ONE DAY ONE SHIRAH MateriI 61 - 70

MATERI 61 JILID 2
MEMBANGUN KA'BAH

Sahabat fillahku, oleh Quraisy, pengerjaan Ka'bah dibagi menjadi empat bagian. Setiap kabilah masing masing mendapat satu sudut yang harus dirombak dan dibangun kembali. Pemugaran Ka'bah dimulai dengan memindahkan patung Hubal dan patung kecil lainnya. Setelah itu, pekerjaan dilanjutkan dengan membersihkan pelataran dan membongkar dinding serta fondasi. Muhammad ikut terlibat dalam pekerjaan yang berlangsung berhari-hari itu.

Ada sebuah batu fondasi berwarna hijau yang tidak bisa dibongkar dengan cara apa pun. Karena itu, batu itu mereka biarkan. Selanjutnya, didatangkanlah batu batu granit biru dari bukit sekitar. Sebuah bahan pencampur semen bernama bitumen yang didatangkan dari Syiria pun mulai digunakan. Pemugaran Ka'bah ini sebenarnya lebih menyerupai perbaikan hasil karya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Pondasi Ka'bah ditinggikan sampai empat hasta ditambah satu jengkal atau sekitar dua meter. Ke dalamnya diuruk tanah menjadi lantai yang sulit dicapai air apabila banjir datang kembali. Bersamaan dengan itu, pintu di sisi timur laut pun diangkat setinggi pondasi. Dinding dinaikkan sampai 18 hasta. Saat itulah Ka'bah mulai diberi atap bekas kapal yang kandas itu. Sebuah tangga untuk naik turun juga disiapkan. Kini Ka'bah bebas dari banjir. Isinya terlindungi dari hujan, panas dan tangan jahil pencuri.

Pembangunan berjalan lancar sesuai dengan rencana sampai dinding tembok mencapai tinggi satu setengah meter dan tiba saatnya batu hitam, Hajar Aswad, ditempatkan kembali ke tempatnya semula di sudut timur. Karena ini merupakan upacara suci penuh kehormatan, berebut lah setiap kabilah untuk melaksanakannya. Kabilah Abdu Dar merasa lebih berhak daripada Kabilah lain sehingga kedua kelompok saling beradu mulut sampai suasana menjadi semakin panas.

Di tengah keadaan itu, muncul Abu Umayyah bin Al Mughirah. Ia adalah orang tua yang dihormati dan dipatuhi. Ia pun mengajukan sebuah usul yang disetujui oleh semua pihak, "Serahkanlah putusan ini di tangan orang yang pertama kali memasuki pintu Shafa."


CATATAN TAMBAHAN
Sifat Muhammad

Sahabat fillahku, Muhammad telah mendapat karunia Allah dengan pernikahan ini. Dari seorang pemuda miskin, Allah telah mengangkatnya menjadi laki-laki berkedudukan tinggi dengan harta yang mencukupi.



MATERI 62 JILID 2
HAJAR ASWAD

Sahabat fillah, ternyata yang datang pertama kali dari pintu Shafa adalah Muhammad.  Orang orang pun bersorak lega.

"Ini dia Al Amin" seru mereka. " Dia adalah orang yang bisa dipercaya. Kami yakin dia bisa memecahkan persoalan ini. Kami akan menerima putusannya. "

Orang-orang Quraisy pun menceritakan persoalan yang mereka alami. Muhammad yang saat itu belum berumur 30 tahun, memandang mereka dengan matanya yang teduh dan bijaksana. Muhammad melihat berkobarnya api permusuhan pada mata setiap orang dari masing masing kabilah Quraisy. Keadaan ini benar benar genting. Kalau salah mengambil keputusan, akan terjadi pertumpahan darah diantara kabilah kabilah itu.

Muhammad berpikir sejenak, lalu dia berkata," tolong bawakan sehelai kain." 

Kain pun segera diberikan. Muhammad mengambil dan menghamparkan kain itu. Dia lalu mendekati Hajar Aswad. Diangkatnya batu hitam itu dan diletakkan di tengah-tengah.

"Hendaknya,  setiap ketua kabilah memegang ujung kain ini," kata beliau lagi.

Kemudian, para ketua kabilah memegang ujung kain dan bersama sama mengangkat Hajar Aswad. Di tempat Hajar Aswad semula berada. Muhammad mengangkat dan meletakkannya kembali.

Semua pihak merasa amat puas dengan keputusan Muhammad yang adil itu. Demikianlah, pada waktu muda. Rosulullah telah menjadi orang yang cerdas dan bijaksana.

Catatan Tambahan
HAJAR ASWAD DICURI

Tanggal 18 Januari 930 muncul 1500 orang gerombolan sekte Qaramithah yang menyusup dalam rombongan jamaah haji. Enam hari kemudian, mereka mencuri dan menyandera Hajar Aswad. Lebih dari dua puluh tahun kemudian, yaitu tahun 951 masehi. Khalifah Al Mansur dari dinasti Fatimiah menebusnya dengan harga luar biasa dan mengembalikannya ke Mekah.


MATERI 63 JILID 2
PUTRA PUTRI MUHAMMAD

Sahabat fillahku, Bunda Khadijah adalah wanita teladan yang terbaik. Beliau wanita yang penuh kasih, setia, dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk suami tercinta. Bunda Khadijah juga wanita yang subur. Setelah lima belas tahun berumahtangga, beliau melahirkan enam orang anak. Mereka adalah Ruqayyah, Zainab, Ummi Kultsum, Fatimah, Qasim dan Abdullah. Namun, Qasim dan Abdullah wafat ketika masih bayi, sedangkan keempat anak perempuan yang lain tetap hidup hingga dewasa. Kita dapat membayangkan betapa sedihnya Muhammad dan Bunda Khadijah.

Ketika pulang ke rumah dan duduk disamping Bunda Khadijah, Muhammad sering melihat kesedihan di wajah istrinya itu. Saat itu, mempunyai anak laki laki bagi masyarakat jahiliah adalah hal yang amat penting dan dianggap sebagai sebuah kebanggaan. Sebaliknya, mempunyai anak perempuan adalah hal yang amat memalukan, bahkan banyak orang yang memilih mengubur bayi perempuannya hidup hidup daripada memelihara nya.

Tentu saja Muhammad dan Bunda Khadijah tidak merasa malu memiliki anak anak perempuan.  Mereka menyayangi semua anak mereka tanpa pilih kasih. Apalagi putri bungsu mereka, Fatimah, yang saat itu berusia lima tahun, anak cantik yang sedang lucu lucunya. Hanya saja kehilangan dua anak laki laki yang masih bayi merupakan derita yang berat bagi orangtua manapun.


Catatan Tambahan
 Kekayaan Terbesar

Rasulullah pernah berkata bahwa kekayaan terbesar adalah istri yang salehah. Bunda Khadijah adalah kekayaan terbesar Rasulullah pada saat saat paling sulit dalam hidup beliau.


MATERI 64 JILID 2
RUMAH TANGGA MUHAMMAD

Sahabat fillahku, Muhammad selalu membuat suasana rumahnya menjadi hidup dengan canda dan keramahan. Beliau suka berkelakar kepada siapa pun. Bukan hanya kepada istri dan putri putrinya, beliau juga amat ramah kepada pembantunya.

Anas bin Malik adalah pembantu rumah tangga Muhammad setelah beliau diangkat menjadi Rasulullah dan hijrah ke Madinah. Ia pernah ikut keluarga Rasulullah selama dua belas tahun. Dengarlah apa yang Anas katakan, "Saya melayani Rasulullah sejak saya berusia 8 tahun. Selama 12 tahun, beliau belum pernah memarahi saya satu kali pun walau saya melakukan kesalahan."

"Rasulullah paling suka makan sambil duduk bersila di lantai," kata Anas bin Malik lagi. "Beliau paling suka makan bersama. Beliau pernah berkata, 'Sungguh malang orang yang makan sendirian.'"

"Rasulullah gemar makan daging, tetapi beliau  lebih sering menyantap kurma dan minum susu. Kalau ada yang menyuguhinya semangkuk susu, beliau akan berkata, 'Allah memberi rahmat pada susu. Mudah-mudahan masih ada lagi.'"

Sahabat fillahku, sejak muda, Rasulullah amat gemar memakai parfum. Bau wewangian itu akan membuat orang orang di sekitar beliau merasa senang. Rasulullah tidak menyukai baju berwarna merah. Beliau lebih suka baju berwarna lurik atau putih. Rasulullah juga gemar memakai surban dengan salah satu ujungnya menggelantung antara pundak. Beliau tidak pernah menggunakan baju yang seluruhnya terbuat dari sutera.


Catatan Tambahan
 Siwak 

Rasulullah amat bersih. Beliau sangat sering berwudhu. Pakaiannya juga tidak pernah kotor. Beliau selalu membawa siwak ke mana mana. Siwak adalah batang semak gurun sebesar pensil. Siwak digunakan untuk membersihkan gigi. "Kalau saya tidak ingin nanti memberatkan umat, saya akan mewajibkan kegiatan membersihkan gigi," sabda Rasulullah kemudian.


MATERI 65 JILID 2
ZAID BIN HARITSAH

Suatu hari, keponakan Bunda Khadijah yang bernama Hakim bin Hizam membawa seorang budak laki laki bernama Zaid bin Haritsah. Zaid tiba dibawa ke rumah Bunda Khadijah dalam keadaan mengenaskan. Lehernya dibelenggu sehingga ia terpaksa merangkak seperti seekor kuda. Bunda Khadijah membeli Zaid dan memperlakukannya dengan baik.

Muhammad amat menyukai Zaid. Apalagi ketika Zaid bercerita bahwa ia dijadikan budak dengan cara diculik.

Lima belas tahun yang lalu, Zaid kecil sedang berjalan pulang bersama ibunya ketika datang para perampok gurun. Zaid disergap dan dibawa lari. Sejak itulah ia hidup sebagai seorang budak yang diperjualbelikan ke sana kemari. Nasiblah yang membawanya bertemu dengan Rasulullah, orang yang amat Zaid cintai.

Melihat Muhammad amat menyayangi Zaid, Bunda Khadijah memberikan Zaid kepada suaminya itu. Bunda Khadijah yang bijaksana mengerti bahwa suaminya menganggap Zaid seolah sebagai pengganti Qasim dan Abdullah yang telah tiada . Muhammad segera memerdekakan Zaid. Namun, secara tidak terduga, datanglah Haritsah, ayah Zaid.

Haritsah telah bertahun-tahun mencari Zaid sejak anaknya itu menghilang. Haritsah amat menyayangi dan merindukan Zaid sehingga ia membuat puisi kesedihan tentang anaknya itu. Zaid pun amat menyayangi ayahnya.

"Silakan membawa Zaid pulang," kata Muhammad kepada Haritsah. "Tetapi, seandainya Zaid memilih tetap bersama saya, saya tidak akan menolaknya."

Ternyata, Zaid lebih memilih tinggal bersama Muhammad. Muhammad amat bahagia sehingga mengangkat Zaid sebagai putra beliau. Sejak saat itu, Zaid sering dipanggil Zaid bin Muhammad. Kelak, ketika Islam telah datang, Allah melarang anak angkat mewarisi harta ayah angkatnya yang telah wafat. Harta seorang ayah tetaplah menjadi hak anak kandung, bukan anak angkat. Mahaadil Allah Yang Agung.


Catatan Tambahan
Syahid pada Perang Mu'tah

Sebetulnya, Zaid tidaklah terlalu tampan. Kulitnya cokelat kehitaman, usianya sebelas tahun lebih muda dari Rasulullah. Namun, semangat jihadnya tidak tertandingi. Kelak, ia gugur sebagai syuhada ketika menjadi panglima pasukan muslim pada perang Mu'tah melawan pasukan Romawi.


MATERI 66 JILID 2
ZAINAB


Zainab adalah putri tertua Rasulullah. Ia menikah dengan sepupunya,Abu Al-Ash bin Rabi. Ibu Abu Al-Ash bernama Halah. Ia adalah kakak perempuan Bunda Khadijah. Pernikahan itu berlangsung jauh sebelum Muhammad di angkat  menjadi seorang Rasulullah. Sahabat fillahku,kisah cinta Zainab dan Abu Al-Ash masyhur karena gelombang kesulitan yang kemudian mereka hadapi.

Abu Al-Ash adalah orang yang jujur. Bisnisnya sangat maju dan ia berpeluang menjadi seorang yang sangat sukses dalam perdagangan. Namun,ketika Rasulullah mulai memperkenalkan Islam,Abu Al-Ash memilih tetap menyembah berhala. Sementara itu,Zainab bersegera memeluk agama baru itu. Ketika Islam makin menyebar,perlawanan kaum Quraisy semakin kuat. Ummu Jamil,istri Abu Lahab,menyerukan agar Abu Al-Ash menceraikan istrinya. Namun,Abu Al-Ash menolak.

Dalam Perang Badar,Abu Al-Ashmenjadi prajurit Quraisy menghadapi pasukan Muslim. Abu Al-Ash tertangkap dan dibawa sebagai tawanan. Zainab yang masih tinggal di Mekah mengirimkan kalung ibunya untuk menebus Abu Al-Ash. Rasulullah amat terharu melihat kalung almarhumah Khadijah.

"Kalau kalian berpendapat tawanan ini dibebaskan tanpa uang tebusan, bebaskanlah dia,"kata Rasulullah  kepada para sahabat.

Para sahabat terdiam. Uang tebusan biasanya  berjumlah sangat besar. Jika Abu Al-Ash di bebaskan tanpa uang tebusan,itu berarti mengurangi jatah uang untuk Rasulullah. Padahal,mereka telah mempertetuhkan nyawa dalam perang. Apalagi saat itu banyak sahabat yang hidup melarat karena kekayaan hidup  mereka diambil kaum Quraisy ketika mereka berhijrah ke Madinah. Namun,para sahabat mengerti bahwa uang bukanlah tujuan mereka berperang. Terlebih,mereka tidak ingin melihat Rasulullah berduka memikirkan perasaan putrinya. Para sahabat pun segera membebaskan Abu Al Ash.

Allah kemudian melarang pernikahan antara wanita  Muslim dengan seorang kafir. Mengetahui hal itu, Zainab pun meninggalkan Abu Al Ash dan pergi ke Madinah untuk bergabung dengan ayahnya. Tentu, Zainab dan Abu Al Ash amat menderita karena harus berpisah. Namun, bagi Zainab, firman Allah berada di atas derita pribadi. Abu Al Ash pun melepas Zainab justru karena ia amat mencintai istrinya itu.


Catatan Tambahan 
 Abu Al Ash Masuk Islam

Suatu ketika, kafilah dagang Abu Al Ash dicegat pasukan Muslim. Abu Al Ash memohon bantuan Zainab di Madinah. Saat itulah Abu Al Ash kemudian masuk Islam. Mereka dikaruniai seorang putra bernama Ali yang wafat ketika bayi dan seorang putri bernama Umamah.


MATERI 67 JILID 2
RUQAYYAH DAN UMMU KULTSUM

Bagaimana kisah putra-putri Rasulullah yang lain? Ruqayyah menikah dengan Utbah. Sementara itu, Ummu Kultsum menikah dengan Utaibah. Utbah dan Utaibah adalah kakak-beradik. Mereka adalah putra Abdul Uzza yang ketika Islam  datang,sangat keras memusuhi Rasulullah dan para pengikutnya. Begitu kerasnya permusuhan mereka  sampai kaum muslimin menamai Abdul Uzza sebagai "Abu Lahab". Lahab berarti 'gejolak api'.

Ketika Rasulullah mulai mendakwahkan Islam, Ruqayyah dan Ummu Kultsum jadi amat menderita. Hampir setiap hari ibu mertua mereka, Ummu Jamil, mencaci maki Rasulullah. Ummu Jamil adalah adik Abu Sufyan yang memimpin penindasan terhadap kaum Muslimin.

Ummu Jamil semakin tidak kuasa menahan marahnya melihat kesabaran Ruqayyah dan Ummu Kultsum walau ia selalu menyumpahserapahi Rasulullah di depan mereka setiap ada kesempatan. Kemarahan itu pun segera mencapai puncaknya.

"Ceraikan mereka!" teriak Ummu Jamil kepada kedua putranya, Utbah dan Utaibah. "Usir mereka dari sini!"

Utbah dan Utaibah pun menceraikan Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Sesuai dengan janji kaum kafir, Utbah dan Utaibah dinikahkan dengan dua putri seorang jutawan Quraisy, Abu Uhaihah. Sementara itu, Ruqayyah dan Ummu Kultsum yang diusir begitu saja, kembali ke rumah orangtua mereka sambil menangis tersedu-sedu.

Sudah tentu dapat dimengerti betapa hancurnya hari Rasulullah dan Bunda Khadijah melihat kedua putri mereka diperlakukan secara semena-mena. Namun, Mahasuci Allah yang kemudian memberi jodoh yang lebih baik.

Ruqayyah kemudian menikah dengan Utsman bin Affan, salah seorang sahabat besar. Ruqayyah sempat ikut hijrah ke Habasyah dan Madinah. Namun ketika Rasulullah baru pulang dari Perang Badar, beliau menemui Ruqayyah telah wafat.

Beliau kemudian menikahkan Utsman bin Affan dengan  Ummu Kultsum. Namun, tidak lama kemudian  Ummu Kultsum pun wafat menyusul kakaknya. Kedua putri Rasulullah ini wafat tanpa meninggalkan keturunan.


MATERI 68 JILID 3
ALI BIN ABU THALIB

Sahabat fillahku, selain Zaid bin Haritsah, ada penghuni laki-laki lagi di dalam rumah tangga Muhammad yang penuh berkah itu. Ia adalah Ali bin Abu Thalib. Mulanya, Ali bin Abu Thalib tinggal di rumah ayahnya. Namun, suatu saat, Mekah dilanda musim paceklik. Kekeringan yang mengganas itu membuat kehidupan menjadi bertambah sulit. Abu Thalib yang hidup sederhana sangat merasakan keadaan ini. Apalagi, Abu Thalib memiliki banyak putra yang harus diberi makan.

Melihat hal itu, Muhammad mengajak Abbas dan Hamzah, adik adik Abu Thalib, untuk memelihara putra putra Abu Thalib. Abbas dan Hamzah setuju dengan usul yang mulia ini. Mereka bertiga pun menemui Abu Thalib.

Abu Thalib hanya pasrah bercampur lega. Ia memperbolehkan kedua adiknya dan Muhammad untuk mengasuh anak anaknya. Abbas mengambil Thalib, Hamzah memelihara Ja'far, dan Muhammad mengasuh Ali. Hanya Aqil, sang putra bungsu yang masih dipelihara Abu Thalib.

Saat tinggal di rumah Muhammad, Ali berumur lima atau enam tahun   ia anak yang sehat. Kulitnya agak kecoklatan. Tubuhnya gempal dan tegap. Sorot matanya tajam. Kalau tersenyum giginya tampak.

Tindakan Muhammad ini dilakukan untuk membalas budi Abu Thalib yang tidak terhingga, yakni telah memelihara beliau sejak kakeknya, Abdul Muthakib wafat. Selain itu, Muhammad juga ingin mencurahkan kasih sayang kepada seorang anak laki laki sebagai pengganti kedua putra beliau, Qasim dan Abdullah.

Dibawa asuhan Muhammad, Ali bin Abu Thalib tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian luhur. Kemudian ia menjadi menantu Rasulullah dan mempunyai dua orang putra yang terkenal dalam sejarah Islam, Hasan dan Husain. Rasulullah amat menyayangi kedua cucunya ini.


MATERI 69 JILID 3
MENCINTAI ANAK-ANAK

Sejak masa mudanya, Rasulullah amat mencintai anak-anak. Sewaktu pulang dari Perang Badar, beliau mengajak Usamah, putra Zaid bin Haritsah, naik unta bersama. Saat itu, Usamah berusia 10 tahun.

Rasulullah adalah kakek yang penyayang. Beliau sangat sering bermain dengan cucu cucunya. Beliau membiarkan Umamah, putri Zainab dan Abu Al Ash, menarik-narik jubah saat beliau sedang sholat. Bahkan, Rasulullah membiarkan Umamah menunggangi punggung ketika beliau juga sedang shalat.

Suatu hari, Rasulullah pernah berkumpul dengan para istrinya. Beliau menggendong Umamah sambil mengeluarkan seuntai kalung.

"Kalung ini akan kuberikan kepada orang yang paling aku cintai," kata Rasulullah sambil memandang istrinya satu per satu.

Para istri Rasulullah saling memandang dengan memendam rasa berdebar. Siapakah di antara mereka yang akan mendapatkan kalung itu? Ketika Rasulullah melihat candanya mengena, sambil tersenyum, beliau memberikan kalung itu kepada Umamah.

Pada saat lain, Rasulullah pernah dikencingi seorang bayi sampai baju beliau basah. Ibu sang anak merenggut anaknya dari gendongan Rasulullah dengan keras. Melihat hal itu, Rasulullah langsung berkata, "Air kencing ini bisa dibersihkan, tetapi hati seorang anak yang dipukul akan tetap terluka."

Setelah itu, beliau pun melaksanakan shalat tanpa berwudhu lagi. Beliau hanya mencipratkan air pada pakaian yang terkena kencing.

Ada seorang anak yang sering dikunjungi oleh Rasulullah. Suatu saat, anak itu tampak murung karena burung peliharaannya lepas. Rasulullah pun segera datang dan membuat anak itu tersenyum kembali. Rasulullah juga banyak menghabiskan waktu bermain dengan anak anak kaum Muslimin yang lahir di negeri hitam Habasyah. Beliau tersenyum melihat mereka mengucapkan kata kata dalam bahasa Habasyah yang terdengar lucu.


Catatan Tambahan
Kuda Kesayangan Rasulullah

Rasulullah punya kuda kesayangan.
Kuda itu berwarna coklat dengan belang putih di dahi. Keempat kakinya pun berwarna putih dari lutut ke bawah.


MATERI 70 JILID 3
PANDAI BERGAUL

Sahabat fillahku, Rasulullah sangat pandai bergaul dengan siapa saja. Beliau mempunyai banyak kenalan baik, mulai dari budak sampai ke para pembesar. Rasulullah sangat menghormati sahabat sahabatnya. Bahkan, banyak di antara mereka yang beliau beri julukan "kesayangan". Sebaliknya, para sahabat pun amat menyayangi Rasulullah. Sebagian mereka memberi Rasulullah dengan julukan "kesayangan" juga. Abu Dzar memberi julukan "khalil" kepada Rasulullah. Khalil berarti 'teman' atau 'kekasih'.

Rasulullah tidak pernah menolak undangan. Sesibuk apa pun, Rasulullah selalu bisa membagi waktu dengan baik untuk memenuhi undangan. Hal hal seperti ini membuat beliau amat dihormati dan dihargai lawan ataupun kawan.

Rasulullah menjadi orang yang disayangi dengan tidak banyak mengumbar bicara. Sebaliknya, beliau malah lebih suka mendengar daripada berbicara. Rasulullah selalu berkata seperlunya. Kalau bicara, kata katanya mengalir lancar dari celah gigi giginya. Rasulullah selalu bicara ke pokok masalah, jelas, tanpa bertele-tele.

Jika sedang marah, wajah beliau berubah, tetapi beliau selalu menyembunyikan dari orang lain. Kalau disakiti, beliau membuang wajahnya ke samping. Kalau gembira, Rasulullah menundukkan kepala. Canda beliau selalu sopan dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak. Tertawa beliau hanya senyum.

Selain amat menyayangi sesama manusia, beliau adalah penyayang binatang. Tahun 630 M, beliau pernah berjalan memimpin 10.000 tentara Muslim. Saat itu, Rasulullah melihat seekor anjing bersama anak-anaknya menghalangi jalan. Beliau memerintahkan agar pasukan tidak mengganggu sang induk anjing dan anak anaknya. Rasulullah bahkan memerintahkan seorang prajurit menjaga anjing itu sampai semua pasukan lewat.

Mungkin terbersit pertanyaan, dengan pribadi yang sehebat itu , Apakah Muhammad sudah tau tentang Allah sebelum beliau diangkat menjadi utusan -Nya?


Komentar

Postingan Populer