ONE DAY ONE SHIRAH Eps 6 - 10
MATERI 6 JILID 1
NABI IBRAHIM BERANGKAT KE MEKAH
Sahabat fillahku, dengan izin Allah,
Bunda Hajar pun mengandung. Tidak lama kemudian, lahirlah bayi kecil yang
diberi nama Ismail.
Dengan dada yang dipenuhi kasih
sayang dan rasa syukur mendalam atas karunia Allah, Nabi Ibrahim mendekap
Ismail erat-erat. Sudah puluhan tahun beliau menantikan seorang anak, kini pada
usia senja, anak yang didambakan lahir. Air mata sang Nabi berlinang-linang
menahan haru.
"Engkaulah belahan jiwaku,
engkaulah penerus dakwahku kelak," bisik Nabi Ibrahim kepada bayinya yang
mungil.
Sejak itu, hari-hari Ibrahim dipenuhi
dengan tawa Ismail. Di sela-sela kesibukan berdakwah, beliau selalu
menyempatkan diri untuk menggendong sang bayi. Bunda Sarah juga sangat
menyayangi Ismail. Beliau sering membantu Bunda Hajar mengasuh sang bayi.
"Lihat, Kanda," bisik Bunda
Sarah sambil mendekap Ismail, "alangkah miripnya bayi lucu ini
denganmu."
Nabi Ibrahim tersenyum mendengar
perkataan itu. Bunda Sarah pun membalas senyumnya. Namun, sahabat fillah, Nabi
Ibrahim adalah suami yang lembut. Beliau tahu bahwa walaupun sangat menyayangi
Ismail, sebenarnya Bunda Sarah sangat ingin memiliki putra yanh lahir dari
rahimnya sendiri. Putra saleh yang akan melanjutkan dakwah mereka.
Nabi Ibrahim menyadari betapa
beratnya perasaan Bunda Sarah. Beliau sangat ingin meringankan beban itu.
Karena itu dalam setiap kesempatan berdo'a, Nabi Ibrahim dan Bunda Sarah
meminta agar Allah berkenan menurunkan seorang lagi penerus dakwah dari rahim
Bunda Sarah.
Sahabat fillah, belum lagi do'a itu
terkabul, Allah Yang Maha Penyayang menurunkan sebuah ujian yang sangat berat.
Nabi Ibrahim dititah untuk membawa Bunda Hajar dan bayinya pergi ke suatu
tempat yang sangat jauh. Sebuah tempat sunyi tak berpenghuni di tengah gurun
yang tandusbdan gersang.
Perpisahan ini terasa sangat berat di
hati Bunda Hajar dan Bunda Sarah. Namun, kehendak Allah ada di atas segalanya.
Sahabat fillah, apa yang terjadi pada Bunda Hajar dan Ismail di tempat baru
itu?
Catatan tambahan
Akhirnya Allah Maha Penyayang
mengabulkan doa Bunda Sarah. Pada usia yang sudah lanjut, Bunda Sarah
mengandung. Kemudian, lahirlah Nabi Ishaq. Dari keturunan Nabi Ishaq inilah
kelak lahir Nabi Yaqub, Yusuf, Ayub, Zulkifli, Syu'aib, Yunus, Musa, Harun,
Ilyas, Ilyasa, Daud, Sulaiman, Yahya dan Isa. Sementara, dari Nabi Ismail,
lahirlah Nabi Muhammad. Karena itu, Nabi Ibrahim disebut Abul Anbiya (Bapak
Para Nabi)/
Kisah ini diambil dari Buku Muhammad
Teladanku l
MATERI 7. JILID 1
SUMUR ZAMZAM
Sahabat fillahku, atas kehendak Allah
SWT jua, Nabi Ibrahim AS mengajak Bunda Hajar dan bayinya pergi jauh,
jauh sekali; ke tengah sebuah lembah tandus yang sekarang disebut Mekah. Tempat
itu merupakan tempat persinggahan rombongan pedagang. Akan tetapi, saat itu
adalah saat-saat paling sepi sepanjang tahun. Tidak ada satu orangpun yang
tampak di sana.
"Aku harus meninggalkanmu,"
kata Nabi Ibrahim kepada istrinya.
"Apakah ini kehendak Allah
SWT?" tanya Bunda Hajar.
Nabi Ibrahim mengangguk pasti,
"Allah pasti menjagamu dan anak kita."
Kemudian, Nabi Ibrahim pergi
meninggalkan Bunda Hajar dan Ismail dengan bekal seadanya. Tidak lama kemudian,
air pun habis. Ismail menangis kehausan. Bunda Hajar kebingungan, apalagi saat
itu air susunya pun tidak keluar. Ke mana dia harus mencari air di tempat
setandus ini?
Bunda Hajar berlari ke puncak bukit
terdekat.
"Ya Allah hindarkan kami dari
mati kehausan. Berikanlah kepadaku jika di sisi-Mu ada air."
Namun, tidak dilihatnya sumber air.
Beliau pun berlari ke puncak bukit sebelahnya dengan dada berdebar penuh harap.
Akan tetapi, tidak juga tetlihat air. Hanya pasir dan pasir di mana-mana.
Begitulah sahabat fillahku, Bunda
Hajar berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah. Perjuangan Bunda Hajar
itu diabadikan Allah SWT dalam salah satu rukun haji, yaitu Sa'i, para jamaah
berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
"Anakku!" Jerit Bunda Hajar
sedih. Paling lama, esok dia dan bayinya akan mati kehausan. Akan tetapi, Allah
Maha Kuasa. Ketika Ismail menendang-nendang pasir sambil menangis, keluarlah
mata air yang terus dan terus memancar. Nama mata air itu adalah Zamzam.
Berkat pertolongan Allah SWT, Bunda
Hajar dan bayinya dapat selamat. Tidak lama kemudian, datanglah kafilah dagang.
Karena ada Sumur Zamzam, mereka bisa menetap. Ketika Nabi Ibrahim datang
menengok, tempat itu sudah jadi pemukiman.
Alangkah bahagianya Nabi Ibtahim a.s
melihat Ismail telah tumbuh menjadi anak yang saleh.
Akan tetapi, kemudian Allah SWT
memerintahkan Nabi Ibrahim melakukan hal yang amat berat. Apakah
perintah Allah SWT itu?
Catatan tambahan
Zamzam Tertimbun
Karena kelalaian manusia, badai dan
banjir, Sumur Zamzam pernah tertimbun dan dilupakan orang. Seorang bernama
Mudzaz pernah mencoba menggalinya. Walaupun telah mempersembahkan sesaji berupa
pedang dan pelana emas, air tidak juga muncul. Sumur Zamzam akhirnya berhasil
digali oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW.
Kisah ini diambil dari Buku Muhammad Teladanku
MATERI 8. JILID 1
PENYEMBELIHAN ISMAIL
Allah ingin menguji Nabi Ibrahim,
manakah yang lebih beliau cintai, Allah atau Ismail? Melalui mimpi, Allah
memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih putra kesayangannya itu.
Saat pagi hari tiba, Nabi Ibrahim
memanggil Ismail, "Anakku, dalam tidur, Ayah bermimpi menyembelihmu. Apa
pendapatmu, Nak?"
"Ayah, jika ini kehendak Allah,
lakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Jangan takut, Ayah, In syaa Allah aku
termasuk orang yang sabar."
Nabi Ibrahim memeluk Ismail erat-erat
dengan penuh haru, "Ayah mencintaimu, Nak! Ayah bangga kepadamu."
Nabi Ibrahim membawa Ismail jauh dari
rumah. Ketika sampai di tempat ia akan disembelih, Ismail berkata, "Ayah,
jangan ragu, lakukanlah perintah Allah ini. Kalau Ayah akan menyembelihku,
ikatlah aku kuat-kuat agar Ayah tidak terkena darahku. Aku takut darahku
mengotori bajumu sehingga pahalaku berkurang. Ayah, jangan ragu jika melihat
aku gelisah. Karena itu, tajamkanlah parang Ayah agar dapat memotongku
sekaligus. Telungkupkanlah wajahku, Ayah, jangan dimiringkan. Aku khawatir Ayah
bisa melihat wajahku dan merasa iba sehingga Ayah jadi ragu melaksanakan
perintah Allah. Kalau Ayah merasa bajuku dapat menghibur ibu, berikanlah baju
ini kepada ibu."
"Anakku," bisik Nabi
Ibrahim, "ketabahanmu menguatkan ketabahan Ayah."
Ketika Nabi Ibrahim akan menyembelih
putranya, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba yang besar disertai
panggilan, "Hai Ibrahim! Engkau telah melaksanakan mimpi itu!"
Nabi Ibrahim dan Ismail bersujud
penuh syukur. Mereka telah membuktikan bahwa mereka amat mencintai Allah
melebihi segalanya.
Catatan tambahan
Melempar Jumrah
Iblis tiga kali menggoda Nabi Ibrahim
di perjalanan menuju tempat penyembelihan putranya. Nabi Ibrahim marah dan
melempar Iblis tiga kali dengan kerikil. Allah mengabadikan peristiwa itu dalam
ibadah haji. Setiap jamaah wajib melontar kerikil di tiga tempat di mana iblis
menggoda. Masing-masing disebut Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah.
Kisah ini diambil dari Buku Muhammad
Teladanku penerbit : Sygma
MATERI 9. JILID 1
MEMBANGUN KA'BAH
Sahabat fillahku, setelah Ismail
tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan shalih, Nabi Ibrahim memanggilnya,
"Anakku, Allah memerintahkan kita membangun Baitullah dekat Sumur
Zamzam."
"Dengan izin Allah, aku akan
membantumu,"jawab Ismail.
Kemudian, keduanya bekerja keras.
Ismail mengangkat batu-batu, membelah, dan meratakannya. Sementara itu, Nabi
Ibrahim menyusunnya menjadi sebuah bangunan. Agar dapat meletakkan batu-batu di
tempat yang tinggi, Nabi Ibrahim berpijak di atas sebuah batu. Jika satu bagian
telah selesai dikerjakan, beliau memindahkannya ke bagian lain sebagai tempat
pijakan lagi. Demikian dilakukan terus sampai seluruh bagian Ka'bah selesai
dibangun.
Telapak kaki Nabi Ibrahim membekas di
atas batu pijakan tersebut. Jika kita pergi ke Masjidil Haram, kita dapat
melihatnya dalam sebuah rongga berkaca. Batu itu dinamakan Maqam Ibrahim.
Artinya, tempat berpijak Nabi Ibrahim.
Setelah menyelesaikan pembangunan
Ka'bah. Nabi Ibrahim dan Ismail berdoa, "Ya Allah, terimalah apa yang
telah kami kerjakan. Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Kemudian Allah memerintahkan agar
tempat itu dijaga kesucian dan kebersihannya sebagai tempat beribadah, thawaf,
rukuk dan sujud. Setelah itu, Nabi Ibrahim kembali ke Palestina.
Catatan tambahan
Hajar Aswad
Hajar Al Aswad atau "batu
hitam" adalah sebuah batu lonjong bergaris tengah sekitar 25 sampai 45 cm.
Kisah ini diambil dari Buku Muhammad Teladanku penerbit : Sygma
MATERI 10. JILID 1
KETURUNAN NABI ISMAIL
Sahabat fillahku, tak lama kemudian,
Ismail menikah. Namun, belum berapa lama, rasa gembira itu berubah duka karena
Bunda Hajar wafat. Ismail amat kehilangan ibunya. Betapa tidak, ia ditinggal
oleh orang yang sangat ia sayangi dan menyayanginya. Mendengar istrinya wafat,
Nabi Ibrahim yang telah berusia lanjut datang ke Mekah.
Ketika tiba di rumah Ismail, Nabi
Ibrahim diterima oleh menantunya.
"Bagaimana kehidupan
kalian?" tanya Nabi Ibrahim.
"Hidup kami susah dan terlalu
sederhana. Bahkan, sekarang pun saya tidak dapat menyuguhkan apa-apa kepada
Bapak," keluh istri Ismail.
Nabi Ibrahim termenung. Ia pun
berdiri dan pamit.
"Sampaikan kedatanganku kepada
Ismail. Katakan juga kepadanya bahwa aku ingin agar ia mengganti gerbang rumah
ini."
Ketika Ismail pulang, istrinya
menyampaikan pesan ini.
"Itu ayahku," kata Ismail,
"pesan itu memerintahkan agar saya menceraikanmu karena kamu tidak
berlapang dada menjalani hidup kita yang sederhana."
Setelah melaksanakan pesan ayahnya,
Ismail menikahi wanita yang lain. Suatu saat, Nabi Ibrahim datang berkunjung.
Beliau diterima oleh menantunya yang baru.
"Bagaimanakah kehidupanmu
bersama Ismail?" tanya Nabi Ibrahim.
"Alhamdulillah Ismail adalah
suami yang penyayang, rajin bekerja, dan selalu membimbing saya di jalan Allah.
Kami hidup berbahagia."
Nabi Ibrahim tersenyum,
"Sampaikan kedatanganku kepada Ismail. Katakan juga kepadanya bahwa aku
menyukai gerbang rumahnya."
Ketika Ismail datang, istrinya
menyampaikan pesan Nabi Ibrahim.
"Alhamdulillah, ayahku
menyukaimu karena engkau istri yang shalihah, " senyum Ismail.
Ismail pun diangkat menjadi seorang
nabi. Putra-putra beliaulah yang menjadi nenek moyang Nabi Muhammad SAW.
Catatan tambahan
Tempat Ibadah Tertua
Melalui surat Ali Imran ayat 96-97, Allah
menerangkan bahwa sesungguhnya rumah ibadah tertua di dunia ini adalah yang ada
di Mekah, yaitu Ka'bah. Rumah ibadah ini diberkahi Allah dan menjadi petunjuk
bagi manusia di seluruh dunia. Begitu tuanya umur Ka'bah sampai tak seorang pun
tahu telah berapa lama Ka'bah berada di muka bumi ini. Ka'bah telah ada sebelum
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail diperintahkan membangunnya kembali.
Kisah ini diambil dari Buku Muhammad
Teladanku penerbit : Sygma
Komentar
Posting Komentar