ONE DAY ONE SHIRAH MateriI 61 - 70
MATERI 61
JILID 2
MEMBANGUN
KA'BAH
Sahabat fillahku, oleh Quraisy,
pengerjaan Ka'bah dibagi menjadi empat bagian. Setiap kabilah masing masing
mendapat satu sudut yang harus dirombak dan dibangun kembali. Pemugaran Ka'bah
dimulai dengan memindahkan patung Hubal dan patung kecil lainnya. Setelah itu,
pekerjaan dilanjutkan dengan membersihkan pelataran dan membongkar dinding
serta fondasi. Muhammad ikut terlibat dalam pekerjaan yang berlangsung
berhari-hari itu.
Ada sebuah batu fondasi berwarna hijau
yang tidak bisa dibongkar dengan cara apa pun. Karena itu, batu itu mereka
biarkan. Selanjutnya, didatangkanlah batu batu granit biru dari bukit sekitar.
Sebuah bahan pencampur semen bernama bitumen yang didatangkan dari Syiria pun
mulai digunakan. Pemugaran Ka'bah ini sebenarnya lebih menyerupai perbaikan
hasil karya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Pondasi Ka'bah ditinggikan sampai empat
hasta ditambah satu jengkal atau sekitar dua meter. Ke dalamnya diuruk tanah
menjadi lantai yang sulit dicapai air apabila banjir datang kembali. Bersamaan
dengan itu, pintu di sisi timur laut pun diangkat setinggi pondasi. Dinding
dinaikkan sampai 18 hasta. Saat itulah Ka'bah mulai diberi atap bekas kapal
yang kandas itu. Sebuah tangga untuk naik turun juga disiapkan. Kini Ka'bah
bebas dari banjir. Isinya terlindungi dari hujan, panas dan tangan jahil
pencuri.
Pembangunan berjalan lancar sesuai
dengan rencana sampai dinding tembok mencapai tinggi satu setengah meter dan
tiba saatnya batu hitam, Hajar Aswad, ditempatkan kembali ke tempatnya semula
di sudut timur. Karena ini merupakan upacara suci penuh kehormatan, berebut lah
setiap kabilah untuk melaksanakannya. Kabilah Abdu Dar merasa lebih berhak
daripada Kabilah lain sehingga kedua kelompok saling beradu mulut sampai
suasana menjadi semakin panas.
Di tengah keadaan itu, muncul Abu
Umayyah bin Al Mughirah. Ia adalah orang tua yang dihormati dan dipatuhi. Ia
pun mengajukan sebuah usul yang disetujui oleh semua pihak, "Serahkanlah
putusan ini di tangan orang yang pertama kali memasuki pintu Shafa."
CATATAN TAMBAHAN
Sifat
Muhammad
Sahabat fillahku, Muhammad telah
mendapat karunia Allah dengan pernikahan ini. Dari seorang pemuda miskin, Allah
telah mengangkatnya menjadi laki-laki berkedudukan tinggi dengan harta yang
mencukupi.
MATERI 62
JILID 2
HAJAR ASWAD
Sahabat fillah, ternyata yang datang
pertama kali dari pintu Shafa adalah Muhammad. Orang orang pun bersorak
lega.
"Ini dia Al Amin" seru mereka.
" Dia adalah orang yang bisa dipercaya. Kami yakin dia bisa memecahkan
persoalan ini. Kami akan menerima putusannya. "
Orang-orang Quraisy pun menceritakan
persoalan yang mereka alami. Muhammad yang saat itu belum berumur 30 tahun,
memandang mereka dengan matanya yang teduh dan bijaksana. Muhammad melihat
berkobarnya api permusuhan pada mata setiap orang dari masing masing kabilah
Quraisy. Keadaan ini benar benar genting. Kalau salah mengambil keputusan, akan
terjadi pertumpahan darah diantara kabilah kabilah itu.
Muhammad berpikir sejenak, lalu dia
berkata," tolong bawakan sehelai kain."
Kain pun segera diberikan. Muhammad
mengambil dan menghamparkan kain itu. Dia lalu mendekati Hajar Aswad.
Diangkatnya batu hitam itu dan diletakkan di tengah-tengah.
"Hendaknya, setiap ketua
kabilah memegang ujung kain ini," kata beliau lagi.
Kemudian, para ketua kabilah memegang
ujung kain dan bersama sama mengangkat Hajar Aswad. Di tempat Hajar Aswad
semula berada. Muhammad mengangkat dan meletakkannya kembali.
Semua pihak merasa amat puas dengan
keputusan Muhammad yang adil itu. Demikianlah, pada waktu muda. Rosulullah
telah menjadi orang yang cerdas dan bijaksana.
Catatan Tambahan
HAJAR ASWAD
DICURI
Tanggal 18 Januari 930 muncul 1500 orang
gerombolan sekte Qaramithah yang menyusup dalam rombongan jamaah haji. Enam
hari kemudian, mereka mencuri dan menyandera Hajar Aswad. Lebih dari dua puluh
tahun kemudian, yaitu tahun 951 masehi. Khalifah Al Mansur dari dinasti
Fatimiah menebusnya dengan harga luar biasa dan mengembalikannya ke Mekah.
MATERI 63
JILID 2
PUTRA PUTRI
MUHAMMAD
Sahabat fillahku, Bunda Khadijah adalah
wanita teladan yang terbaik. Beliau wanita yang penuh kasih, setia, dan
menyerahkan seluruh hidupnya untuk suami tercinta. Bunda Khadijah juga wanita
yang subur. Setelah lima belas tahun berumahtangga, beliau melahirkan enam
orang anak. Mereka adalah Ruqayyah, Zainab, Ummi Kultsum, Fatimah, Qasim dan
Abdullah. Namun, Qasim dan Abdullah wafat ketika masih bayi, sedangkan keempat
anak perempuan yang lain tetap hidup hingga dewasa. Kita dapat membayangkan
betapa sedihnya Muhammad dan Bunda Khadijah.
Ketika pulang ke rumah dan duduk
disamping Bunda Khadijah, Muhammad sering melihat kesedihan di wajah istrinya
itu. Saat itu, mempunyai anak laki laki bagi masyarakat jahiliah adalah hal
yang amat penting dan dianggap sebagai sebuah kebanggaan. Sebaliknya, mempunyai
anak perempuan adalah hal yang amat memalukan, bahkan banyak orang yang memilih
mengubur bayi perempuannya hidup hidup daripada memelihara nya.
Tentu saja Muhammad dan Bunda Khadijah
tidak merasa malu memiliki anak anak perempuan. Mereka menyayangi semua
anak mereka tanpa pilih kasih. Apalagi putri bungsu mereka, Fatimah, yang saat
itu berusia lima tahun, anak cantik yang sedang lucu lucunya. Hanya saja
kehilangan dua anak laki laki yang masih bayi merupakan derita yang berat bagi
orangtua manapun.
Catatan Tambahan
Kekayaan
Terbesar
Rasulullah pernah berkata bahwa kekayaan
terbesar adalah istri yang salehah. Bunda Khadijah adalah kekayaan terbesar
Rasulullah pada saat saat paling sulit dalam hidup beliau.
MATERI 64
JILID 2
RUMAH TANGGA
MUHAMMAD
Sahabat fillahku, Muhammad selalu
membuat suasana rumahnya menjadi hidup dengan canda dan keramahan. Beliau suka
berkelakar kepada siapa pun. Bukan hanya kepada istri dan putri putrinya,
beliau juga amat ramah kepada pembantunya.
Anas bin Malik adalah pembantu rumah
tangga Muhammad setelah beliau diangkat menjadi Rasulullah dan hijrah ke
Madinah. Ia pernah ikut keluarga Rasulullah selama dua belas tahun. Dengarlah
apa yang Anas katakan, "Saya melayani Rasulullah sejak saya berusia 8
tahun. Selama 12 tahun, beliau belum pernah memarahi saya satu kali pun walau
saya melakukan kesalahan."
"Rasulullah paling suka makan
sambil duduk bersila di lantai," kata Anas bin Malik lagi. "Beliau
paling suka makan bersama. Beliau pernah berkata, 'Sungguh malang orang yang
makan sendirian.'"
"Rasulullah gemar makan daging,
tetapi beliau lebih sering menyantap kurma dan minum susu. Kalau ada yang
menyuguhinya semangkuk susu, beliau akan berkata, 'Allah memberi rahmat pada
susu. Mudah-mudahan masih ada lagi.'"
Sahabat fillahku, sejak muda, Rasulullah
amat gemar memakai parfum. Bau wewangian itu akan membuat orang orang di
sekitar beliau merasa senang. Rasulullah tidak menyukai baju berwarna merah.
Beliau lebih suka baju berwarna lurik atau putih. Rasulullah juga gemar memakai
surban dengan salah satu ujungnya menggelantung antara pundak. Beliau tidak
pernah menggunakan baju yang seluruhnya terbuat dari sutera.
Catatan Tambahan
Siwak
Rasulullah amat bersih. Beliau sangat
sering berwudhu. Pakaiannya juga tidak pernah kotor. Beliau selalu membawa
siwak ke mana mana. Siwak adalah batang semak gurun sebesar pensil. Siwak
digunakan untuk membersihkan gigi. "Kalau saya tidak ingin nanti memberatkan
umat, saya akan mewajibkan kegiatan membersihkan gigi," sabda Rasulullah
kemudian.
MATERI 65
JILID 2
ZAID BIN
HARITSAH
Suatu hari, keponakan Bunda Khadijah
yang bernama Hakim bin Hizam membawa seorang budak laki laki bernama Zaid bin
Haritsah. Zaid tiba dibawa ke rumah Bunda Khadijah dalam keadaan mengenaskan.
Lehernya dibelenggu sehingga ia terpaksa merangkak seperti seekor kuda. Bunda
Khadijah membeli Zaid dan memperlakukannya dengan baik.
Muhammad amat menyukai Zaid. Apalagi
ketika Zaid bercerita bahwa ia dijadikan budak dengan cara diculik.
Lima belas tahun yang lalu, Zaid kecil
sedang berjalan pulang bersama ibunya ketika datang para perampok gurun. Zaid
disergap dan dibawa lari. Sejak itulah ia hidup sebagai seorang budak yang diperjualbelikan
ke sana kemari. Nasiblah yang membawanya bertemu dengan Rasulullah, orang yang
amat Zaid cintai.
Melihat Muhammad amat menyayangi Zaid,
Bunda Khadijah memberikan Zaid kepada suaminya itu. Bunda Khadijah yang
bijaksana mengerti bahwa suaminya menganggap Zaid seolah sebagai pengganti
Qasim dan Abdullah yang telah tiada . Muhammad segera memerdekakan Zaid. Namun,
secara tidak terduga, datanglah Haritsah, ayah Zaid.
Haritsah telah bertahun-tahun mencari
Zaid sejak anaknya itu menghilang. Haritsah amat menyayangi dan merindukan Zaid
sehingga ia membuat puisi kesedihan tentang anaknya itu. Zaid pun amat
menyayangi ayahnya.
"Silakan membawa Zaid pulang,"
kata Muhammad kepada Haritsah. "Tetapi, seandainya Zaid memilih tetap
bersama saya, saya tidak akan menolaknya."
Ternyata, Zaid lebih memilih tinggal
bersama Muhammad. Muhammad amat bahagia sehingga mengangkat Zaid sebagai putra
beliau. Sejak saat itu, Zaid sering dipanggil Zaid bin Muhammad. Kelak, ketika
Islam telah datang, Allah melarang anak angkat mewarisi harta ayah angkatnya
yang telah wafat. Harta seorang ayah tetaplah menjadi hak anak kandung, bukan
anak angkat. Mahaadil Allah Yang Agung.
Catatan Tambahan
Syahid pada
Perang Mu'tah
Sebetulnya, Zaid tidaklah terlalu
tampan. Kulitnya cokelat kehitaman, usianya sebelas tahun lebih muda dari
Rasulullah. Namun, semangat jihadnya tidak tertandingi. Kelak, ia gugur sebagai
syuhada ketika menjadi panglima pasukan muslim pada perang Mu'tah melawan
pasukan Romawi.
MATERI 66 JILID 2
ZAINAB
Zainab adalah putri tertua Rasulullah.
Ia menikah dengan sepupunya,Abu Al-Ash bin Rabi. Ibu Abu Al-Ash bernama Halah.
Ia adalah kakak perempuan Bunda Khadijah. Pernikahan itu berlangsung jauh
sebelum Muhammad di angkat menjadi seorang Rasulullah. Sahabat
fillahku,kisah cinta Zainab dan Abu Al-Ash masyhur karena gelombang kesulitan
yang kemudian mereka hadapi.
Abu Al-Ash adalah orang yang jujur.
Bisnisnya sangat maju dan ia berpeluang menjadi seorang yang sangat sukses
dalam perdagangan. Namun,ketika Rasulullah mulai memperkenalkan Islam,Abu
Al-Ash memilih tetap menyembah berhala. Sementara itu,Zainab bersegera memeluk
agama baru itu. Ketika Islam makin menyebar,perlawanan kaum Quraisy semakin
kuat. Ummu Jamil,istri Abu Lahab,menyerukan agar Abu Al-Ash menceraikan
istrinya. Namun,Abu Al-Ash menolak.
Dalam Perang Badar,Abu Al-Ashmenjadi
prajurit Quraisy menghadapi pasukan Muslim. Abu Al-Ash tertangkap dan dibawa
sebagai tawanan. Zainab yang masih tinggal di Mekah mengirimkan kalung ibunya
untuk menebus Abu Al-Ash. Rasulullah amat terharu melihat kalung almarhumah
Khadijah.
"Kalau kalian berpendapat tawanan
ini dibebaskan tanpa uang tebusan, bebaskanlah dia,"kata Rasulullah
kepada para sahabat.
Para sahabat terdiam. Uang tebusan
biasanya berjumlah sangat besar. Jika Abu Al-Ash di bebaskan tanpa uang
tebusan,itu berarti mengurangi jatah uang untuk Rasulullah. Padahal,mereka
telah mempertetuhkan nyawa dalam perang. Apalagi saat itu banyak sahabat yang
hidup melarat karena kekayaan hidup mereka diambil kaum Quraisy ketika
mereka berhijrah ke Madinah. Namun,para sahabat mengerti bahwa uang bukanlah
tujuan mereka berperang. Terlebih,mereka tidak ingin melihat Rasulullah berduka
memikirkan perasaan putrinya. Para sahabat pun segera membebaskan Abu Al Ash.
Allah kemudian melarang pernikahan
antara wanita Muslim dengan seorang kafir. Mengetahui hal itu, Zainab pun
meninggalkan Abu Al Ash dan pergi ke Madinah untuk bergabung dengan ayahnya.
Tentu, Zainab dan Abu Al Ash amat menderita karena harus berpisah. Namun, bagi
Zainab, firman Allah berada di atas derita pribadi. Abu Al Ash pun melepas
Zainab justru karena ia amat mencintai istrinya itu.
Catatan Tambahan
Abu Al
Ash Masuk Islam
Suatu ketika, kafilah dagang Abu Al Ash
dicegat pasukan Muslim. Abu Al Ash memohon bantuan Zainab di Madinah. Saat
itulah Abu Al Ash kemudian masuk Islam. Mereka dikaruniai seorang putra bernama
Ali yang wafat ketika bayi dan seorang putri bernama Umamah.
MATERI 67
JILID 2
RUQAYYAH DAN
UMMU KULTSUM
Bagaimana kisah putra-putri Rasulullah
yang lain? Ruqayyah menikah dengan Utbah. Sementara itu, Ummu Kultsum menikah
dengan Utaibah. Utbah dan Utaibah adalah kakak-beradik. Mereka adalah putra
Abdul Uzza yang ketika Islam datang,sangat keras memusuhi Rasulullah dan
para pengikutnya. Begitu kerasnya permusuhan mereka sampai kaum muslimin
menamai Abdul Uzza sebagai "Abu Lahab". Lahab berarti 'gejolak api'.
Ketika Rasulullah mulai mendakwahkan
Islam, Ruqayyah dan Ummu Kultsum jadi amat menderita. Hampir setiap hari ibu
mertua mereka, Ummu Jamil, mencaci maki Rasulullah. Ummu Jamil adalah adik Abu
Sufyan yang memimpin penindasan terhadap kaum Muslimin.
Ummu Jamil semakin tidak kuasa menahan
marahnya melihat kesabaran Ruqayyah dan Ummu Kultsum walau ia selalu
menyumpahserapahi Rasulullah di depan mereka setiap ada kesempatan. Kemarahan
itu pun segera mencapai puncaknya.
"Ceraikan mereka!" teriak Ummu
Jamil kepada kedua putranya, Utbah dan Utaibah. "Usir mereka dari
sini!"
Utbah dan Utaibah pun menceraikan
Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Sesuai dengan janji kaum kafir, Utbah dan Utaibah
dinikahkan dengan dua putri seorang jutawan Quraisy, Abu Uhaihah. Sementara
itu, Ruqayyah dan Ummu Kultsum yang diusir begitu saja, kembali ke rumah
orangtua mereka sambil menangis tersedu-sedu.
Sudah tentu dapat dimengerti betapa
hancurnya hari Rasulullah dan Bunda Khadijah melihat kedua putri mereka
diperlakukan secara semena-mena. Namun, Mahasuci Allah yang kemudian memberi
jodoh yang lebih baik.
Ruqayyah kemudian menikah dengan Utsman
bin Affan, salah seorang sahabat besar. Ruqayyah sempat ikut hijrah ke Habasyah
dan Madinah. Namun ketika Rasulullah baru pulang dari Perang Badar, beliau
menemui Ruqayyah telah wafat.
Beliau kemudian menikahkan Utsman bin
Affan dengan Ummu Kultsum. Namun, tidak lama kemudian Ummu Kultsum
pun wafat menyusul kakaknya. Kedua putri Rasulullah ini wafat tanpa
meninggalkan keturunan.
MATERI 68
JILID 3
ALI BIN ABU
THALIB
Sahabat fillahku, selain Zaid bin
Haritsah, ada penghuni laki-laki lagi di dalam rumah tangga Muhammad yang penuh
berkah itu. Ia adalah Ali bin Abu Thalib. Mulanya, Ali bin Abu Thalib tinggal
di rumah ayahnya. Namun, suatu saat, Mekah dilanda musim paceklik. Kekeringan
yang mengganas itu membuat kehidupan menjadi bertambah sulit. Abu Thalib yang
hidup sederhana sangat merasakan keadaan ini. Apalagi, Abu Thalib memiliki
banyak putra yang harus diberi makan.
Melihat hal itu, Muhammad mengajak Abbas
dan Hamzah, adik adik Abu Thalib, untuk memelihara putra putra Abu Thalib.
Abbas dan Hamzah setuju dengan usul yang mulia ini. Mereka bertiga pun menemui
Abu Thalib.
Abu Thalib hanya pasrah bercampur lega.
Ia memperbolehkan kedua adiknya dan Muhammad untuk mengasuh anak anaknya. Abbas
mengambil Thalib, Hamzah memelihara Ja'far, dan Muhammad mengasuh Ali. Hanya
Aqil, sang putra bungsu yang masih dipelihara Abu Thalib.
Saat tinggal di rumah Muhammad, Ali
berumur lima atau enam tahun ia anak yang sehat. Kulitnya agak
kecoklatan. Tubuhnya gempal dan tegap. Sorot matanya tajam. Kalau tersenyum
giginya tampak.
Tindakan Muhammad ini dilakukan untuk
membalas budi Abu Thalib yang tidak terhingga, yakni telah memelihara beliau
sejak kakeknya, Abdul Muthakib wafat. Selain itu, Muhammad juga ingin
mencurahkan kasih sayang kepada seorang anak laki laki sebagai pengganti kedua
putra beliau, Qasim dan Abdullah.
Dibawa asuhan Muhammad, Ali bin Abu
Thalib tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian luhur. Kemudian ia menjadi
menantu Rasulullah dan mempunyai dua orang putra yang terkenal dalam sejarah
Islam, Hasan dan Husain. Rasulullah amat menyayangi kedua cucunya ini.
MATERI 69
JILID 3
MENCINTAI
ANAK-ANAK
Sejak masa mudanya, Rasulullah amat
mencintai anak-anak. Sewaktu pulang dari Perang Badar, beliau mengajak Usamah,
putra Zaid bin Haritsah, naik unta bersama. Saat itu, Usamah berusia 10 tahun.
Rasulullah adalah kakek yang penyayang.
Beliau sangat sering bermain dengan cucu cucunya. Beliau membiarkan Umamah,
putri Zainab dan Abu Al Ash, menarik-narik jubah saat beliau sedang sholat.
Bahkan, Rasulullah membiarkan Umamah menunggangi punggung ketika beliau juga
sedang shalat.
Suatu hari, Rasulullah pernah berkumpul
dengan para istrinya. Beliau menggendong Umamah sambil mengeluarkan seuntai
kalung.
"Kalung ini akan kuberikan kepada
orang yang paling aku cintai," kata Rasulullah sambil memandang istrinya
satu per satu.
Para istri Rasulullah saling memandang
dengan memendam rasa berdebar. Siapakah di antara mereka yang akan mendapatkan
kalung itu? Ketika Rasulullah melihat candanya mengena, sambil tersenyum, beliau
memberikan kalung itu kepada Umamah.
Pada saat lain, Rasulullah pernah
dikencingi seorang bayi sampai baju beliau basah. Ibu sang anak merenggut
anaknya dari gendongan Rasulullah dengan keras. Melihat hal itu, Rasulullah
langsung berkata, "Air kencing ini bisa dibersihkan, tetapi hati seorang
anak yang dipukul akan tetap terluka."
Setelah itu, beliau pun melaksanakan
shalat tanpa berwudhu lagi. Beliau hanya mencipratkan air pada pakaian yang
terkena kencing.
Ada seorang anak yang sering dikunjungi oleh
Rasulullah. Suatu saat, anak itu tampak murung karena burung peliharaannya
lepas. Rasulullah pun segera datang dan membuat anak itu tersenyum kembali.
Rasulullah juga banyak menghabiskan waktu bermain dengan anak anak kaum
Muslimin yang lahir di negeri hitam Habasyah. Beliau tersenyum melihat mereka
mengucapkan kata kata dalam bahasa Habasyah yang terdengar lucu.
Catatan Tambahan
Kuda
Kesayangan Rasulullah
Rasulullah punya kuda kesayangan.
Kuda itu berwarna coklat dengan belang
putih di dahi. Keempat kakinya pun berwarna putih dari lutut ke bawah.
MATERI 70
JILID 3
PANDAI
BERGAUL
Sahabat fillahku, Rasulullah sangat
pandai bergaul dengan siapa saja. Beliau mempunyai banyak kenalan baik, mulai
dari budak sampai ke para pembesar. Rasulullah sangat menghormati sahabat
sahabatnya. Bahkan, banyak di antara mereka yang beliau beri julukan
"kesayangan". Sebaliknya, para sahabat pun amat menyayangi
Rasulullah. Sebagian mereka memberi Rasulullah dengan julukan
"kesayangan" juga. Abu Dzar memberi julukan "khalil" kepada
Rasulullah. Khalil berarti 'teman' atau 'kekasih'.
Rasulullah tidak pernah menolak
undangan. Sesibuk apa pun, Rasulullah selalu bisa membagi waktu dengan baik
untuk memenuhi undangan. Hal hal seperti ini membuat beliau amat dihormati dan
dihargai lawan ataupun kawan.
Rasulullah menjadi orang yang disayangi
dengan tidak banyak mengumbar bicara. Sebaliknya, beliau malah lebih suka
mendengar daripada berbicara. Rasulullah selalu berkata seperlunya. Kalau
bicara, kata katanya mengalir lancar dari celah gigi giginya. Rasulullah selalu
bicara ke pokok masalah, jelas, tanpa bertele-tele.
Jika sedang marah, wajah beliau berubah,
tetapi beliau selalu menyembunyikan dari orang lain. Kalau disakiti, beliau
membuang wajahnya ke samping. Kalau gembira, Rasulullah menundukkan kepala.
Canda beliau selalu sopan dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak. Tertawa
beliau hanya senyum.
Selain amat menyayangi sesama manusia,
beliau adalah penyayang binatang. Tahun 630 M, beliau pernah berjalan memimpin
10.000 tentara Muslim. Saat itu, Rasulullah melihat seekor anjing bersama
anak-anaknya menghalangi jalan. Beliau memerintahkan agar pasukan tidak
mengganggu sang induk anjing dan anak anaknya. Rasulullah bahkan memerintahkan
seorang prajurit menjaga anjing itu sampai semua pasukan lewat.
Mungkin terbersit pertanyaan, dengan
pribadi yang sehebat itu , Apakah Muhammad sudah tau tentang Allah sebelum
beliau diangkat menjadi utusan -Nya?
Komentar
Posting Komentar