak juga
berlalu.
MATERI 74
JILID 3
KETULUSAN
BUNDA KHADIJAH
Di rumah, Bunda Khadijah tiba-tiba
merasa khawatir dengan nasib suaminya. Beliau mengutus orang untuk
mencari suaminya itu,tetapi tidak berhasil menemukannya.
Sementara itu,setelah rupa malaikat
menghilang,Muhammad pulang dengan hati yang sudah di penuhi wahyu Allah. Dengan
jantung yang terus berdenyut keras dan hati berdebar ketakutan, beliau pulang
ke rumah.
"Selimuti aku," pinta Muhammad
kepada Khadijah.
Khadijah segera menyelimuti suaminya
yang menggigil kedinginan seperti terkena demam. Setelah rasa takutnya mereda,
beliau memandang Khadijah dengan tatapan mata meminta kekuatan dan
perlindungan.
"Khadijah, kenapa aku?" kata
Muhammad.
Kemudian, Muhammad menceritakan semua
yang telah terjadi. Beliau juga berkata bahwa ia takut semua itu bukan datang
dari Allah, melainkan gangguan jin.
"Wahai putra pamanku," jawab
Khadijah penuh sayang, "bergembiralah dan tabahkan hatimu. Demi Dia yang
memegang hidup Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi nabi atas
umat ini. Sama sekali Allah takkan mencemoohkanmu sebab engkaulah yang
mempererat tali kekeluargaan dan jujur dalam berkata-kata. Engkau selalu mau
memikul beban orang lain dan menghormati tamu serta menolong mereka yang dalam
kesulitan atas jalan yang benar."
Kata-kata Bunda Khadijah itu menuangkan
rasa damai dan tenteram ke dalam hati suaminya yang sedang gelisah. Bunda
Khadijah benar-benar yakin bahwa suaminya itu bukan diganggu jin. Beliau malah
memandang suaminya itu dengan penuh rasa hormat.
Muhammad pun segera tenang kembali.
Beliau memandang Bunda Khadijah dengan penuh kasih dan rasa terima kasih. Tiba
tiba, sekujur tubuhnya terasa amat letih dan beliau pun tertidur lelap.
Sejak saat itu, berakhirlah kehidupan
tentang seorang Muhammad. Mulai saat itu, kehidupan penuh perjuangan keras dan
pahit akan dilaluinya sebagai seorang Rasulullah, utusan Allah.
Catatan
Tambahan
Pengorbanan
Seorang Istri
Bunda Khadijah yang berasal dari kalangan
bangsawan Mekah, sadar betul bahwa suaminya kelak akan dibenci orang orang
kafir. Beliau berjuang di sisi suaminya, memilih Islam, dan menjadi pengikut
pertama.
Bunda Khadijah menukar segala miliknya
dengan kejayaan Islam yang tidak pernah beliau cicipi.
MATERI 75
JILID 3
KABAR DARI
WARAQAH BIN NAUFAL
Bunda Khadijah menatap suaminya yang
tertidur pulas itu. Dilihatnya kembali suaminya yang tertidur dengan nyenyak
dan tenang sekali. Bunda Khadijah membayangkan apa yang baru saja dituturkan
suaminya. Firman Allah dan Malaikat yang indah . Luar biasa!
"Semoga kekasihku ini memang akan
menjadi seorang nabi untuk menuntun umat ini keluar dari kegelapan,"
demikian pikir Bunda Khadijah.
Saat berpikir demikian, senyumnya
mengembang. Namun, senyum itu segera menghilang, berganti rasa takut memenuhi
hati tatkala dibayangkan nasib yang bakal menimpa suaminya itu apabila orang
orang ramai menentang.
Demikianlah, pikiran bahagia dan sedih
terus berganti ganti dalam benak Bunda Khadijah. Akhirnya, beliau memutuskan
untuk menceritakan hal ini kepada seseorang bijak yang dipercayanya.
Bunda Khadijah pun pergi menemui
pamannya, Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani yang jujur, dan menceritakan
semua yang didengarnya dari Muhammad.
Waraqah menekur sebentar, lalu berkata,
"Mahasuci Ia, Mahasuci. Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Khadijah,
percayalah, suamimu telah menerima 'namus besar' seperti yang pernah diterima
Musa. Sungguh, dia adalah nabi umat ini. Katakan kepadanya supaya tetap
tabah."
Bunda Khadijah pulang. Dilihatnya
suaminya masih tertidur. Dipandanginya suaminya itu dengan rasa kasih dan penuh
ikhlas, bercampur harap dan cemas. Tiba tiba, tubuh suaminya menggigil,
napasnya terlihat sesak dengan keringat memenuhi wajah. Apa yang terjadi?
Catatan
Tambahan
Namus Besar
Namus besar yang dimaksud Waraqah bin
Naufal berasal dari bahasa Yunani, noms, artinya kitab undang-undang atau kitab
suci yang diwahyukan. Namus bukan istilah Al Qur'an sebab Al Qur'an menyebut
istilah Taurat untuk kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa.
MATERI 76
JILID 3
ORANG YANG
BERSELIMUT
Muhammad yang kini telah menjadi
Rasulullah terbangun karena mendengar Malaikat Jibril membawakan wahyu kepadanya,
"_Hai orang yang berkemul
(berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu. Dan
bersihkanlah pakaianmu. Dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji. Dan
janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang
lebih banyak. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah."
(Q.S. Al Muddatsir 74: 1-7)
Bunda Khadijah memandang Rasulullah
dengan kasih yang bertambah besar. Beliau perlahan mendekati suaminya. Bunda
Khadijah dengan lembut memintanya agar kembali tidur.
"Waktu tidur dan istirahat sudah
tidak ada lagi, Khadijah," demikian jawab Rasulullah.
"Jibril membawa perintah supaya aku
memberi peringatan kepada umat manusia, mengajak mereka, dan supaya mereka
beribadah hanya kepada Allah. Namun, siapa yang akan kuajak? Siapa pula yang
akan mendengarkan?"
Bunda Khadijah cepat cepat menentramkan
hati suaminya. Diceritakannya apa yang tadi dikatakan Waraqah. Dengan penuh
semangat, Bunda Khadijah menyatakan diri sebagai orang yang mengimani
Rasulullah.
Sahabat fillahku, dengan demikian,
tercatat dalam sejarah bahwa orang pertama yang memeluk Islam adalah Bunda
Khadijah.
Untuk lebih menentramkan Rasulullah,
Bunda Khadijah meminta suaminya memberitahu dirinya apabila malaikat datang.
Kemudian Jibril memang datang, namun
hanya Rasulullah yang dapat melihatnya. Bunda Khadijah mendudukkan Rasulullah
di pangkuan sebelah kiri, lalu ke pangkuan sebelah kanan. Malaikat Jibril masih
terlihat oleh Rasulullah. Namun, ketika Bunda Khadijah melepas penutup
wajahnya, Rasulullah melihat Sang Malaikat menghilang.
Dari kejadian itu, Bunda Khadijah merasa
yakin bahwa yang datang itu benar benar malaikat, bukan jin.
MATERI 77
JILID 3
BERTEMU
WARAQAH
Sahabat fillahku, tidak lama kemudian,
Rasulullah bertemu dengan Waraqah bin Naufal. Saat itu, Rasulullah sedang
melaksanakan thawaf. Sesudah Rasulullah menceritakan keadaannya, Waraqah
berkata, "Demi Dia yang memegang hidup Waraqah, engkau adalah nabi atas
umat ini. Engkau telah menerima Namus Besar seperti yang pernah disampaikan
kepada Musa. Pastilah kau akan didustakan, disiksa, diusir, dan diperangi
orang. Kalau sampai pada waktu itu aku masih hidup, pasti aku akan membela tang
di pihak Allah dengan pembelaan yang sudah diketahui-Nya pula."
Kemudian, Waraqah mendekat dan mencium
ubun-ubun Rasulullah.
Kini Rasulullah memalingkan wajah ke
sekitarnya, melihat orang orang yang menyembah patung patung batu. Orang orang
ini juga menjalankan riba dan memakan harta anak yatim. Mereka jelas jelas
berada dalam kesesatan. Kepada orang orang inilah Rasulullah diperintahkan
untuk menyeru agar mereka menghentikan perbuatan perbuatan itu.
Namun, apakah mereka mau berhenti begitu
saja? Orang orang Quraisy itu benar benar amat kuat dalam memegang keyakinan
mereka.
Orang orang itu bahkan siap berperang
dan mati untuk mempertahankan keyakinan mereka. Untuk itu, Rasulullah memerlukan
datangnya wahyu penuntun lagi.
Namun, wahyu yang dinanti Rasulullah
ternyata tidak juga turun. Jibril tidak pernah datang lagi untuk waktu yang
lama. Rasulullah merasa amat terasing. Rasa takutnya kembali muncul. Beliau
takut jika Allah melupakan bahkan tidak menyukainya. Rasulullah kembali pergi
ke bukit dan menyendiri lagi di Gua Hira. Ingin rasanya beliau membumbung
tinggi dengan sepenuh jiwa, menghadap Allah, dan bertanya mengapa dirinya
seolah ditinggalkan?
Apa gunanya hidup ini kalau harapan
besar Rasulullah untuk menuntun umat ternyata menjadi kering? Rasulullah saat
itu, benar benar hampir merasa putus asa.
MATERI 78
JILID 3
SURAT ADH
DHUHA
Tiba-tiba, wahyu itu turun: "Demi
waktu Dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah
sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula)
membencimu, dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang
permulaan. Dan sungguh kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu
sehingga engkau menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim,
lalu Dia melindungi(mu). Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu
Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan,
lalu Dia memberikan kecukupan. Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau
berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah
engkau menghardik(nya). Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan
(dengan bersyukur)."
(Q.S. Adh Dhuha, 93: 1-11)
Sahabat fillahku, rasa cemas dan takut
di hati Rasulullah kini hilang sudah. Betapa damainya firman Allah itu terasa
di hati beliau. Rasulullah harus menjauhi setiap perbuatan mungkar dan
membersihkan pakaian. Beliau harus mengajak orang mengingat Allah. Beliau harus
tabah menghadapi gangguan, tidak boleh menolak orang yang meminta bantuan, dan
berlaku lembut kepada anak yatim.
Allah juga mengingatkan bahwa Rasulullah
yatim, lalu Allah melindunginya lewat asuhan kakeknya, Abdul Muthalib, dan
pamannya, Abu Thalib. Dulu, Rasulullah hidup miskin, lalu Allah memberinya
kekayaan. Allah pula yang telah menyandingkan beliau dengan Bunda Khadijah,
yang menjadi kawan semasa muda, kawan semasa beliau ber-tahannuts, kawan yang
penuh cinta kasih, yang memberi nasihat dengan rasa kasih sayang. Allah telah
mendapati Rasulullah tidak tahu jalan, lalu diberi-Nya beliau petunjuk
kenabian. Cukuplah semua itu. Hendaklah mulai sekarang, Rasulullah mengajak
orang kepada kebenaran, sedapat mungkin, sekuat mungkin.
MATERI 79
JILID 3
SHALAT
Shalat adalah satu di antara ibadah
pertama yang diajarkan Allah kepada Rasulullah. Suatu saat, ketika Rasulullah
dan Bunda Khadijah sedang melaksanakan shalat, datanglah Ali bin Abu Thalib.
Ali yang saat itu masih anak anak, tertegun melihat Rasulullah dan Bunda
Khadijah rukuk, sujud, serta membaca ayat ayat Al Qur'an.
"Kepada siapa kalian sujud?"
tanya Ali ketika Rasulullah dan Bunda Khadijah selesai shalat.
"Kami sujud kepada Allah, "
jawab Rasulullah, "Allah telah mengutusku dan memerintahkan aku mengajak
manusia menyembah Allah."
Kemudian, Rasulullah mengajak sepupunya
itu untuk beribadah kepada Allah semata serta meninggalkan berhala berhala
semacam Lata dan Uzza. Rasulullah pun membacakan beberapa ayat Al Qur'an yang
membuat Ali bin Abu Thalib terpesona karena ayat ayat itu demikian indah.
Ali meminta waktu untuk berunding dengan
ayahnya terlebih dahulu. Semalaman itu, Ali merasa gelisah. Esoknya, ia
memberitahukan kepada Rasulullah dan Bunda Khadijah bahwa ia akan mengikuti
mereka berdua, tidak perlu meminta pendapat Abu Thalib.
"Allah menjadikan saya tanpa saya
perlu berunding dulu dengan Abu Thalib," demikian kata Ali, "apa
gunanya saya harus berunding dengan dia untuk menyembah Allah?"
Jadi, Ali adalah anak pertama yang
memeluk Islam. Kemudian, Zaid bin Haritsah, bekas budak Rasulullah, ikut masuk
Islam juga. Sampai di situ, Islam masih terbatas pada keluarga Rasulullah:
istri beliau, sepupu beliau, serta bekas budak beliau. Apa yang harus beliau
lakukan untuk menyebarkan Islam lebih luas lagi? Beliau tahu betul betapa
kerasnya dan betapa kuatnya orang orang Quraisy menyembah berhala yang diwarisi
dari nenek moyang mereka.
Catatan
Tambahan
Shalat
Shalat adalah ibadah yang terdiri dari
perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhiri
dengan memberi salam. Menurut bahasa, shalat berarti 'doa untuk kebaikan.'
MATERI 80
JILID 3
KEISLAMAN ABU
BAKAR
Abu Bakar bin Abu Quhafa dari kabilah
Bani Taim adalah teman akrab Rasulullah sejak zaman sebelum Islam. Rasulullah
amat menyukai sahabatnya itu karena Abu Bakar adalah orang yang bersih, jujur,
dan dapat dipercaya.
Suatu hari, Abu Bakar mendengar desas
desus tentang Rasulullah. Beliau segera keluar mencari sahabatnya itu. Ketika
mereka bertemu, Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Abu Qasim
(salah satu panggilan Rasulullah), ada apa denganmu? Kini engkau tidak lagi
terlihat di majelis kaummu dan kudengar orang orang menuduh bahwa engkau telah berkata
buruk tentang nenek moyangmu dan masih banyak lagi yang mereka katakan."
"Sesungguhnya, aku adalah utusan
Allah," sabda Rasulullah, "Allah mengutusku untuk menyampaikan
risalah-Nya. Sekarang, aku mengajak kamu kepada agama Allah dengan keyakinan
yang benar. Demi Allah, sesungguhnya, apa yang kusampaikan adalah kebenaran.
Wahai Abu Bakar, aku mengajak kamu untuk menyembah Allah yang Maha Esa, yang
tidak ada sekutu bagi-Nya, dan janganlah menyembah kepada selain-Nya, dan untuk
yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan janganlah menyembah kepada selain-Nya, dan
untuk selamanya kamu taat kepada-Nya."
Rasulullah memperdengarkan beberapa ayat
Al Qur'an. Selesai Rasulullah berbicara, Abu Bakar langsung memeluk Islam.
Melihat keislaman sahabatnya itu, Rasulullah amat gembira. Tidak seorang pun
yang ada di antara dua gunung di Mekah yang kegembiraannya melebihi kegembiraan
Rasulullah saat itu.
Abu Bakar segera mengumumkan
keislamannya itu kepada teman temannya. Beliau juga mengajak mereka mengikuti
Rasulullah. Dalam waktu singkat, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah,
Zubair bin Awwam, dan Sa'ad bin Abu Waqash pun menemui Rasulullah dan masuk
Islam.
Komentar
Posting Komentar