TAFSIR AL BAQARAH AYAT 36 - 38

RUBRIK TAFSIR ODOJER

Surat Al Baqarah ayat 36

Firman Allah Swt:
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا
"Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari Surga itu". (Al-Baqarah: 36)
Damir "Anhaa," dapat kembali pada kata Surga. Atas dasar i'rab ini, berarti makna ayat adalah 'keduanya dijauhkan oleh setan dari Surga', demikianlah menurut bacaan Asim (yakni fa-azallahuma).
Dapat juga diartikan bahwa damir tersebut kembali kepada madzkur yang paling dekat dengannya, yaitu asy-syajarah. Dengan demikian, berarti makna ayat seperti yang dikatakan oleh Al-Hasan dan Qatadah ialah, 'maka setan menggelincirkan keduanya disebabkan pohon tersebut'.

Dalam ayat selanjutnya Allah Swt berfirman:
فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ
"Dan keduanya dikeluarkan dari keadaan semula". (Al-Baqarah: 36)
Yakni dari semua kenikmatan, seperti pakaian, tempat tinggal yang luas, rezeki yang berlimpah, dan kehidupan yang enak.

Dan Allah Swt berfirman, :
وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ
"Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kalian ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan". (Al-Baqarah: 36)
Yaitu tempat tinggal, rezeki, dan ajal. 

Yang dimaksud dengan "ilaa hiin" ialah waktu yang terbatas dan yang telah ditentukan, kemudian terjadilah kiamat.

Dalam riwayat Ibnu Hatim (dengan sanadnya) dari Qatadah, dari Ubay ibnu Ka'b yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Setelah Adam memakan buah terlarang itu, maka ia lari dan ada sebuah pohon yang terkait pada rambutnya, kemudian diseru, "Hai Adam, apakah Engkau lari dari-Ku?" Adam menjawab, "Tidak, melainkan karena malu kepada-Mu." Allah berfirman, "Hai Adam, keluarlah kamu dari sisi-Ku, demi keagungan-Ku, Aku tidak akan menempatkan di dalamnya (Surga) orang yang durhaka kepada-Ku. Seandainya Aku menciptakan makhluk yang semisal denganmu sepenuh bumi, lalu mereka durhaka kepadaKu, niscaya Aku akan menempatkan mereka di tempat tinggal orang-orang yang durhaka (neraka)."
Hadis ini berpredikat garib, di dalam sanadnya terdapat inqita', bahkan i'dal antara Qatadah dan Ubay Ibnu Ka'b r.a.

Berapa lama Nabi Adam berada di surga?
Al-Hakim (dengan sanadnya) dari Ibnu Abbas yang telah menceritakan, "Tidaklah Adam tinggal di dalam Surga melainkan hanya antara salat Ashr sampai dengan tenggelamnya matahari".
Abdur Rahman ibnu Humaid mengatakan di dalam kitab tafsirnya, bahwa Adam tinggal di dalam Surga hanya sesaat di siang hari. Satu saat tersebut lamanya sama dengan 130 tahun hari-hari dunia.

Dimana Nabi Adam diturunkan?
As-Saddi mengatakan, bahwasanya Allah Swt berfirman: "Turunlah kalian semua dari Surga itu". (Al-Baqarah: 38)

Maka turunlah mereka, sedangkan Adam turun di India dengan membawa Hajar Aswad dan segenggam dedaunan Surga, lalu ia menaburkannya di India, maka tumbuhlah pepohonan yang wangi baunya. Maka asal mula wewangian dari India itu adalah dari segenggam dedaunan Surga yang ikut dibawa turun oleh Adam. Sesungguhnya Adam menggenggamnya hanya terdorong oleh rasa penyesalannya karena dikeluarkan dari Surga.

Imran ibnu Uyaynah meriwayatkan dari Ata ibnu Saaib, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Adam diturunkan di Dahna, salah satu wilayah negeri India.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa Adam diturunkan di suatu daerah yang dikenal dengan nama Dahna, terletak di antara Mekah dan Taif.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa Adam diturunkan di India, sedangkan Siti Hawa di Jeddah, dan iblis di Dustamisan yang terletak beberapa mil dari kota Basrah, sedangkan ular diturunkan di Asbahan.

Dalam riwayat lain dikatakan Adam a.s. diturunkan di Safa, dan Hawa diturunkan di Marwah.

Bagaimana keadaan Nabi Adam saat diturunkan?
Raja Ibnu Salamah mengatakan bahwa Adam a.s. diturunkan, sedangkan kedua tangannya diletakkan pada kedua lututnya seraya menundukkan kepalanya. Iblis diturunkan, sedangkan jari jemari tangannya ia satukan dengan yang lainnya seraya mengangkat kepalanya ke langit.

Dari Abu Musa mengatakan "Sesungguhnya ketika Allah Swt menurunkan Adam dari Surga ke bumi, terlebih dahulu Dia mengajarkan kepadanya membuat segala sesuatu dan membekalinya dengan buah-buahan Surga. Maka buah-buahan kalian ini berasal dari buah-buahan Surga, hanya bedanya buah-buahan yang ini berubah, sedangkan buah-buahan Surga tidak berubah."

Kapan Nabi Adam diturunkan?
Az-Zuhri meriwayatkan dari Abdur Rahman ibnu Hurmuz AlA'raj, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"Sebaik-baik hari yang terbit matahari padanya adalah hari Jumat. Pada hari Jumat Adam diciptakan, pada hari Jumat pula ia dimasukkan ke dalam Surga, dan pada hari Jumat pula ia dikeluarkan darinya." (Riwayat Imam Muslim dan Imam Nasai)

Faedah yang terkadung dalam ayat
Fakhruddin (Ar-Razi) mengatakan, "Sepengetahuanku di dalam ayat ini terkandung makna peringatan dan ancaman yang besar terhadap semua perbuatan maksiat bila ditinjau dari berbagai segi. Antara lain ialah penggambaran kejadian yang dialami oleh Nabi Adam hingga ia dikeluarkan dari Surga, hanya disebabkan kekeliruan yang kecil, yang ini membuatnya menjadi sangat malu terhadap perbuatan maksiat".
Ar-Razi meriwayatkan dari Fathul Mausuli mengatakan bahwa kita ini pada awalnya adalah kaum penghuni Surga, kemudian kita ditawan oleh iblis ke dunia. Maka tiadalah yang kita alami selain kesusahan dan kesedihan sebelum kita dikembalikan ke rumah tempat kita dahulu dikeluarkan.

Beberapa pendapat seputar iblis yang menggoda Nabi Adam a.s
Apabila ada yang mengatakan, "Jika surga tempat Adam a.s dikeluarkan berada di langit, (seperti yang dikatakan oleh jumhur ulama) maka mengapa iblis dapat memasukinya, padahal dia telah diusir darinya untuk selama-lamanya?
Sebagai jawabannya dapat dikatakan, "Memang pemikiran seperti inilah yang dijadikan dalil bagi orang yang mengatakan bahwa Surga yang dalunya ditempati oleh Adam berada di bumi bukan di langit. Hal ini telah kami jelaskan secara rinci dalam permulaan kitab kami Al Bidayah Wan Nihayah.

Dan sehubungan dengan pertanyaan tersebut jumhur ulama mengemukakan berbagai jawaban, antara lain:
Iblis memang dilarang masuk Surga bila memasukinya secara baik-baik. Jika dia memasukinya dengan cara yang hina seperti menyusup maka tiada yang mencegahnya.
Karena itu, ada sebagian dari mereka yang mengatakan (sebagaimana apa yang disebut di dalam kitab Taurat) bahwa iblis masuk ke dalam Surga melalui mulut ular yang kemudian ular tersebut masuk ke dalam Surga.

Menurut sebagian ulama, dapat pula iblis menggoda keduanya (Adam dan Hawa) dari luar pintu Surga.
Sebagian yang lainnya mengatakan bahwa iblis menggoda keduanya dari bumi, sedangkan keduanya masih berada di dalam srga di langit. Demikian menurut Az-Zamakhsyari dan lain-lainnya.

Wallahu'alaam bishshowab


Tafsir Qur'an Surah Al Baqarah : 37


فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيم
(Surat Al-Baqarah : 37)
Artinya:
"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang".
Abu Ishaq As Subai'i meriwayatkan dari seorang lelaki Bani Tamim yang menceritakan bahwa ia pernah datang kepada Ibnu Abbas, lalu bertanya kepadanya, "Kalimat kalimat apakah yang diberikan kepada Adam oleh Tuhannya? Iya menjawab, Ilmu mengenai Ibadah Haji".

Sufyan As Tsauri meriwayatkan dari Abdul Aziz ibnu Raf'i yang mengatakan bahwa ia telah menerima riwayat ini dari seorang yang pernah mendengar dari Ubaid ibnu Umair. Riwayat lain menyebutkan, telah menceritakan kepadaku Mujahid, dari Ubaid ibnu Umair yang mengatakan bahwa Adam berkata: "Wahai Tuhanku, dosa yang telah kulakukan ini merupakan suatu hal yang telah Engkau pastikan terhadap diriku sebelum engkau menciptakan diriku, atau sesuatu yang aku perbuat dari diriku sendiri?". Allah berfirman, "Tidak, bahkan itu adalah sesuatu yang aku takdirkan atas dirimu sebelum kamu diciptakan". Adam berkata, "Maka sebagaimana Engkau telah memastikannya atas diriku, karenanya ampunilah diriku ini".

Ubaid ibnu Umair mengatakan bahwa yang demikian itulah Makna dari firmanNya:

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ 

Artinya : " Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya" (Al Baqarah : 37)

Ibnu Abu Nujaih meriwayatkan dari mujahid yang mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan beberapa kalimat ialah sebagai berikut:

Ya Allah, tidak adabTuhan yang wajib disembah selain Engkau, mahasuci Engkau dengan memuji kepadaMu, wahai Tuhanku, Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, Maka berilah ampun bagi diriku, sesungguhnya Engkau sebaik-baik penerima taubat. Ya Allah tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain  Engkau, maha suci Engkau dengan memuji kepadaMu, wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diri kusendiri, maka rahmatilah diriku, sesungguhnya Engkau sebaik baik pemberi rahmat, Ya Allah tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Engkau, maha suci Engkau dengan memuji kepadaMu, wahai Tuhanku sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka berilah ampunan kepadaku, sesungguhnya Engkau maha penerima taubat lagi maha penyayang.

Firman Allah Swt :
إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيم
Artinya: Sesungguhnya Allah maha penerima tobat lagi maha penyayang (Al Baqoroh 37)
Yakni sesungguhnya dia menerima tobat orang yang bertobat dan kembali kepadaNya, makna ayat ini sama dengan makna yang terdapat didalam firmanNyaُ

At-Taubah : 104
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ
Artinya: tidaklah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya (At Taubah: 104)ُ

An Nisaa 110
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا (النسآء : 110)
Artinya: Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah maha pengampun lagi maha penyayang. (An Nisaa: 110)

Al Furqon 71
وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (الفرقان : 71)
Artinya: Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal sholeh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan Taubat yang Sebenar- benarnya. (Al Furqan: 71)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menunjukan bahwa Allah Swt. Mengampuni semua dosa dan menerima taubat orang yang bertaubat. Demikianlah sebagian dari kelembutan Allah kepada mahlukNya dan kasih sayangNya kepada hamba-hambaNya. Tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Dia yang maha penerima taubat lagi maha penyayang.


Tafsir Qur'an Surah Al Baqarah : 38


قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُون
Artinya : "Kami berfirman, "Turunlah kamu semuanya dari surga ini.! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada dan mendustakan ayat ayat kami, mereka itu penghuni Neraka, mereka kekal didalamnya" (Al Baqarah : 38)

Allah swt. Menceritakan tentang peringatan yang di tujukan kepada Adam dan istrinya serta iblis ketika mereka diturunkan dari surga. Yg dimaksud ialah anak cucunya, bahwa Allah kelak akan menurunkan kitab kitab dan pengutus nabi-nabi serta rosul-rosul (dikalangan mereka yang akan memberi peringatan kepada kaumnya masing masing).
Demikianlah menurut Abul Aliyah; dia mengatakan bahwa petunjuk tersebut dimaksudkan adalah para nabi dan para rosul, serta penjelasan penjelasan dan keterangan-Nya (melalui ayat-ayat Nya)

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan, yang dimaksud dengan petunjuk dalam ayat ini ialah Nabi Muhammad saw. sedangkan menurut..
Al Hasan, petunjuk artinya Al Qur'an. Kedua pendapat ini sahih, sedangkan pengertian pendapat Abul Aliyah lebih umum.
Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku yakni orang yang mau menerima apa yang diturunkan oleh Allah melalui kitab kitabnya dan apa yang disampaikan oleh rosul-rosul-Nya niscaya tdak ada kekhawatiran atas diri mereka dan dalam menghadapi nasib di akhirat nanti.

Tidak pula mereka bersedih hati terhadap perkara perkara Duniawi yg terlewatkan oleh mereka. Pengertiannya sama dngn makna yang terkandung di dalam firman lainnya, yaitu:
قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
ٰ
Artinya :
"Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (Taahaa: 123)
Menurut ibnu Abbas ra. Makna yang dimaksud ialah dia tidak sesat didunia dan tidak celaka di akhirat.

Allah swt telah berfirman:
َ
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
Artinya:
"Dan barang siapa berpaling dari peringatan Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghidupkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Taahaa: 124)

Allah Ta’ala memberitakan bahwa Diri-Nya telah memerintahkan Adam, Hawwa dan Iblis agar turun ke bumi. Hal ini terjadi, setelah kedua insan tersebut digoda oleh syaithan supaya memakan buah dari pohon “al-Khuld” yang kemudian dimakan oleh keduanya. Lalu Dia Allah Ta’ala memberitahukan kepada mereka semua bahwa bila mereka mengikuti petunjuk yang datang kepada mereka dan tidak membelot darinya, maka mereka akan merasa aman dan bahagia serta tidak akan merasa takut dan bersedih. Sebaliknya, Dia Allah Ta’ala mengancam siapa saja yang kafir terhadapNya, mendustai Rasul-Nya serta tidak beriman dan beramal shalih akan membuatnya kekal di neraka.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “adapun penghuni neraka yang mereka itu memang (pantas menjadi) penghuninya, maka mereka tidak akan mati dan juga hidup didalamnya, akan tetapi ada kaum yang disiksa dengan api neraka lantaran kesalahan mereka sehingga mereka mengalami kematian, lalu bila sudah menjadi arang, dia diizinkan untuk mendapatkan syafa’at”. Maksudnya: mereka keluar dari neraka karena mendapatkan syafa’at.

Maraji' : Tafsir ibnu Katsir ٰ
Ditulis oleh : Alfan Muttaqien ( Team Syari'ah Divisi Tsaqafah Islamiyah PSDM ODOJ)

Komentar

Postingan Populer