TAFSIR AL BAQARAH AYAT 15-24

RUBRIK TAFSIR ODOJERS
Edisi Kelima,
Jum'at, 23 Januari 2015
Tafsir Albaqarah ayat 15-16
Sifat Orang Munafik (3)

اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُون(١٥)
Allah akan memperolokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (15)
Allah ta’ala berfirman bahwa apabila orang-orang munafik itu bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Mereka menonjolkan keimanan, perwalian, dan kesucian sebagai tipuan bagi kaum mukmin dan sebagai kemunafikan, kepura-puraan, serta ketakutan agar mereka mendapat bagian kebaikan dan ghanimah (rampasan perang) yang didapat kaum mukmin.
“Dan apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka,” yakni apabila bergabung dengan para pemimpin, kepala suku, dan para pembesar mereka yang terdiri atas pendeta Yahudi dan para pemimpin kaum musyrik dan munafik, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu…” yakni kami sehaluan denganmu dalam kekafiran dan kemusyrikan.

“…Kami hanyalah berolok-olok.” Maksudnya, mengolok-olok para sahabat Muhammad saw.. Kemudian Allah taala berfirman menanggapi perbuatan mereka, “Alloh mengolok-olok mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka,” yakni sesungguhnya Allah mengolok-olok mereka, lalu Dia memperlihatkan kepada mereka sebagian dari hukum-Nya di dunia, berupa pemeliharaan atas harta dan darah mereka karena mereka memperlihatkan keimanan dengan ucapan mereka, “Tiada tuhan melainkan Allah dan Muhammad sebagai Rasul Allah,” selain azab dan kesengsaraan yang disediakan untuk mereka di akhirat.
Itulah penafsiran yang dipilih oleh Ibnu Jarir dengan alasan karena tipu daya, muslihat, dan olok-olok untuk tujuan mempermainkan dan guyonan, tercabut dari sisi Allah secara ijma. Adapun tipu daya, muslihat, dan olok-olok yang ditujukan untuk hukuman pembalasan, dan memberi imbalan dengan adil dapat saja dilakukan Allah. Alasan tersebut dikuatkan oleh pendapat adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas berkaitan dengan firman Allah, “Allah mengolok-olok mereka… ” yang mengatakan bahwa Allah mengolok-olok mereka untuk menghukum mereka.
Dan sehubungan dengan, “Dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan,” telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud dari Anas, dari para sahabat Rasulullah saw. bahwa yamudduhum berarti ‘melamakan mereka’, menurut Mujahid ‘menambahi mereka’, dan sebagian ulama mengatakan bahwa setiap kali mereka melakukan dosa baru, maka mereka diberi kenikmatan yang baru pula yang pada hakikatnya merupakan azab dari Allah.

Ibnu Jarir berkata, “Pendapat yang benar adalah, ‘Kami menambahi mereka dengan cara melamakan dan membiarkan dalam kesesatan dan kedurhakaannya."

Ayat 16
أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِين(َ١٦)
“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.” (16)

Artinya, orang-orang munafik itu mengambil kekafiran dan kemusyrikan, meninggalkan keimanan serta petunjuk, dan mereka menyukai perbuatannya itu.
mereka mengganti petunjuk dengan kesesatan, menukar keimanan dengan suatu harga yang digunakannya untuk membeli kekafiran.

Oleh karena itu, Allah ta’ala berfirman, “Maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk,” yakni, akad jual-beli mereka itu tidak beruntung dan tidak mendapat petunjuk dalam perbuatannya itu. Sesungguhnya mereka telah keluar dari petunjuk kepada kesesatan, dari persatuan kepada perpecahan, dari keamanan kepada ketakutan, dan dari sunnah kepada bid’ah.
Wallahu'alam bishshowwab
Posted by:
Tim Tafsir Divisi TSI
Sumber :
Tafsir Ibnu Katsir
Penerjemah :
Ummu Fathi


UBRIK TAFSIR ODOJERS
Edisi Ketujuh
Jum'at, 6 Februari 2015

Tafsir Surah al Baqarah ayat 17-20

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ
17) Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ
18) Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)

Golongan Muslimin tidak berpaling dari petunjuk sejak awal adanya kebenaran.
Mereka tidak  menutup telinga dari mendengar, tidak menutup mata dari melihat, tidak menutup hati dan pikiran dari berfikir, sebagaimana yang dilakukan orang-orang kafir.

Akan tetapi, golongan munafik lebih suka berada dalam ketidaktahuan daripada mencari petunjuk setelah jelas dan terang kebenaran itu bagi mereka. Mereka telah menyalakan api, tetapi ketika cahaya api itu menerangi mereka, mereka tidak memanfaatkannya.
Padahal sebelumnya mereka membutuhkan cahaya itu.

Dan pada waktu itu "Allah hilangkan cahaya yang menyinari mereka"
Itulah cahaya hidayah yang mereka cari, namun kemudian mereka tinggalkan.

"dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat" sebagai balasan berpalingnya mereka dari cahaya -hidayah-.

Perumpamaan lain bagi mereka:
أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ
19) Atau seperti orang yang ditimpa hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, menghindari suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir.
يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ ۖ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
20) Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah maha kuasa atas segala sesuatu.

Pemandangan yang mengagumkan. Hujan yang sangat lebat dari langit, "disertai gelap gulita, guruh dan kilat..." "setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu..." "Dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. " berhenti kebingungan, tidak tahu kemana mereka harus berjalan, dan mereka pun dalam kondisi ketakutan.  "Mereka menyumbat telinganya dengan jarinya (karena mendengar suara) petir, sebab takut akan mati..."

Hujan lebat, kegelapan, guruh, kilat, ketakutan. Inilah situasi yang memberi kesan dalam kehidupan munafik.
Antara pencarian mereka terhadap petunjuk dan cahaya dengan kembalinya mereka kepada kesesatan dan kegelapan. Ini merupakan sebuah pemandangan yang melukiskan kondisi jiwa dan menggambarkan perasaan mereka. Dan ini merupakan salah satu cara Al Quran yang mengagumkan dalam melukiskan kejiwaan manusia seakan-akan sebuah pemandangan yang dapat dilihat oleh pancaindera.

Menurut kitab sofwatut tafasir
Dari Ibnu Qayyim:
Dalam Al Quran, Allah bersabda (( ذهب الله بنورهم )) dan Allah tidak berkata ( ذهب الله بنارهم ) seperti disebut dalam lafaz sebelumnya (( استوقد نارا )) karena (النار) api , sifatnya bercahaya dan membakar. Karena Allah ingin menggambarkan bahwa yang diambil itu cahaya dan mengekalkan api itu. Artinya: Allah menarik petunjuk dari mereka dan mengekalkan mereka dalam kejahilan munafik.

Wallahu'alam bishshowab
Sumber :
Tafsir fi zilal Quran : Said Quthb
Sofwatut tafsir : Muhammad Ali As-Sobuni

Penerjemah:
Tim Tafsir divisi TSI-PSDM ODOJ




RUBRIK TAFSIR ODOJERS
EDISI KEENAM
JUMAT, 30 JANUARI 2015
Tafsir Surat Albaqarah Ayat 21-22

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٢)
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.
Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan keesaan Uluhiyyah-Nya, bahwa Dia-lah yang menganugerahkan nikmat kepada hamba-hamba-Nya dengan menciptakan mereka dari tidak ada menjadi ada, serta menyempurnakan bagi mereka nikmat lahir maupun bathin. Dia menjadikan bagi mereka bumi yang terhampar seperti tikar sehingga dapat ditempati dan dihuni, yang dikokohkan dengan gunung-gunung yang tinggi menjulang, "Dan langit serta pembangunannya," (QS. Asy-Syams: 5) yaitu dijadikan langit sebagai atap. Sebagaimana Dia berfirman di ayat lain: "Dan Kami jadi langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya." (Al-Anbiyaa': 32)

"Dan Dia telah menurunkan air hujan dari langit bagi Mereka." Yang dimaksud dengan langit di sini adalah awan yang turun ketika mereka membutuhkan. Lalu Dia mengeluarkan untuk mereka buah-buahan dan tanaman seperti yang mereka saksikan sebagai rizki bagi mereka dan juga ternak mereka Sebagaimana disebutkan pada banyak tempat di dalam al-Qur-an.
Ayat ini menjelaskan bahwa Dia-lah Pencipta, Pemberi rizki, bagi alam semesta berikut penghuninya dan yang memberi rizki kepada mereka. Dengan demikian, hanya Dia-lah yang berhak diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu Allah berfirman, "Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (Al-Baqarah: 22)

Dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim disebutkan dalam hadits dari Ibnu Mas'ud RA. ia menceritakan: “Aku pernah bertanya: Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?' Beliau SAW menjawab: `Engkau menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dia yang telah menciptakanmu." [(HR Al-Bukhari (no. 4477), Muslim No 86)].
Demikian juga hadits Mu'adz RA: 'Tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya? Yaitu mereka beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun."[HR Al-Bukhari (no. 2856), Muslim 30)].

Banyak ahli tafsir, di antaranya ar-Razi dan selainnya menjadikan ayat ini sebagai dalil yang menunjukkan adanya Sang Pencipta (Allah SWT). Ayat tersebut menunjukkannya dengan metode terbaik. Karena barangsiapa memperhatikan semua ciptaan-Nya, baik yang ada di bumi maupun di langit, perbedaan bentuk, warna, karakter, serta manfaatnya, dan semua itu diletakkan pada tempat yang mendatangkan manfaat secara tepat, niscaya ia akan mengetahui kekuasaan Penciptanya, meyakini hikmah, ilmu, kecermatan, dan keagungan kekuasaan-Nya. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Arab Badui ketika ditanya: "Apa dalil yang menunjukkan adanya Rabb?" Maka mereka menjawab: "Subhaanallaah, kotoran unta menunjukkan adanya unta, dan jejak kaki menunjukkan adanya orang yang pernah berjalan. Bukankah langit mempunyai gugusan bintang, bumi memiliki jalan-jalan yang luas, dan lautan mempunyai gelombang? Tidakkah yang demikian itu menunjukkan; adanya Allah Yang Maha lembut dan Maha Mengetahui?

Maka barangsiapa yang memperhatikan ketinggian dan luasnya langit serta berbagai bintang, komet dan planet, juga merenungkan bagaimana semua benda itu berputar di falak (orbit) yang luar biasa besarnya pada setiap siang dan malam hari, dan pada saat yang sama masing-masing benda itu berputar pada porosnya. Juga memperhatikan lautan yang mengelilingi bumi dari segala arah, serta gunung-gunung yang dipancangkan di bumi agar menjadi tetap dan tidak bergoyang dan penduduknya dapat tinggal di dalamnya walaupun dengan  bentuk permukaan bumi yang bermacam-macam dan berwarna warni.

Demikian pula sungai-sungai yang mengalir dari satu daerah daerah lain yang membawa berbagai manfaat. Diciptakan juga berbagai macam binatang, tumbuh-tumbuhan yang memiliki rasa, bentuk dan warna yang beraneka ragam, padahal tumbuh-tumbuhan itu hidup pada tanah dan air yang sama. Maka semua ini menjadi dalil adanya Rabb Sang Pencipta, dan menunjukkan kekuasaan-Nya yang agung, hikmah, rahmat, kelembutan dan kebaikan-Nya kepada semua makhluk yang Dia ciptakan. Tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, hanya kepada Nya kami bertawakkal dan kepada-Nya-lah kami kembali.
Wallahu’alam bishshowab
Sumber : Tafsir Ibnu Katsir
Diterjemahkan oleh: Ummu Fathi
RTO/06/29/01/2015/Div.TSI-PSDMODOJ


RUBRIK TAFSIR ODOJERS
Edisi Delapan
Jum'at, 20 Februari 2015

Tafsir Surah al Baqarah ayat 23-24

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ {23} فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ {24}

Terjemahan ayat:
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. {23}
Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) -- dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. {24}


Tafsiran ayat 23 :
Ayat ini digolongkan sebagai ayat tahaddi -ayat yang menantang-.
Dijelaskan bahwasanya Allah menantang orang kafir yang telah meragukan apa yang telah Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِه
{"buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu "}
Kalau memang Al-qur'an datang dari selain Allah, maka cobalah buat satu surat yang semisal dengan Al-qur'an yakni sebanding dengan Al-qur'an baik dalam kedalaman makna maupun dalam keindahan susunan kata serta pemberitaan tentang hal-hal gaib dan sebagainya.

وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّه
{"ajaklah penolong-penolongmu selain Allah"}
Dan mintalah pertolongan kepada siapa pun selain Allah SWT, maka sungguh kalian tidak akan mampu.
Walau pun mereka dari golongan yang paling fasih dengan bahasa arab.

Ibnu Abbas r.a. berkata : ( شهداءكم ) maksudnya  adalah أعوانكم yang artinya kaum atau siapa saja yang dapat menolongmu.
Saddi berkata : ( شهداءكم ) maksudnya adalah شركاؤكم artinya tuhan-tuhan kalian selain Allah.
Allah SWT telah menantang orang-orang kafir terkait hal ini diberbagai ayat dalam Al-qur'an diantaranya:
[ al-qosos : 49 ] [ al-isra' : 88 ] [Hud : 13] dan [ yunus : 37-38]

Ketidakmampuan mereka, merupakan dalil 'aqli yang menunjukkan kebenaran Rasulullah SAW dan kebenaran apa yang diturunkan kepada beliau.
Kita sama-sama mengetahui Rasulullah SAW adalah hamba Allah yang tidak membaca dan menulis.
Sebaliknya mereka yang meragukan kebenaran Al-qur'an (orang musyrikin) adalah orang yang paling padai dan mengerti dengan bahasa arab, namum tidak satu pun yang mampu mendatangkan walau satu surat semisal dengan Al-qur'an


Tafsiran ayat 24 :
فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا
{"dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya)"}
Huruf "لن" pada ayat menafikan hal tersebut untuk selamanya, yakni mereka tak akan mampu membuat semisal Al-qur'an sampai kapan pun.

Tidak mungkin ada manusia yang dapat melakukannya. Al-Qur'an merupakan Kalamullah Tuhan Yang Maha Menciptakan segala sesuatu,  mustahil Kallamullah dapat diserupakan dengan kalam makhluk-Nya.
فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَة
{" peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu "}
Kata (وَقُود) pada ayat secara hafriyah artinya bahan bakar, maksudnya disini adalah sesuatu yang dimasukkan kedalam api guna menyalakannya seperti kayu dan sejenisnya.
Allah berfirman:  "Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam" {al-jin :15}

Adapun (َالْحِجَارَة) atau batu disini adalah sejenis batu kibrit/belerang yang keras hitam besar dan berbau tidak sedap. Dan batu ini sangat panas jika dinyalakan.
Saddi berkata dalam tafsirnya, dari Abi Malik, dari Abi Salih, dari Ibnu Abbas, dari Marroh dari Abi Mas'ud dan dari banyak sahabat menjelaskan bahwasanya (َالْحِجَارَة) dalam ayat tersebut adalah batu belerang hitam yang ada dalam neraka.
Mujahid mengatakan bahwa (َالْحِجَارَة) ini berasal dari batu belerang/kibrit yang baunya lebih busuk daripada bangkai.
Ada juga yang berpendapat bahwa batu ini merupakan batu dari berhala-berhala orang kafir. Allah berfirman:
"Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya." {Anbiaya :98}

أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِين
{"yang disediakan bagi orang-orang kafir"}
Ulama-ulama sunnah banyak yang berpendapat bahwa ayat ini menunjukkan neraka itu ada sekarang.
Ada ada banyak hadits yang menguatkan keberadaan neraka itu ada saat ini diantaranya:

Dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a.:
سَمِعْنَا وَجْبَةً فَقُلْنَا مَا هَذِهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هَذَا حَجَرٌ أُلْقِيَ بِهِ مِنْ شَفِيرِ جَهَنَّمَ مُنْذُ سَبْعِينَ سَنَةً الْآنَ وَصَلَ إِلَى قَعْرِهَا"
Kami pernah mendengar suatu suara gemuruh, lalu kami bertanya, "Suara apakah itu?" Maka Rasulullah Saw. menjawab, "Itu adalah suara batu yang dilemparkan dari pinggir neraka Jahannam sejak tujuh puluh tahun yang silam, dan sekarang baru sampai ke dasarnya."
Disarikan dari:
Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim
Tafsir Kalam Al-Mannan

Penerjemah:
Tim Tafsir divisi TSI-PSDM ODOJ

Komentar

Postingan Populer