TAFSIR SURAH AL BAQARAH AYAT 25 - 26
RUBRIK TAFSIR ODOJERS
Edisi Sembilan
Jumat, 06 Maret 2015
Edisi Sembilan
Jumat, 06 Maret 2015
Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 25
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَv
Artinya :
"Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya".
Artinya :
"Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya".
Setelah menuturkan apa yang disediakan bagi musuh-musuh-Nya dari kalangan orang-orang yang celaka, yakni orang-orang yang kafir kepada-Nya dan kepada rasul-rasul_nya, berupa siksaan dan pembalasan, maka Allah mengiringinya dengan kisah keadaan kekasih-kekasihNya dari kalangan orang-orang yang berbahagia, yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada rasul-rasul-Nya. Mereka adalah orang-orang yang keimanan mereka dibuktikan dengan amal-amal saleh.
Berdasarkan pengertian inilah maka Al-Qur'an dinamakan masani menurut pendapat yang paling sahih dikalangan para ulama, yang keterangannya akan dibahas dengan panjang lebar pada tempatnya. Yang dimaksud dengan masani ialah iman, kemudian diikuti dengan sebutan kekufuran atau sebaliknya, atau perihal orang-orang yang berbahagia, lalu diiringi dengan perihal orang-orang yang celaka atau sebaliknya. Kesimpulannya ialah menyebutkan sesuatu hal, kemudian diiringi dengan lawan katanya. Adapun penyebutan sesuatu yang dikemukakan sesudah penyebutan hal yang semisal dengannya, hal ini dinamakan penyerupaan (tasyabuh).
Surga-surga tersebut digambarkan oleh ayat ini, mengalir dibawahnya sungai-sungai, yakni dibawah pohon-pohon dan gedung-gedungnya. Didalam sebuah hadist disebutkan bahwa sungai-sungai surga mengalir bukan pada parit-parit. Sehubungan dengan Sungai Al-Kautsar, telah disebutkan bahwa kedua tepinya terdapat kubah-kubah yang terbuat dari batu permata yang berlubang. Kedua pengertian ini tidak bertentangan. Tanah liat surga terdiri atas batu-batu mutiara dan batu-batu permata. Kami memohon kepada Allah karunia-Nya, sesungguhnya Dia Maha Baik lagi Maha Penyayang.
As-Saddi di dalam kitab tafsirnya mengatakan dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud, dari sejumlah sahabat sehubungan dengan makna firman-Nya, "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Disebutkan bahwa mereka di dalam surga diberi buah-buahan. Ketika melihat buah-buahan itu mereka mengatakan, "inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu di dunia". hal yang sama dikatakan pula oleh Qatadah, Abdurrahman Ibnu Zaid Ibnu Aslam dan didukung oleh Ibnu Jarir.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari As-Saddi dalam kitab tafsirnya dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud serta dari sejumlah sahabat Nabi SAW sehubungan dengan makna firman-Nya "Mereka diberi buah-buahan yang serupa". Makna yang dimaksud ialah serupa dalam hal warna dan bentuk, tetapi tidak sama dalam hal rasa. Pendapat inilah yang dipilih Ibnu Jarir.
Sedangkan Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya "mereka diberi buah-buahan yang serupa", bahwa buah-buahan surga mirip dengan buah-buahan didunia, hanya buah-buahan surga lebih wangi dan lebih enak. Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Al-A'masy, dari Abu Zabyan, dari Ibnu Abbas, bahwa tidak ada sesuatupun di dalam surga yang menyerupai sesuatu yang ada di dunia, hanya namanya saja yang serupa.
Firman Allah "walahum fiha azwajum mutohharah"
Mujahid mengatakan yang dimaksud ialah suci dari haid, buang air besar, buang air kecil, dahak, ingus, ludah, air mani dan beranak.
Qatadah mengatakan bahwa mutahharah artinya suci dari kotoran dan dosa (najis).
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadanya Yunus Ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dari Abdur Rahman Ibnu Zaid Ibnu Aslam yang mengatakan bahwa al-mutahharah artinya wanita yang tidak pernah haid. Akan tetapi riwayat ini dinilai garib.
Menurut Ibnu Katsir, yang jelas pendapat ini merupakan pendapat Qatadah, seperti yang telah dituliskan di atas.
Firman Allah "wahum fiha kholidun", hal ini merupakan kebahagiaan yang sempurna, karena sesungguhnya disamping mereka mendapat nikmat tersebut, mereka terbebas dan aman dari kematian dan terputusnya nikmat. Dengan kata lain, nikmat yang mereka peroleh tiada akhir dan tiada habisnya, bahkan mereka berada dalam kenikmatan yang abadi selama-lamanya. Hanya kepada Allah-lah kami memohon agar diri kami dihimpun bersama golongan ahli surga ini. Sesungguhnya Allah Maha Dermawan, Maha Mulia, Maha baik, lagi Maha Penyayang.
Wallahu 'alam bishshowab.
Disarikan dari :
Tafsir Ibnu Katsir
Al Qur'an Al Azhim
Al Qur'an Al Azhim
Posted by:
Tim Tafsir divisi TSI - PSDM ODOJ
Tim Tafsir divisi TSI - PSDM ODOJ
RTO/09/6/03/2015/ DivisiTSIPSDMODOJ
RUBRIK TAFSIR ODOJERS
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°° °°
Edisi Sepuluh
Jum'at, 13 Maret 2015
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Edisi Sepuluh
Jum'at, 13 Maret 2015
Tafsir Surah al Baqarah ayat 26
إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ (26)
"Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik" {26}
Tafsiran ayat 26
Berkata Saddi dalam tafsirnya, dari ibnu Mas'ud, dari sejumlah sahabat : ketika Allah menjadikan dua perumpamaan ini bagi orang munafik (lihat pada surat al-baqarah ayat 17-19), berkatalah orang munafik, "Allah-lah yang maha tinggi dan maha besar dengan perumpamaan ini." Maka Allah menurunkan ayat ini hingga akhir ayat ( هُمُ الْخَاسِرُون) -maksudnya ayat 26 dan 27 al baqarah-
Dari Ma'mar, Dari Qotadah : ketika Allah menyebutkan laba-laba dan lalat sebagai perumpamaan, berkatalah orang-orang musyrik, "Apa hubungannya antara laba-laba dan lalat?" Maka Allah menurunkan ayat ( إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا)
Dari Said, dari Qotadah : sesungguhnya Allah tidak segan menyebutkan sesuatu demi kebenaran, baik itu kecil maupun besar. Dan ketika Allah menyebutkan lalat dan laba-laba dalam kitab-Nya, berkatalah orang sesat, "Apa maksud Allah menyebutkan hal ini!?" Maka Allah menurunkan ayat ( إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا)
Dari Rabi' bin Anas : ini perumpamaan yang Allah jadikan untuk menggambarkan dunia. Karena nyamuk akan tetap hidup ketika lapar dan apa bila telah kenyang maka dia akan mati.
Begitu juga halnya bagi orang-orang yang Allah tujukan perumpamaan ini untuk mereka, apabila jiwa mereka telah dipenuhi kesenangan dunia, maka disitu Allah akan mencabut segalanya dan mengazab mereka. Allah berfirman {"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa"} QS. Al-An'am 44
Begitu juga halnya bagi orang-orang yang Allah tujukan perumpamaan ini untuk mereka, apabila jiwa mereka telah dipenuhi kesenangan dunia, maka disitu Allah akan mencabut segalanya dan mengazab mereka. Allah berfirman {"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa"} QS. Al-An'am 44
Ada perbadaan mengenai asbabunnuzul, dan Ibnu Jarir lebih memilih apa yang telah diriwayatkan Saddi karena lebih menyentuh dengan isi surat.
Makna ayat
Maksud dari (إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي)
{"Sesungguhnya Allah tiada segan"} adalah tidak enggan dan takut membuat perumpamaan apapun itu, baik kecil maupun besar.
{"Sesungguhnya Allah tiada segan"} adalah tidak enggan dan takut membuat perumpamaan apapun itu, baik kecil maupun besar.
Sedangkan makna (فَمَا فَوْقَهَا)
{"atau yang lebih rendah dari itu"} ada dua pendapat disini.
{"atau yang lebih rendah dari itu"} ada dua pendapat disini.
Pertama, sesuatu yang lebih rendah dan lebih tercela (dari nyamuk). Ini pendapat al-Kisai dan Abu Ubaid.
Sedangkan pendapat yang kedua, menunjukkan sesuatu yang lebih besar (dari nyamuk). Qatadah dan Ibnu jarir lebih memilih pendapat ini, atas dasar tidak ada yg lebih hina dan rendah dari nyamuk.
Sedangkan pendapat yang kedua, menunjukkan sesuatu yang lebih besar (dari nyamuk). Qatadah dan Ibnu jarir lebih memilih pendapat ini, atas dasar tidak ada yg lebih hina dan rendah dari nyamuk.
(إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا)
{"Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu"}
Mujahid berkata terkait firman Allah diatas, baik perumpamaan itu kecil maupun besar, orang mukmin akan mengimaninya dan menyakini bahwasanya itu adalah kebenaran dari Allah dan Allah akan memberi hidayah dengannya.
{"Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu"}
Mujahid berkata terkait firman Allah diatas, baik perumpamaan itu kecil maupun besar, orang mukmin akan mengimaninya dan menyakini bahwasanya itu adalah kebenaran dari Allah dan Allah akan memberi hidayah dengannya.
(فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ)
{"Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka"}
Menurut Qotadah, mereka adalah orang-orang yang mengetahui bahwasanya perumpamaan itu merupakan Kalamullah.
{"Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka"}
Menurut Qotadah, mereka adalah orang-orang yang mengetahui bahwasanya perumpamaan itu merupakan Kalamullah.
(وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا)
{"tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?"}
Abu aliyah berkata : Allah berfirman dalam surat muddasir ayat 31.
"....supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya...."
{"tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?"}
Abu aliyah berkata : Allah berfirman dalam surat muddasir ayat 31.
"....supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya...."
Dari Ibnu Mas'ud dari banyak sahabat: maksud (يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا)
{"dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah"}
yakni orang munafik, maka Allah menambah kesesatan mereka disamping kesesatan mereka yang telah ada. Sebab kedustaan mereka dengan apa yang mereka ketahui dari perkara yang haq dari Allah.
{"dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah"}
yakni orang munafik, maka Allah menambah kesesatan mereka disamping kesesatan mereka yang telah ada. Sebab kedustaan mereka dengan apa yang mereka ketahui dari perkara yang haq dari Allah.
Sedangkan maksud (وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا)
{"Dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk"}
yakni orang mukmin yang dengan perumpamaan itu dapat menambah hidayah dan keimanan mereka disamping keimanan yang telah ada di hati mereka.
{"Dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk"}
yakni orang mukmin yang dengan perumpamaan itu dapat menambah hidayah dan keimanan mereka disamping keimanan yang telah ada di hati mereka.
Abu aliyah berkata :
Maksud ayat (وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ) {"Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik"} adalah ahli nifaq.
Sedangkan menurut Mujahid dari Ibnu abbas adalah orang kafir yang mengetahui adanya Allah tetapi mereka kufur.
Menurut Qotadah mereka adalah orang fasik, maka Allah menyesetkan mereka karena kefasikan mereka.
Menurut mus'ab bin sad dari sad, yg dimaksud ayat adalah khawarij.
Maksud ayat (وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ) {"Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik"} adalah ahli nifaq.
Sedangkan menurut Mujahid dari Ibnu abbas adalah orang kafir yang mengetahui adanya Allah tetapi mereka kufur.
Menurut Qotadah mereka adalah orang fasik, maka Allah menyesetkan mereka karena kefasikan mereka.
Menurut mus'ab bin sad dari sad, yg dimaksud ayat adalah khawarij.
Allah tidak pernah mengganggap remeh susuatu hal untuk dijadikan perumpamaan, walaupun dari sesuatu yg hina dan rendah seperti nyamuk. Sebagaimana Allah tidak enggan menciptakannya maka Allah tidakkan enggan menjadikannya sebuah perumpamaan.
Dalam Al-qur'an terdapat banyak sekali ayat yang berisikan perumpamaan, diantaranya, [Al-hajj:73] [al-ankabut:41] [Ibrahim:24-27] [An-nahl:75-76] [Ar-rum:29] [Az-zumar:29] dan banyak lagi.
Kaum salaf berkata: "jika kami mendengar perumpamaan dalam Al-qur'an dan kami tidak dapat memahaminya maka kami akan menangis, Karena Allah telah berfirman "Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." QS. Al-ankabut : 43
Disarikan dari:
Tafsir al-qur'an al-azhim
Tafsir al-qur'an al-azhim
Posted By:
Tim Tafsir divisi TSI-PSDM ODOJ
Tim Tafsir divisi TSI-PSDM ODOJ
RTO/10/13/03/2015/ divisiTSIPSDMODOJ
Boleh saya bertnya sdkit? Sya agak bingung dengan istri2 yg dimaksud, dan sya berpikir berarti didalam surga kita bisa melakukan hubungan badan dengan istri yang sudah disediakan oleh tuhan bagi pria. Dan kalau benar seperti yang saya pikirkan....? Trus apakah ada juga bagi kaum perumpuan untuk medapatkan suami disurga seperti yang dimaksud.....?
BalasHapus