TAFSIR AL BAQARAH AYAT 27 - 30
RUBRIK TAFSIR ODOJERS
Edisi, Sebelas
Jum'at, 20 Maret 2015
Jum'at, 20 Maret 2015
Tafsir Surah alBaqarah : 27
بسم الله الر حمن الر حيم
الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي
الْأَرْضِ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (27)
الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي
الْأَرْضِ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (27)
"(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk disambungkan dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi" {27}
Sebelum masuk pada tafsiran ayat diatas, ada baiknya membaca kembali tafsiran ayat 26, karena ada keterkaitan antara ayat 26 dan 27.
Tafsir ayat :
Syu’bah meriwayatkan, dari Amru bin Murrah, dari Mus’ab bin Sa’d berkata, “Aku bertanya kepada ayahku mengenai firman Allah Swt - الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِه - hingga akhir ayat. Beliau Menjawab , “Mereka adalah Haruriyah (Khawarij)".
Walaupun sanad dari Sa’d bin Abi Waqas shahih, tapi ini merupakan tafsiran terhadap makna ayat. Maka bukan maksud ayat menjadikan khawarij bagian dari nash Al Qur’an. Mereka (Khawarij) adalah orang-orang yang memberontak kepada Ali Ra saat peristiwa di Nahrawan.
Dan mereka belum ada saat ayat ini turun , tetapi mereka memiliki kesamaan sifat dengan yang dijelaskan Al Qur’an.
Mereka di sebut Khawarij karena keluar dari keta'atan kepada pemimpin dan syari’at islam.
Dan mereka belum ada saat ayat ini turun , tetapi mereka memiliki kesamaan sifat dengan yang dijelaskan Al Qur’an.
Mereka di sebut Khawarij karena keluar dari keta'atan kepada pemimpin dan syari’at islam.
"Fasik"secara bahasa bermakna keluar dari ketaatan. Kata "Fasik" sendiri mencakup seorang kafir dan pendosa, namun kefasikan orang kafir ternyata lebih berbahaya. Adapun maksud dari ayat ini adalah orang fasik yang kafir. Wallaahu’alaam.
Sifat orang kafir yang digambarkan ayat diatas, berbeda dengan sifat orang mukmin, sebagaimana dalam firman Allah pada surat Ar-rad : 19-25.
Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam memaknai عَهْد (perjanjian) yang telah dilanggar oleh orang-orang fasik.
Sebagian berpendapat, “Ini adalah wasiat Allah Swt kepada makhluk-Nya agar menaati segala perintahNya dan menjahui segala laranganNya sebagaimana yang ada didalam kitabNya dan sebagaimana yang telah disampaikan melalui lisan Rasul-Nya. Mereka melanggar perjanjian itu dengan tidak mengamalkan hal tersebut".
Sebagian lain berpendapat, “Ini berkenaan dengan orang kafir dan orang munafik dari kalangan Ahli kitab. Perjanjian yang mereka langgar adalah perjanjian yang Allah Swt ambil dari mereka didalam taurat, untuk beramal dengan apa yang dijelaskan didalamnya dan mengikuti Nabi Muhammad SAW jika telah diutus, serta membenarkan dan menyakini apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Namun mereka merusak perjanjian ini dengan menentang dan menyembunyikan pengetahuan tetang hal ini dari manusia. Padahal mereka telah berjanji untuk menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.
Ini pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, hal ini pula yang merupakan pendapat Maqatil bin Hayyan.
Namun mereka merusak perjanjian ini dengan menentang dan menyembunyikan pengetahuan tetang hal ini dari manusia. Padahal mereka telah berjanji untuk menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.
Ini pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, hal ini pula yang merupakan pendapat Maqatil bin Hayyan.
Sebagian lain berpendapat, “Ayat ini mencakup orang kafir, musyrik, dan munafik.
Penjanjian atas mereka dalam mentauhidkan Allah Swt, dengan adanya bukti-bukti Rububiyah.
Dan perjanjian dalam perintah dan larangan Allah Swt, dengan adanya bukti mukjizat Rasul Saw sebagai bukti kebenaran.
Penjanjian atas mereka dalam mentauhidkan Allah Swt, dengan adanya bukti-bukti Rububiyah.
Dan perjanjian dalam perintah dan larangan Allah Swt, dengan adanya bukti mukjizat Rasul Saw sebagai bukti kebenaran.
Mereka melanggaran perjanjian itu dikarenakan mereka tidak meyakini bukti-bukti kebenaran yang telah dijelaskan kepada mereka. Kemudian mendustakan Rasul Saw dan kitab-kitab walau mereka mengetahui kebenaran sesungguhnya.
Pendapat lain mengatakan bahwa perjanjian yang disebutkan merupakan perjanjian yang diambil atas mereka ketika mereka dikeluarkan dari tulang sulbi Adam. Allah berfirman (lihat al-'araf :172-173) .
Kemudian maksud merusak perjanjian adalah, mereka tidak menepati janji tersebut.
Semua pendapat diatas dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir didalam tafsirnya.
Kemudian maksud merusak perjanjian adalah, mereka tidak menepati janji tersebut.
Semua pendapat diatas dikeluarkan oleh Imam Ibnu Jarir didalam tafsirnya.
Abu ja’far bin Razi meriwayatkan dari Rabi’ bin Anas, dari Abi Aliyah telah berkata terkait ayat ini : “Ada 6 ciri orang munafik apabila mereka memperoleh kemenangan atas orang lain maka mereka akan menampakkan 6 ciri ini : 1) Apabila berkata dusta, 2) apabila berjanji mungkir, 3) apabila dipercaya khianat, 4) mereka melangkar perjanjian Allah setelah diteguhkan, 5) memutuskan apa yang Allah perintahkan agar dihubungkan, 6) membuat kerusakan di bumi.
Tetapi jika tertimpa kekalahan, maka mereka akan menampakkan 3 ciri ini:
1) Apabila berkata dusta,
2) Apabila berjanji mungkir,
3) Apabila dipercaya khianat.
1) Apabila berkata dusta,
2) Apabila berjanji mungkir,
3) Apabila dipercaya khianat.
As-saddi dalam tafsirnya berkata terkait ayat ini, “perjanjian yang ditujukan kepada mereka tersebut ada didalam al-qur’an dan mereka mengakuinya. Lalu kemudian mereka menjadi kafir dan merusak perjanjian tersebut.”
Pada kalimat selanjutnya Allah berfirman :
( وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَل )
"memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya "
Maksudnya, menjalin silaturahim dengan sanak kerabat.
Sebagaimana yang ditafsirkan Qotadah dan pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Jarir.
( وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَل )
"memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya "
Maksudnya, menjalin silaturahim dengan sanak kerabat.
Sebagaimana yang ditafsirkan Qotadah dan pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Jarir.
Namun pendapat lain mengatakan, makna yang dimaksud lebih umum, yaitu setiap apa saja yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan dan dikerjakan. Namun mereka malah memutusnya.
Muqotil bin Hayyan berkata mengenai akhir dari ayat ini,
(أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ)
"Mereka itulah orang-orang yang rugi"
Ini semakna dengan firman Allah,
( ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻌْﻨَﺔُ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﺳُﻮﺀُ ﺍﻟﺪَّﺍﺭ )
"Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi
mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)" {Ar-Ra'd: {25}
(أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ)
"Mereka itulah orang-orang yang rugi"
Ini semakna dengan firman Allah,
( ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻌْﻨَﺔُ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﺳُﻮﺀُ ﺍﻟﺪَّﺍﺭ )
"Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi
mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)" {Ar-Ra'd: {25}
Diriwayatkan dari Dahaak dari Ibnu Abbas “setiap kata "merugi" yang Allah nisbahkan kepada selain muslim, maka maknanya adalah kekufuran. Sedangkan jika dinisbahkan dengan orang muslim maka maknanya adalah dosa.
Ibnu jarir berkata terkait firman Allah (أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ)
Khaasiruun bentuk jamak dari khasirun yaitu mereka yang mengurangi keberuntungan mereka dari rahmat Allah, karena perbuatan maksiat mereka kepada Allah.
Seumpama seorang pedagang yang rugi dalam perniagaannya. Maka orang munafik dan orang kafir akan memperoleh kerugian dengan diharamkannya rahmat Allah Swt atas mereka di hari kiamat, padahal saat itu mereka benar-benar membutuhkan rahmat Allah Swt.
Khaasiruun bentuk jamak dari khasirun yaitu mereka yang mengurangi keberuntungan mereka dari rahmat Allah, karena perbuatan maksiat mereka kepada Allah.
Seumpama seorang pedagang yang rugi dalam perniagaannya. Maka orang munafik dan orang kafir akan memperoleh kerugian dengan diharamkannya rahmat Allah Swt atas mereka di hari kiamat, padahal saat itu mereka benar-benar membutuhkan rahmat Allah Swt.
Walaahu'alaam bishshowwab
Tafsir Al Qur'an Al azhim
Diterjemahkan Oleh:
Tim Tafsir Divisi Tsaqafah Islamiyah PSDM ODOJ
Tim Tafsir Divisi Tsaqafah Islamiyah PSDM ODOJ
EDISI 12, Jumat 27 Maret 2015
Tafsir Surah Al Baqarah : 28-29
"Kehidupan dan Kematian yang Diberikan Allah kepada Manusia"
قوله تعالى:
( كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ
"Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepadaNyalah kamu Kembali. 2:28
( هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم )ٌ
Dia lah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia mengetahui segala sesuatu 2:29
Dalam ayat sebelumnya, Allah menerangkan sifat-sifat golongan yang kafir.
Kekufuran kepada Allah diperlihatkan dengan bukti bukti dan nikmat-nikmat, ini merupakan kekufuran yang amat buruk. Allah memperlihatkan satu kejadian yang pasti manusia lihat. Mereka dahulu mati lalu dihidupkan oleh Allah. Mereka dahulu dalam keadaan mati lalu dihidupkan kembali oleh Allah, dan tidak ada tempat untuk berlari dari kenyataan yang tidak dapat ditafsirkan kecuali dengan kuasaNya.
Jalan kehidupan pasti berbeda dengan Jalan kematian.
Pasti ada diantara kita yang bertanya, "dari mana datangnya kehidupan? "
Kehidupan itu datangnya dari Allah. Inilah jawabannya. Sebab jika tidak begitu, hendaklah orang yang tidak mau menerima mengatakan, "bagaimana jawabnya? "
Inilah hakikat ayat ini.
( كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ )
Bagaimana kamu menjadi kufur (mengingkari) Allah padahal kamu dahulunya mati (belum lahir), kemudian Dia menghidupkan kamu
Dulu kamu itu mati, di antara benda-benda mati di sekeliling mu di bumi. Lalu Allah menciptakan kehidupan untukmu. ( فَأَحْيَاكُمْ )
Lantas bagaimana orang yang telah menerima kehidupan dari Allah ini bersikap kafir kepadaNya?
ثُمَّ يُمِيتُكُمْ
setelah itu Dia mematikan kamu
Hal ini tidak perlu dibantah lagi. Inilah hakikat yang dihadapi oleh setiap makhluk hidup.
ثُمَّ يُحْيِيكُمْ
kemudian Dia menghidupkan kamu kembali (di akhirat)
Dan, inilah yang selalu mereka bantah.
ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Kemudian kepada-Nya lah kamu kembali...
Kamu akan kembali seperti semula.
Dalam tafsir ibnu katsir:
Ayat tersebut sama dengan firman Nya: “Ya Rabb kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula).” (QS. Al-Mu’min: 11).
Mengenai firman Allah dengan bersumber dari Ibnu Abbas, ad-Dhahhak mengatakan, “Dulu, sebelum Dia menciptakan kamu, kamu adalah tanah, dan inilah kematian. Kemudian Dia menghidupkan kamu sehingga terciptalah kamu, dan inilah kehidupan. Setelah itu Dia mematikan kamu kembali, sehingga kamu kembali ke alam kubur, dan itulah kematian yang kedua. Selanjutnya Dia akan membangkitkan kamu pada hari kiamat kelak, dan inilah kehidupan yang kedua.”
Kemudian disusullah ayat ini dengan pantulan sinar yang lain untuk melengkapi pancaran cahaya yang pertama.
قوله تعالى:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
"Dia lah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju kelangit, lalu Dia menyempurnakan menjadi tujuh langit. Dan Dia maha mengetahui segala sesuatu.
Perkataan "untuk kamu" memiliki makna yang mendalam serta kesan yang dalam pula. Ini sangat menunjukkan kata yang pasti bahwa penciptaan manusia adalah untuk urusan yang besar.
Manusia diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi, menguasainya dan mengelolanya.
Walaahu'alaam bishshowwab
Tafsir Fi Zhilal Al Qur'an
Diterjemahkan oleh :
Tim Tafsir Divisi Tsaqafah Islamiyah PSDM ODOJ
Tim Tafsir Divisi Tsaqafah Islamiyah PSDM ODOJ
RUBRIK TAFSIR ODOJER
Edisi 13, Jumat 3 April 2015
Surat Al Baqarah Ayat 30
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya :
Artinya :
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Tafsir :
Allah Subhaanahu wa Ta’aala menceritakan perihal anugerah-Nya kepada bani Adam, yaitu sebagai makhluk yang mulia. Mereka disebutkan di kalangan makhluk yang tertinggi (yaitu para malaikat) sebelum mereka diciptakan. Untuk itu Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman :
وإذ قال ربك للملئكة
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,"
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,"
Makna yang dimaksud ialah "Hai Muhammad, ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, dan ceritakanlah hal ini kepada kaummu"
اني جاعل فى الارض خليفة
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”
اني جاعل فى الارض خليفة
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”
Yakni suatu kaum yang sebagiannya menggantikan sebagian yang lain silih berganti, abad demi abad, dan generasi demi generasi, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya :
وهو الذي جعلكم خلئف الارض
“Dan Dialah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di bumi.” (Q.S. Al-An’am : 165)
وهو الذي جعلكم خلئف الارض
“Dan Dialah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di bumi.” (Q.S. Al-An’am : 165)
ويجعلكم خلفآء الارض
“dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah-khalifah di bumi.” (Q.S. An-Naml : 62)
“dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah-khalifah di bumi.” (Q.S. An-Naml : 62)
فخلف من بعدهم خلف
“Maka datanglah sesudah mereka generasi yang lain.” (Al-A’raf : 169)
“Maka datanglah sesudah mereka generasi yang lain.” (Al-A’raf : 169)
Menurut qira’ah yang syaz dibaca innii jaa’ilun fil ardli khaliifah (Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah-khalifah di muka bumi). Demikian diriwayatkan oleh Zamakhsyari dan lain-lainnya.
Al-Qurtubi menukil dari Zaid Ibnu Ali, yang dimaksud dengan khalifah dalam ayat ini bukan hanya Nabi Adam ‘alaihis salam saja seperti yang dikatakan oleh sejumlah ahli tafsir. Al-Qurtubi menisbatkan pendapat ini kepada Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan semua ahli takwil. Akan tetapi apa yang dikatakan oleh Al-Qurtubi ini masih perlu dipertimbangkan. Bahkan perselisihan dalam masalah ini masih banyak, menurut riwayat Ar-Razi dalam kitab tafsirnya, juga oleh yang lainnya.
Al-Qurtubi menukil dari Zaid Ibnu Ali, yang dimaksud dengan khalifah dalam ayat ini bukan hanya Nabi Adam ‘alaihis salam saja seperti yang dikatakan oleh sejumlah ahli tafsir. Al-Qurtubi menisbatkan pendapat ini kepada Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan semua ahli takwil. Akan tetapi apa yang dikatakan oleh Al-Qurtubi ini masih perlu dipertimbangkan. Bahkan perselisihan dalam masalah ini masih banyak, menurut riwayat Ar-Razi dalam kitab tafsirnya, juga oleh yang lainnya.
أتجعل فيهامن يفسد فيهاويسفك الدمآء
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah ? "
Ucapan para malaikat ini bukan dimaksudkan menentang atau memprotes Allah, bukan pula karena dorongan dengki terhadap manusia, sebagaimana yang diduga oleh sebagian ulama tafsir. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati para malaikat, mereka tidak pernah mendahului firman Allah, yakni tidak pernah menanyakan sesuatu kepada-Nya yang tidak diizinkan bagi mereka mengemukakannya.
Dalam ayat ini, ketika Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan di bumi suatu makhluk, menurut Qatadah, para malaikat telah mengetahui sebelumnya bahwa makhluk-makhluk tersebut gemar menimbulkan kerusakan padanya (di bumi), maka mereka mengatakan :
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah ?
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah ? "
Ucapan para malaikat ini bukan dimaksudkan menentang atau memprotes Allah, bukan pula karena dorongan dengki terhadap manusia, sebagaimana yang diduga oleh sebagian ulama tafsir. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati para malaikat, mereka tidak pernah mendahului firman Allah, yakni tidak pernah menanyakan sesuatu kepada-Nya yang tidak diizinkan bagi mereka mengemukakannya.
Dalam ayat ini, ketika Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan di bumi suatu makhluk, menurut Qatadah, para malaikat telah mengetahui sebelumnya bahwa makhluk-makhluk tersebut gemar menimbulkan kerusakan padanya (di bumi), maka mereka mengatakan :
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah ?
Sesungguhnya kalimat itu merupakan pertanyaan meminta informasi dan pengetahuan tentang hikmah yang terkandung di dalam penciptaan itu. Mereka mengatakan, “Wahai Tuhan kami, apakah hikmah yang terkandung dalam penciptaan mereka, padahal diantara mereka ada orang-orang yang suka membuat kerusakan di muka bumi dan mengalirkan darah? Jikalau yang dimaksudkan agar Engkau disembah, maka kami selalu bertasbih memuji dan menyucikan Engkau,” yakni kami selalu beribadah kepad-Mu, sebagaimana yang akan disebutkan nanti. Dengan kata lain seakan-akan para malaikat mengatakan), “Kami tidak pernah melakukan sesuatupun dari hal itu (kerusakan dan mengalirkan darah), maka mengapa Engkau tidak cukup hanya dengan kami para malaikat saja?
Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman menjawab pertanyaan tersebut :
اني أعلم ما لاتعلمون.
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui."
اني أعلم ما لاتعلمون.
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui."
Dengan kata lain, seakan-akan Allah bermaksud bahwa sesungguhnya Aku mengetahui hal-hal yang tidak kalian ketahui menyangkut kemaslahatan yang jauh lebih kuat dalam penciptaan jenis makhluk ini daripada kerusakan-kerusakan yang kalian sebut itu. Karena sesungguhnya Aku akan menjadikan dari kalangan mereka nabi-nabi dan rasul-rasul, diantara mereka ada para shiddiqin, para syuhada, orang-orang saleh, ahli ibadah, ahli zuhud, para wali, orang-orang bertaqwa, para muqarrabin, para ulama yang mengamalkan ilmunya, orang-orang yang khusyu’ dan orang-orang yang cinta kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan mengikuti jejak rasul-rasul-Nya.
Al-Qurtubi dan lain-lainnya menyimpulkan dalil ayat ini, wajib mengangkat seorang khalifah untuk memutuskan perkara yang diperselisihkan diantara manusia, memutuskan persengketaan mereka, menolong orang-orang yang teraniaya dari perlakuan sewenang-wenang orang-orang yang dzlim dari kalangan mereka, menegakkan hukuman-hukuman had, dan memperingatkan mereka dari perbuatan-perbuatan keji serta hal-hal lainnya yang penting dan tidak dapat ditegakkan kecuali dengan adanya seorang imam, mengingat suatu hal yang merupakan kesempurnaan bagi perkara yang wajib hukumnya wajib pula.
Wallahu'alam Bisshowaab.
Tafsir Ibnu Katsir
Diterjemahkan oleh :
Tim Tafsir Divisi Tsaqafah Islamiyah PSDM ODOJ
Tim Tafsir Divisi Tsaqafah Islamiyah PSDM ODOJ
Komentar
Posting Komentar