KAYA KELAS TERI VS KAYA KELAS ELIT
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Hai manusia, kalian yang fakir (butuh) kepada Allah, dan Dia-lah yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir:15)
Manusia pada hakikatnya adalah fakir (butuh) kepada Allah yang Mahakaya. Manakala manusia memahami Rabbnya Mahakaya secara mutlak, maka ia menyadari dirinya fakir secara mutlak.
“Hai manusia, kalian yang fakir (butuh) kepada Allah, dan Dia-lah yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir:15)
Manusia pada hakikatnya adalah fakir (butuh) kepada Allah yang Mahakaya. Manakala manusia memahami Rabbnya Mahakaya secara mutlak, maka ia menyadari dirinya fakir secara mutlak.
Orang yang tersesat merasa kaya atas apa yang Allah titipkan padanya, sementara orang yang mendapat petunjuk, merasa fakir kepada Rabbnya yang Mahakaya.
Orang yang tersesat terhalang mengenal Rabbnya yang Mahakaya, hingga ia lupa diri, dan lupa kefakirannya (kebutuhannya) kepada Allah, hingga ia menjadi sombong, sewenang-wenang, lalu binasa.
“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena ia melihat dirinya serba cukup.” (Al-Alaq:6-7)
Seorang hamba yang merasa fakir selalu sadar, semua harta yang ia miliki, karya yang ia hasilkan, jabatan yang ia duduki, sanjungan yang ia terima, sejatinya adalah kepunyaan Allah yang Mahakaya.
Mereka melihat bahwa apa saja yang ada di tangan mereka tidak lebih dari sekedar titipan Allah dan ujian dariNya.
Namun orang yang memperturutkan hawa nafsunya, harta menjadi satu-satunya obsesinya dan puncak ilmunya. Jika diberi, maka ia puas. Jika tidak diberi, maka ia marah. Ia tidak lebih dari budak dinar dan dirham. Dari pagi, sore hingga malam ia terlihat murung. Ia bahagia ketika harta kekayaannya bertambah, ia sedih dan galau manakala ada yang hilang dari dirinya atau sesuatu yang tidak dapat ia miliki.
Sedang orang beruntung adalah yang menyadari Allah lah pemilik mutlak hartanya. Jika ia kehilangan, ia tak sedih, jika hartanya bertambah, ia tidak senang hingga lupa diri. Ia menyerahkan sepenuhnya pengaturan hartanya kepada Yang Mahakaya. Ia memahami pengaturanNya dengan tuntunan hikmah.
Hatinya tidak lengket dengan harta dan tidak menaruh perhatian penuh dan cinta kepadanya. Ia merasa kaya dengan-Nya, cinta kepada-Nya, kenal dan dekat dengan-Nya,
Karena mencintai sesuatu membuat kita menjadi budaknya. Manakala mencintai harta, kita akan menjadi budaknya, maka mencintai Allah akan menjadikan kita hamba-Nya.
Dengan demikian, hakikat fakir adalah: Penyerahan hamba dalam semua kondisinya kepada Allah.
Dari sinilah kita bisa mengatakan, kekayaan bisa dibagi menjadi dua, kaya kelas teri, dan kaya kelas elit. Bagaimana membedakannya?
Apakah mereka yang naik sedan mewah eropa?
Iphone terbaru?
Rumah yang ruang tamunya bisa untuk main badminton?
Dari sinilah kita bisa mengatakan, kekayaan bisa dibagi menjadi dua, kaya kelas teri, dan kaya kelas elit. Bagaimana membedakannya?
Apakah mereka yang naik sedan mewah eropa?
Iphone terbaru?
Rumah yang ruang tamunya bisa untuk main badminton?
Kaya kelas teri adalah ....kaya yang berasal dari hasil pinjaman yang kelak akan ditarik kembali ....oleh pemilikNya ....
Pasangan, anak-anak, emas perak, rupiah dan dolar, rumah, kendaraan ....
ini adalah kekayaan yang amat lemah, ia bisa setiap saat ditarik kembali oleh pemilikNya ...
Tidak ada obsesi kelas teri yang paling kerdil melebih obsesi orang yang puas dengan kekayaan jenis ini ...
Tidak ada yang paling dicintai setan dan paling menjauhkan dari Ar-Rahman dari hati yang penuh cinta kepada kekayaan dan ketakutan akan tidak mendapatkannya.
Pasangan, anak-anak, emas perak, rupiah dan dolar, rumah, kendaraan ....
ini adalah kekayaan yang amat lemah, ia bisa setiap saat ditarik kembali oleh pemilikNya ...
Tidak ada obsesi kelas teri yang paling kerdil melebih obsesi orang yang puas dengan kekayaan jenis ini ...
Tidak ada yang paling dicintai setan dan paling menjauhkan dari Ar-Rahman dari hati yang penuh cinta kepada kekayaan dan ketakutan akan tidak mendapatkannya.
Maka wajib bagi kita menasehati diri sendiri untuk tidak tertipu oleh kekayaan jenis ini, dan tidak menjadikannya sebagai tujuan akhir kehidupannya.
Kalaupun kita mendapatkannya, harus bisa menjadikannya sebagai sarana mencapai kekayaan kelas elit ...
Jiwanya harus lebih mulia daripada kekayaan dengan tidak menjadikannya sebagai ilah selain Allah.
Kalaupun kita mendapatkannya, harus bisa menjadikannya sebagai sarana mencapai kekayaan kelas elit ...
Jiwanya harus lebih mulia daripada kekayaan dengan tidak menjadikannya sebagai ilah selain Allah.
Sedangkan kaya kelas elit, ia terbagi menjadi 3 tingkatan ...
Tingkatan pertama, kekayaan hati
Tingkatan kedua, kekayaan jiwa
Tingkatan ketiga, kekayaan kebenaran
hati yang bersih ....
jiwa yang tenang ...
kebenaran akan kesaksian (syahadat) ...
Tingkatan pertama, kekayaan hati
Tingkatan kedua, kekayaan jiwa
Tingkatan ketiga, kekayaan kebenaran
hati yang bersih ....
jiwa yang tenang ...
kebenaran akan kesaksian (syahadat) ...
Sebagaimana Rasulullah bersabda:
"Kaya bukanlah dengan harta yang banyak, namun kaya adalah kaya jiwa." (HR Bukhari, Muslim, Tirmizi dan Ibnu Majah)
Orang kaya elit, hatinya bersih, penuh syukur, sabar, ia merasa kaya dengan yang Allah berikan dan Allah tangguhkan ....
Hati yang kaya dengan khusyu' (tunduk) kepada Allah dalam segaia situasi ...
Hati yang khusyu, memberikan ketenangan kepada jasmani ...
Kepada wajah, ia memberikan kewibawaan, cahaya dan keindahan ...
Kepada lisan, ia berikan pakaian kejujuran, ucapan yang benar, dan hikmah yang bermanfaat ...
Kepada mata, ia berikan pelajaran atas apa yang dilihatnya, dan berpaling dari yang haram ...
Kepada telinga, ia berikan keikhlasan mendegar nasihat dan ucapan yang bermanfaat
"Kaya bukanlah dengan harta yang banyak, namun kaya adalah kaya jiwa." (HR Bukhari, Muslim, Tirmizi dan Ibnu Majah)
Orang kaya elit, hatinya bersih, penuh syukur, sabar, ia merasa kaya dengan yang Allah berikan dan Allah tangguhkan ....
Hati yang kaya dengan khusyu' (tunduk) kepada Allah dalam segaia situasi ...
Hati yang khusyu, memberikan ketenangan kepada jasmani ...
Kepada wajah, ia memberikan kewibawaan, cahaya dan keindahan ...
Kepada lisan, ia berikan pakaian kejujuran, ucapan yang benar, dan hikmah yang bermanfaat ...
Kepada mata, ia berikan pelajaran atas apa yang dilihatnya, dan berpaling dari yang haram ...
Kepada telinga, ia berikan keikhlasan mendegar nasihat dan ucapan yang bermanfaat
Hati yang kaya memberikan tangan dan kaki kekuatan untuk taat dimanapun ia berada ...
Lalu dari hati yang kaya ini, akan lahirlah jiwa yang tenang ...
Jiwa yang tenang, memberikan kekayaan untuk ringan melaksanakan perintah Allah, dan berat melanggar larangan-Nya ...
Jiwa yang kaya, dingin terhadap hawa nafsunya, ambisi pribadi dan kebodohannya ...
Berbeda dengan jiwa yang miskin dan keras, ia lamban, sulit menerima kebenaran, nyaris tak mau khusyu' (tunduk)
Inilah hati dan jiwa yang kaya, yang tidak butuh kepada selain Rabbnya
Lalu dari hati yang kaya ini, akan lahirlah jiwa yang tenang ...
Jiwa yang tenang, memberikan kekayaan untuk ringan melaksanakan perintah Allah, dan berat melanggar larangan-Nya ...
Jiwa yang kaya, dingin terhadap hawa nafsunya, ambisi pribadi dan kebodohannya ...
Berbeda dengan jiwa yang miskin dan keras, ia lamban, sulit menerima kebenaran, nyaris tak mau khusyu' (tunduk)
Inilah hati dan jiwa yang kaya, yang tidak butuh kepada selain Rabbnya
Demikianlah para sahabat ...
Abu Bakar radhiallahu anhu menyerahkan seluruh hartanya, dan bagi dirinya dan keluarganya cukup Allah dan Rasul-Nya ...juga sahabat yang lain ...sedangkan kaya akan kebenaran ....
Ia telah sampai pada mengenal Allah ta'ala... dan Allah selalu bersamanya dalam keadaan ramai maupun sendirian ...
Ia terobsesi untuk berlari kepada-Nya ....selalu berdzikir, khusyu dalam shalatnya dan ikhlas dalam amalnya ...
Inilah kaya elit yang paling elit ....Sebagaimana Rasulullah bersabda:
"Barang siapa menjadikan dunia sebagai obsesinya yang paling besar, maka Allah menjadikan kefakirannya berada di depan kedua matanya, menceraiberaikan urusannya, dan ia diberikan dunia sebatas ukuran yang ditentukan baginya. Dan barangsiapa menjadikan akhirat sebagai obsesinya yang paling besar, Allah menjadikan kekayaan di dalam hatinya, mengumpulkan urusannya, dunia datang kepadanya dengan tunduk dihadapannya, dan Allah lebih cepat daripada semua kebaikan yang datang kepadanya."
Inilah kekayaan sejati,
Jika kekayaan tersebut milik orang yang menjadikan akhirat sebagai obsesi terbesarnya, menjadikan Allah sebagai obsesi terbesarnya, inilah kaya yang paling kaya dari kekayaan kelas elit ...
Wallahua'lam bishawab...
Abu Bakar radhiallahu anhu menyerahkan seluruh hartanya, dan bagi dirinya dan keluarganya cukup Allah dan Rasul-Nya ...juga sahabat yang lain ...sedangkan kaya akan kebenaran ....
Ia telah sampai pada mengenal Allah ta'ala... dan Allah selalu bersamanya dalam keadaan ramai maupun sendirian ...
Ia terobsesi untuk berlari kepada-Nya ....selalu berdzikir, khusyu dalam shalatnya dan ikhlas dalam amalnya ...
Inilah kaya elit yang paling elit ....Sebagaimana Rasulullah bersabda:
"Barang siapa menjadikan dunia sebagai obsesinya yang paling besar, maka Allah menjadikan kefakirannya berada di depan kedua matanya, menceraiberaikan urusannya, dan ia diberikan dunia sebatas ukuran yang ditentukan baginya. Dan barangsiapa menjadikan akhirat sebagai obsesinya yang paling besar, Allah menjadikan kekayaan di dalam hatinya, mengumpulkan urusannya, dunia datang kepadanya dengan tunduk dihadapannya, dan Allah lebih cepat daripada semua kebaikan yang datang kepadanya."
Inilah kekayaan sejati,
Jika kekayaan tersebut milik orang yang menjadikan akhirat sebagai obsesi terbesarnya, menjadikan Allah sebagai obsesi terbesarnya, inilah kaya yang paling kaya dari kekayaan kelas elit ...
Wallahua'lam bishawab...
Sumber : Ust. Dian Alamanda / HA / Kajian Telegram
Komentar
Posting Komentar