Tadabbur Surat-surat Al Qur'an (An Naas)



Surat An Naas

Segala puji bagi Allah, Rab semesta alam, Raja segala Raja. Shalawat dan
salam kepada Nabi besar Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat beliau.

Pada edisi sebelumnya, kita telah mentadabburi salah satu surat Al
Mawa'izatain, yaitu surat Al Falaq. Kali ini kita lanjutkan dengan surat An
Naas.

Surat An Naas mengkhususkan permohonan perlindungan kepada Allah SWT dari
godaan syaitan yang terkutuk.  Sudah terlalu banyak orang yang terperosok
dalam lembah kemaksiatan dan tenggelam dalam syhawat akibat ulahnya.
Penebar “racun” di seluruh sendi-sendi kehidupan manusia. Menyeret manusia
menjadi penghuni An Naar. Penampakannya yang kasat mata semakin membuat
leluasa gerakannya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Sesungguhnya syaithan dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu
tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al A’raaf: 27)

Namun kita tidak boleh gegabah dengan mengatakan ‘celaka kamu wahai
syaithan’, justru syaithan semakin membesar seperti besarnya rumah. Tetapi
bacalah basmalah (bismillah) niscaya syaithan semakin kecil seperti lalat.
(HR. Abu Dawud no. 4330)

Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah memberikan penawar bagi “racun”
yang ditimbulkan oleh syaithan tersebut. Allah subhanahu wata’ala berfirman
(artinya):
“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman”. (Al Isra’: 82)
Dan tidak ada sebaik-baik tempat berlindung selain kepada Allah,
sebagaimana firman Allah :

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
1. “Katakanlah (Wahai Muhammad): “Aku berlindung kepada Rabb manusia.”
مَلِكِ النَّاسِ
2. “Raja manusia.”
إِلَهِ النَّاسِ
3. “Sembahan manusia.”

Sebuah tarbiyah ilahi, Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya sekaligus
Khalil-Nya untuk memohon perlindungan hanya kepada-Nya. Karena Dia adalah
Rabb (yaitu sebagai pencipta, pengatur, dan pemberi rizki), Al Malik
(pemilik dari segala sesuatu yang ada di alam ini), dan Al Ilah
(satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi).

Dengan ketiga sifat Allah subhanahu wata’ala inilah, Allah subhanahu
wata’ala memerintahkan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam untuk
memohon perlindungan hanya kepada-Nya, dari kejelekan was-was yang
dihembuskan syaithan.

Sebuah pendidikan Rabbani, bahwa semua yang makhluk Allah subhanahu
wata’ala adalah hamba yang lemah, butuh akan pertolongan-Nya subhanahu
wata’ala. Termasuk Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau adalah
manusia biasa yang butuh akan pertolongan-Nya. Sehingga beliau adalah hamba
yang tidak boleh disembah, bukan tempat untuk meminta pertolongan dan
perlindungan, dan bukan tempat bergantung. Karena hal itu termasuk
perbuatan ghuluw (ekstrim), memposisikan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam
bukan pada tempat yang semestinya. Bahkan beliau shalallahu ‘alaihi
wasallam melarang dari perbuatan seperti itu.

مِنْ شَرِّ الوَسْوَاسِ الخَنَّاسِ

4. “Dari Kejahatan (Bisikan) Syaitan Yang Biasa Bersembunyi"

Makna Al was-was adalah bisikan yang betul-betul tersembunyi dan samar,
adapun al khannas adalah mundur. Maka maksud dari ayat ini, bahwasanya
syaithan selalu menghembuskan bisikan-bisikan yang menyesatkan manusia
disaat manusia lalai dari berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala.

Hal ini dikuatkan oleh Al Imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya ketika
membawakan penafsiran dari Sa’id bin Jubair dan Ibnu ‘Abbas, yaitu:
“Syaithan bercokol di dalam hati manusia, apabila dia lalai atau lupa maka
syaithan menghembuskan was-was padanya, dan ketika dia mengingat Allah
subhanahu wata’ala maka syaithan lari darinya".

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ

5. “ Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam manusia. “

Bisikan syetan pada hati manusia sangat banyak dan beragam, semuanya
mengarahkan kepada kemaksiatan dan kejahatan. Inilah misi syaithan yang
selalu berupaya menghembuskan was-was kepada manusia. Menghiasi kebatilan
sedemikian indah dan menarik. Mengemas kebenaran dengan kemasan yang buruk.
Sehingga seakan-akan yang batil itu tampak benar dan yang benar itu tampak
batil. Cobalah perhatikan, bagaimana rayuan manis syaithan yang dihembuskan
kepada Nabi Adam dan istrinya.

Bisikan ini ditujukan kepada  shodrun (dada) manusia. Kenapa shodrun
(dada), tidak qalbun (hati), dan tidak pula fuad (hati)?  Jawabannya bahwa
sebenarnya tiga kata itu  maknanya sama, hanya berbeda dalam penggunaannya
saja. Shodrun (Dada) adalah tempat dimana ada fuad dan  qalbun (hati).

Qalbun berarti sesuatu yang sering berbolik-balik dan yang  bisa
membalikkan qalbun hanyalah Allah swt.

مِنَ الجِنَّةِ وَالنَّاسِ

6. “ Dari golongan jin dan manusia.”

Allah menerangkan pada ayat keenam ini bahwa yang membisikan ke dalam dada
manusia itu tidak hanya syetan dari golongan jin, bahkan manusia pun bisa
berperan sebagai syaithan. Hal ini juga dipertegas dalam ayat lain
(artinya):
“Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu
syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka
membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah
untuk menipu (manusia)” (Al An’am: 112)

Perbandingan Antara Surat An Naas Dan Surat Al Falaq
 Dalam surat al-Falaq, kita diperintahkan meminta perlindungan dengan
menggunakan nama Allah “ ar-Rabb “ saja,  dari empat hal : kejahatan
makhluq, kejahatan malam, kejahatan tukang sihir, dan kejahatan orang yang
hasad.

Dalam surat An Naas, kita diperintahkan untuk meminta perlindungan dengan
menggunakan tiga nama Allah, yaitu, Rabb, Malik dan Ilah, dari satu
kejahatan saja, yaitu kejahatan syetan yang mempunyai dua sifat :
bersembunyi, dan membisikan pada dada manusia.

Perbedaan di atas menunjukkan bahwa kejahatan syetan yang selalu
bersembunyi dan membisikan kepada dada manusia jauh lebih berbahaya dari
pada kejahatan empat hal yang disebutkan dalam surat al- Falaq, karena
bahaya bisikan syetan akan menimpa hati dan keyakinan, sedangkan bahaya
empat hal di atas hanya menimpa fisik dan badan manusia.

Wallahu A’lam bishshowab.  

Sumber :
✏ Dr. Ahmad Zain An Najah, MA
✏ Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Komentar

Postingan Populer